
Tidak seperti biasanya kini Daren terlihat tidak fokus dengan pekerjaannya dia kesal melihat Freya yang sedang fokus dengan komputer yang di tatapnya. “Ingin rasanya aku jadi komputer itu, agar dia hanya menatap ku saja. Aku banting juga Komputernya.” Hingga ide pun muncul di tengah-tengah makiannya.
“Freya.” Daren sudah menghampiri mendekat dan tengah berdiri dengan sombongnya. “Ikutlah dengan ku bawa semua file yang sedang kamu kerjakan dan tas mu juga bawa saja, matikan saja komputer itu.” Padahal berniat merebut hati Freya namun lihat dari caranya berbicara sungguh arogan.
“Huh ?” Freya bingung untuk apa dia membawa semua pekerjaannya dan harus di bawa kemana, apa lagi yang salah padahal dari tadi Freya berpikir dirinya hanya duduk dan bekerja “Mau di bawa kemana bos ?”
“Bawa saja dan ikuti aku.” Sebagai bawahan tidak ada hak untuk menolak, jadilah penurut yang sebenarnya. Namun dahi Freya semakin mengernyit karena Daren masuk kedalam ruangannya, penyiksaan apalagi kali ini.
“Kak kenapa aku membawa semua tugas ku kesini ?” Walau bingung tapi tubuhnya tetap menurut mengikuti sampai ke dalam ruangan. “Pekerjaan ku belum selesai dan aku harus menggunakan komputer untuk mengetiknya.”
“Duduklah.” Terkejut itulah yang di rasakan Freya, kenapa ada dua kursi yang saling berdampingan di meja Daren, dia tidak bermaksud menyuruhnya untuk duduk di kursi itu kan, apa dia benar-benar sakit kali ini, tapi Daren terlihat sehat jika dilihat dari segi fisiknya. “Duduk di sebelah ku Frey. Atau kau ingin duduk di pangkuan ku ?”
“Hah ?” Apa ada setan yang merasuki Daren kenapa dia jadi aneh dan bersikap tidak seperti dirinya saja dan ada apa dengan kalimat godaan itu, benar-benar bukan seperti dirinya. “Baiklah, lalu aku harus menggunakan apa untuk mengetik tugas ku ?”
“Pakai komputer ku, aku akan menggunakan laptop.” Kini Daren sudah mengeluarkan laptop dengan gambar apel yang tergigit sedikit dan mulai menyalakan laptopnya. “Duduklah di sini.” Kini Daren sudah menepuk-nepuk kursi yang bersebelahan dengan kursinya.
“Baik.” Tidak bisa membantah karena bos selalu benar.
Selama bekerja Freya merasa risih karena sedari tadi Daren hanya menatap dirinya yang sedang mengetik, bukannya terlalu percaya diri namun Freya bisa merasakannya walau dia tidak berani menoleh ke arah Daren. “Ada
apa dengannya kenapa menatap ku seperti itu, membuat gugup saja.”
“Kak Daren, apakah pekerjaan kakak sudah selesai ?” Jika tidak ada orang lain Freya memang selalu memanggilnya kakak, namun berbeda jika ada orang lain di sekitarnya kecuali orang-orang terdekat yang mengetahui hubungan Daren dan Freya. “Sepertinya kakak santai sekali ?”
“Tidak, aku hanya sedang berpikir mencari ide untuk desain selanjutnya. Apakah pekerjaan mu sudah selesai ?” Daren tersenyum ke arah Freya, bukan manis tapi itu terlihat menyeramkan di mata Freya seperti senyuman Daren bukanlah hal yang wajar.
__ADS_1
“Sedikit lagi.”
“Jangan di paksakan lagi pula sebentar lagi istirahat makan siang, ayo makan siang bersama.” Freya tersedak ludahnya sendiri mendengar perhatian dari Daren dan juga ajakan makannya. “Tapi kita makan disini saja kita pesan saja makanannya.”
