
Freya kembali dari toilet namun dia melihat Daren tengah marah-marah dan itu membuatnya kebingungan. “Apakah aku terlalu lama di dalam kamar mandi, lagi pula siapa yang memerintahkannya untuk menunggu ku.” Freya pun berjalan dan mulai mendekati Daren.
“Kak kenapa ?” Daren yang tidak mendengar dan melihat kedatangan Freya sedikit terkejut.
“Tidak ada apa-apa aku hanya sedang kesal saja.”
“Kesal kenapa ?” Tanya Freya penasaran.
“Tadi ketika kau pergi ke kamar mandi ada laki-laki yang tidak jelas bersama dengan rombongan tengiknya mendatangi ku.” Daren bercerita sembari menggenggam tangan Freya dan menuntunnya untuk berjalan meninggalkan tempatnya sekarang. Daren tidak menceritakan tentang buket bunga yang di berikan laki-laki terebut.
“Lalu.” Freya masih tidak sadar karena lebih tertarik akan cerita yang akan di sampaikan Daren.
“Mereka mengatakan kamu sebentar lagi lajang, apa coba maksud mereka. Ingin ku cincang mereka satu persatu.” Mendengar kata lajang secara mendadak Freya menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Daren. Mendadak Daren ikut terhenti dan juga melihat ke arah Freya.
“Kenapa ?” Tanya Daren penasaran karena Freya tiba-tiba berhenti.
“Bukankah perkataan laki-laki tersebut tidak salah, bukankah kita akan segera bercerai.” Tatapan Freya tegas menatap ke iris mata Daren.
“Apakah kamu mencoba mempermainkan aku, bukankah sudah ku katakan kita tidak akan pernah bercerai dan kamu tidak akan pernah lolos dari ku.” Daren semakin menggenggam erat tangan Freya seakan detik itu juga Freya
akan segera melarikan diri darinya.
“Jadi kamu yang sudah menyebarkan bahwa kamu akan bercerai dan menjadi lajang kembali ?”
“Aku tidak menyebarkannya, hanya saja....” Kata-kata Freya tertahan dan bertanya dalam hatinya haruskan dia jujur.
“Hanya saja apa !” Daren mulai tidak sabar dan meninggikan suaranya. “Jawab Freya !”
“Hanya saja aku menceritakan bahwa kita akan bercerai kepada teman-teman ku Daisy dan yang lainnya.” Sontak perkataan Freya seperti memancing kemarahan Daren, Freya berusaha melepaskan genggaman tangan Daren dengan sekuat tenaga dan berlari meninggalkan Daren.
Belum jauh Freya mencoba meninggalkan Daren tangannya di genggam kembali oleh Daren. “Jangan berpikir kamu bisa melarikan diri setelah menyebabkan masalah.” Kini Daren sudah menatap tajam ke arah Freya.
“Kau pikir aku akan diam saja.” Perkataan Freya seakan menantang Daren yang sudah menahan amarahnya.
“Dia ini wanita macam apa ? Bagaimana dia bisa begitu tak tahu malu ? Kamu pikir kamu bisa menceraikan aku ?”
“Kamu pikir aku akan menuruti omongan mu ?” Daren semakin geram dan menarik paksa Freya agar segera menuju parkiran tidak akan dia biarkan Freya bertindak semaunya.
__ADS_1
“Aku bersabar karena kamu adalah istriku.”
”Sebentar lagi aku bukan lagi istrimu.” Mendengar itu ingin rasanya Daren melampiaskannya dengan meninju seseorang, bukan lagi istrinya jangan harap impiannya akan terwujud.
.
.
.
.
.
Sementara Daisy, Bella dan juga James kaget karena mengetahui tentang berita yang sedang trending di kantor, dari mana pikir mereka seluruh kantor mengetahui bahwa Freya akan bercerai.
“Jangan-jangan ketika kita tadi di kantin.” James mencoba menerka-nerka tentang dari mana akar masalahnya yang membuat berita tentang perceraian Freya tersebar luas.
