Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Menjanjikan Satu Hal


__ADS_3

Di sepanjang lorong rumah sakit kini tubuh Daren tengah di dorong di atas brankar rumah sakit yang telah di sediakan, tak luput dari itu Freya setia menemani Daren dengan terus menggenggam tangannya yang sudah


terasa dingin ketika dia genggam. Dokter berusaha keras untuk menghentikan pendarahan dari tubuh Daren. “Kak bertahanlah kak, aku mohon.”


Entah kenapa Freya benar-benar takut akan kondisi Daren namun tak lepas dari itu dirinya terus berdoa mendoakan yang terbaik agar Daren selamat, agar dia baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu


yang buruk kepada Daren. “Ya tuhan tolong selamatkan kak Daren, tolong lindungi dia.” Freya terus berdoa dalam hatinya untuk keselamatan Daren orang yang amat sangat dia cintai.


Ketika brankar sudah berada di depan ruang emergency room suster rumah sakit menghadang Freya untuk tetap berada di tempatnya. “Tolong silahkan tunggu di luar, anda tidak bisa masuk ke dalam. Dokter akan menanganinya di dalam.”


“Tapi sus,,,,” Freya berusaha menerobos tubuh suster yang sedang menghalanginya.


“Anda tolong patuhi aturan yang ada, kami pasti melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien.” Dan kini suster tersebut sudah menutup pintu ruangan yang menyisakan Freya yang tengah berdiri dengan  kekhawatirannya, cemas dengan keadaan Daren di dalam sana.


.


.


.


.


.


Terlihat Delano bersama dengan istrinya dan juga Lydia ibunya tengah berlari dan menghampiri Freya yang tengah terduduk di kursi dengan wajah tertunduk terus melihat ke arah bawah. “Daren !!” Kini Lydia sudah meneriaki nama anaknya karena khawatir berkepanjangan di sepanjang jalan setelah mendengar kabar anaknya yang kecelakaan.


Ibu mana yang tidak terkejut karena mendengar anaknya masuk rumah sakit, bahkan Lydia langsung bergegas pergi setelah mendengarnya tidak memperdulikan hal yang lainnya di pikirannya hanya ada nama Daren yang terus berputar di kepalanya. “Bagaimana keadaan Daren ?”


Freya yang melihat ibu mertua sekaligus bibinya itu langsung menghampiri dan mencoba menenangkan Lydia yang sudah pucat karena rasa khawatir, padahal Freya sendiri tidak kalah khawatirnya karena dia berada langsung di tempat kejadian. “Bibi tenanglah, bibi maafkan Freya.”

__ADS_1


Freya langsung menggenggam tangan Lydia dengan tangisnya yang sudah pecah. “Jika saja kak Daren tidak berusaha menyelamatkan aku pasti dia akan baik-baik saja dan tidak akan berakhir seperti ini, semuanya memang salah ku bi.” Melihat Freya yang menangis langsung saja Lydia menarik menantunya tersebut ke dalam pelukannya berusaha saling menguatkan satu sama lain.


“Jangan menangis Frey, anak ku. Jangan memikirkan apapun karena semuanya bukanlah salah mu. Bibi bahkan lega karena melihat mu baik-baik saja dan untuk Daren yakinlah dia akan baik-baik saja kita berdoa saja yang terbaik untuknya karena dengan doa kita harus yakin Daren akan selamat.”


Freya terus menangis di dalam pelukan Lydia di iringi dengan usapan lembut dari kakak iparnya yang juga ikut menenangkan Freya. “Sabar Frey, yakinlah semuanya akan baik-baik saja.”


Freya terus saja tidak tenang bahkan tidak jarang dia mencoba mengintip ke arah pintu tempat Daren berada, walaupun mustahil dia bisa melihatnya. Freya terus mengigit kuku jari-jarinya karena


merasa tegang dengan keadaaan Daren sekarang. “Kenapa lama sekali apa yang sedang terjadi.”