Tiga serangkai bukannya tidak melihat bahkan ruangan Daren yang terlihat hanya karena batasan kaca bening membuat siapapun bisa melihat kelakuan Daren yang tidak seperti biasanya, selama bekerja dirinya hanya menatap Freya dengan senyuman yang selalu mengembang di kedua sudut bibirnya. Mereka tidak ingin menggangu karena yakin Daren sudah terkena penyakit bucin akut.
.
.
.
.
“Kenapa dia menyebalkan seperti ini.” Gumam Freya dalam hatinya karena dia bisa merasakan Daren mencuri pandang dengan kegiatan Freya yang sedang bertukar pesan di waktu istirahatnya. Daisy bertanya kenapa Freya tidak makan siang bersama dengan mereka, merasa tidak enak bahkan dirinya berbohong jika banyak pekerjaan yang belum selesai.
Jam pulang kantor tiba dan Freya segera bergegas tidak ingin berlama-lama bersama dengan Daren yang di rasa sangat aneh hari ini. “Kak Daren Freya pamit duluan.”
“Iya hati-hati.” Daren tersenyum penuh arti membuat Freya bergidik ngeri melihatnya, apakah ini adalah akhirnya pikir Freya.
Freya tengah asik mengobrol dan tertawa riang dengan yang lainnya, namun tidak lama tawanya sirna berganti dengan rasa terkejut karena kini sudah ada Daren bersama komplotannya siapa lagi jika bukan tiga temannya itu. “Kak Daren, kenapa kakak ada disini ?” Tanya Freya sedikit gugup karena kedatangan Daren yang mendadak.
“Tentu saja aku khawatir jika istriku minum berlebihan.” Semua orang yang berada di sana terkejut bukan main bahkan James yang sedang minum pun tersedak dengan perkataan Daren. “Jika sayang ku ini mabuk siapa yang akan mengantarnya.” Kini Daren sudah tersenyum ke arah Freya dan menggeser Daisy yang tengah duduk bersampingan dengan Freya, paham maksud Daren Daisy berpindah tempat duduk dan mempersilahkan Daren.
“Suami ?” Kini kata itu keluar dari mulut James dan Bella karena hanya mereka yang belum mengetahui siapa sebenarnya suami Freya.
__ADS_1
“Iya aku adalah suami Freya, suami tercinta dari istriku yang cantik dan menggemaskan ini.” Kini tangan Daren sudah terulur merapihkan helaian rambut yang berada di wajah Freya dan meyampirkannya kebelakang telinganya. “Kenapa kau tidak minum sayang ?”
“A.. aku lemah terhadap alkohol.” Freya sudah bergetar hebat karena tindakan tidak terduga dari Daren yang bersikap implusif. Bukan Daren tidak tahu dia sangat tahu kalau Freya tida bisa minum alkohol banyak namun baginya kelemahan Freya adalah keuntungan baginya.
“Aku tidak percaya, coba ini minumlah.” Daren menyodorkan minuman kepada Freya, Daisy sudah terlihat khawatir karena melihat Daren memaksa Freya untuk meminumnya namun dirinya seperti tidak ada hak karena Daren
adalah suami Feya. “Sayang minumlah.”
Awalnya Freya menolak namun dirinya tidak bisa karena Daren bahkan menyodorkan dengan paksa minumannya kedalam mulut Freya. “Sayang minum lagi, jika tidak minum kamu mau minum dengan cara yang lain.” Dengan berat hati Freya sudah meminum beberapa gelas dan membuat kesadarannya perlahan menghilang.
Freya sudah bersandar di bahu Daren dengan kedua tangan yang sudah melingkar di lehernya, sementara kedua lengan Daren sudah memegang pinggang Freya dengan erat. “Karena istri ku mabuk aku pamit pulang duluan, kalian lanjutkan saja minumnya. Hari ini aku yang traktir, maaf sudah merepotkan.” Segera Daren memangku tubuh kecil Freya dan membawanya menjauh dari yang lainnya dengan senyuman yang terus terukir dari kedua sudut bibir Daren.
“Kini kamu akan selamanya jadi milik ku Freya.”
“Hemmm kak Daren....”
“Iya sayang mari kita pulang.”
.
.
.
.
__ADS_1
Jika kalian suka jangan lupa likenya kawan-kawan pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar juga biar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......