“Ah iya James sepertinya memang ketika kita makan di kantin, ya ampun banyak sekali telinga di kantor ini.” Daisy mengumpat kesal, selalu saja ikut campur masalah orang lain.
“Memang kurang ajar ini, mana mereka menjelek-jelekan Freya lagi. Kayak mereka udah bener aja. Kalau aku tahu siapa yang menyebar luaskan berita ini akan aku tonjok nggak peduli dia cewek juga.” Kemarahan Bella meningkat karena mendengar berita yang tidak benar tentang Freya.
“Sudah-sudah yang paling penting sekarang gimana keadaan Freya, pikirin gimana kalau dia tahu berita yang sedang terjadi ke kantor. Pasti dia bakalan sedih” James lebih fokus tentang keadaan Freya nantinya apakah dia akan sedih jika mengetahuinya.
“Iya kamu bener James, aku semakin yakin agar Freya berpisah saja dari laki-laki seperti dia kau lihat sendiri kan bukannya kebahagiaan yang dia dapatkan tapi malah hujatan dari seluruh karyawan kantor.”
Daisy hanya bisa diam jika hal tersebut sudah menyangkut masalah pernikahan Daren dan juga Freya dia tidak ingin ikut campur dan memberikan pendapat tentang benar atau tidak benar akan perpisahan Freya, karena segala keputusan pastinya hanya Freya yang bisa memutuskannya.
Dengan siapapun yang penting Freya bahagia dan tidak akan pernah menyesal dengan semua keputusannya.
“Cepat kau rebut hati Freya James jangan biarkan dia terus menderita.” Bella semakin bersemangat dalam menjadi mak comblang Freya dan juga James.
“Iya aku akan melakukan yang terbaik.”
.
.
__ADS_1
.
.
.
Di sepanjang perjalanan Daren hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun bahkan melirik ke arah Freya pun tidak. Dia masih kesal dengan perkataan Freya yang selalu saja berhasil menyulut emosinya, Daren hanya fokus ke arah depan jalan dan segera memasukan mobilnya di depan rumah mereka setelah mereka sampai.
“Turunlah !” Daren segera membuka pintu mobilnya dan pergi meninggalkan Freya yang tertinggal di belakangnya.
“Kak Daren !” Freya memanggil Daren mendengar namanya di panggil Daren pun menghentikan langkahnya.
“Ada apa ?” Tanya Daren dengan malas.
“Ada apa ?” Freya tersenyum sinis ke arah Daren.
“Kakak yang sebenarnya maunya apa ? Bukankah kakak yang awalnya ingin kita bercerai, aku menurut dan memberikan kemudahan kepada kakak, jadi sekarang apalagi yang
kakak inginkan.” Freya mulai jengah dengan tingkah laku Daren yang tidak bisa dia mengerti.
“Tapi sekarang aku tidak ingin kita bercerai !” Daren sudah membentak Freya yang membuatnya terlonjak kaget.
“Kenapa, apa karena uang kompensasi itu. Aku sudah membebaskan kak Daren tidak usah lagi kakak mengkhawatirkan soal uang, aku akan bercerai dengan kakak tanpa uang kompensasi. Kakak bisa menikahi wanita yang kakak cintai dan sebanding dengan kakak, wanita sempurna yang kakak impikan.” Kini air mata sudah lolos dari kedua mata Freya membuat Daren ikut merasakan sakit yang Freya rasakan saat ini.
“Dengarkan aku Freya, aku tidak mengkhawatirkan masalah...” Belum sempat Daren melanjutkan perkataanya Freya sudah tidak ingin lagi mendengar alasan atau apapun dari mulut Daren.
“Sudahlah aku tidak ingin mendengarnya.” Dengan langkah cepat Freya meninggalkan Daren yang masih setia berdiri mematung melihat ke arah Freya yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
“Tidak bisakah dia mengerti tentang perkataan ku waktu itu bahwa aku sudah jatuh cinta kepadanya, bahwa aku melakukannya karen aku tidak ingin kehilangannya. Kenapa dia tidak ingin percaya dengan semua kata-kata ku, sebegitu beratkah hanya untuk bisa mempercayai ku ?”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa like ya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......