Melihat Freya yang begitu gelisah Lydia langsung menarik lengan Freya dan mendudukkannya di kursi panjang di sampingnya. “Tenang nak pasti sebentar lagi dokter akan memberikan kabar bahagia kepada kita.”


Semua orang merasa lega karena melihat dokter yang sudah berada di dalam sana selama hampir satu jam membuat kekhawatiran yang di rasakan semua orang sedikit berkurang. “Bagaimana keadaan anak saya dok ?”Lydia mengawali pembicaraannya kepada dokter.


“Dia sudah baik-baik saja sekarang bu, dia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Namun untuk saat ini dia butuh waktu untuk sadar dari komanya.” Mendengar perkataan dokter awalnya merasa lega karena Daren sudah melewati masa kritisnya namun mereka juga seketika itu langsung kecewa karena Daren belum menyadarkan dirinya.


“Apakah kami bisa langsung menemuinya ?”


“Baik dok, terimakasih.” Ucap Lydia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Freya kini berada di dalam ruang ICU setia menemani Daren yang terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit, sudah hampir beberapa hari namun tidak ada tanda-tanda Daren akan membuka matanya tersebut bahkan itu malah menambah beban dalam pikiran Freya. “Kak kenapa kakak belum sadar sampai sekarang.”


Freya terus berusaha agar tidak menangis terus menerus karena hanya itu salah satu hal yang bisa dia lakukan saat ini. “Apa kakak tidak mau bangun sekarang juga, apa yang menahan mu di alam bawah sadar mu saat ini. Kenapa mata ini tidak mau terbuka juga.” Kini tangan Freya terulur untuk menyentuh kedua kelopak mata Daren.


“Dan bibir ini, bibir kejam ini yang selalu saja merutuki ku aku rindu sekali dengan teriakan yang kau lontarkan setiap hari kak.” Begitulah Freya terus mendefinisikan sesuai hatinya tentang fungsi dari seluruh indra yang menempel di seluruh tubuh Daren.


“Baiklah sepertinya aku harus menjanjikan satu hal agar kakak segera bangun dari tidur mu yang lelap ini. Karena aku tahu itu adalah hal yang selalu kakak inginkan selama hidup bersama ku. Aku berjanji bukan bahkan aku


bersumpah aku akan segera pergi dari kehidupan kakak yang sempurna menghilang dari hidup kakak, agar kak Daren bisa menemukan wanita yang sempurna yang selalu kakak idam-idamkan.”


Hati Freya sebenarnya sangat sakit setelah mengucapkan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, namun di rasa itu adalah hal yang terbaik untuk semuanya untuk dirinya dan Daren tentunya. “Kakak harus segera sadar agar kakak percaya bahwa aku sungguh-sungguh dan tidak berbohong. Sadarlah dan lihat kali ini aku tidak berbohong, sadarlah dan segera nikmati hidup yang kak Daren idamkan selama ini.”


“Aku tidak akan pergi jika kak Daren tidak tidak sadar juga, maka dari itu segeralah bangun jangan terus-terusan menutup mata mu. Pukul aku jika aku berbohong kepada mu kak. Kak,,,,” Freya sudah tidak


sanggup untuk melanjutkan perkataanya.


Sementara Lydia hanya bisa menangis setelah mendengar penuturan Freya betapa tersiksanya Freya selama ini karena kehidupan rumah tangganya bersama Daren. Namun kesedihannya hilang setelah Freya memanggil namanya memberitahunya bahwa Daren mulai sadar dari komanya.


“Bi, bibi, bibi kemarilah lihatlah kak Daren mulai menggerakan tangannya dan lihatlah matanya itu dia seperti akan segera bangun.”  Freya terlihat begitu antusias karena melihat kondisi Daren saat ini.


“Del, Delano cepat panggil dokter untuk memeriksa keadaan Daren.” Terlihat semua orang bernafas lega karena mendengar Daren sedang berusaha sadar dari alam bawah sadarnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa like ya teman-teman  pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......


__ADS_2