
Daren yang masuk kedalam ruang persalinan begitu lunglai dan tidak bertenaga namun dia berusaha merubah ekspresi wajahnya dan terlihat lebih tenang di hadapan Freya.
“Kak Daren, kenapa ?” Tanya Freya cemas yang melihat Daren seperti sedang menutup-nutupi sesuatu.
“Tidak apa-apa aku baik-baik saja.” Ucap Daren berbohong kepada Freya.
“Jangan berbohong kepada ku kak, aku tahu ada yang sedang kakak sembunyikan.” Daren masih diam tidak berniat menjawabnya. “Baiklah aku akan menanyakan langsung kepada dokter.”
“Tidak, jangan tidak perlu.” Daren kacau karena di saat seperti ini dia menyadari bahwa dirinya tidaklah berguna.
“Bukankah kakak yang mengatakan bahwa kita tidak boleh saling berbohong satu sama lain dan lihatlah apa yang sedang kakak perbuat sekarang.” Freya tersenyum dengan menahan rasa sakit di tubuhnya.
Daren pun menceritakan semuanya yang dia bicarakan dengan dokter, Daren terkejut melihat ekspresi Freya yang hanya tersenyum mendengarnya. “Kenapa kamu tersenyum ?”
“Tidak apa-apa kak, hanya saja kenapa harus bersedih bukankah harusnya kita bahagia karena bayi kita akan segera
__ADS_1
lahir.” Daren sungguh tidak mengerti dengan jalan pikrian Freya.
“Apa maksud mu, jangan pernah mengatakan seolah-olah kamu sudah siap untuk pergi ?” Daren sudah marah karenanya. “Kita hanya perlu menunggu dan pendonor itu pasti ada, aku sudah mengerahkan seluruh usaha agar
pendonor itu datang hari ini juga.”
“Tapi aku pasti sudah tidak bertahan untuk menerima donor tersebut. Aku sudah merasakannya kak Daren aku merasa aku tidak bertahan.” Freya mengatakannya dengan suara serak menahan air mata yang sudah menggenang.
“Kak Daren jika aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi kamu harus merawat anak kita dengan baik.” Menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Tidak FREYA !” Bentak Daren seketika. “Omong kosong apa yang sedang kamu ucapkan ?” Daren menatap tajam ke arah Freya dia kesal karena Freya memiliki pemikiran seperti itu.
“Kak Daren, dengarkan aku. Setiap pertemuan selalu datang bersama dengan perpisahan. Semuanya pasti pergi.”
“TIDAK !” Daren menepis kasar tangan Freya bahkan dia tidak ingat kondisi Freya saat ini. “Kamu !” Daren pun berdiri dan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
“Kita itu akan terus bersama, apa kamu mendengarnya ?” Daren bahkan menunjuk wajah Freya dengan jarinya. “Apakah kamu tidak ingin melihat anak kita belajar untuk berjalan, apa kamu tidak ingin mendengar mereka bebicara dan memanggil mu dengan sebutan mami ?”
“Aku katakan sekali lagi kita akan selalu bersama dan melihat anak kita bertumbuh kembang bersama. Melihatnya pergi kesekolah melihatnya pergi kuliah. Apakah kamu tidak ingin membangun rumah tangga dengan ku ?”
Freya terus menangis tersedu membuat Daren tersiksa melihat tangisan Freya, dia pun mendekat dan mendekap erat tubuh Freya. “Aku juga ingin seperti itu kak, aku juga ingin. Satu yang tidak aku inginkan yaitu berpisah dari kalian.”
Daren terus mengelus-elus kepala Freya yang kini berada dalam dekapannya. “Jadi tunggulah dan kita akan mendapatkan kabar baik dari rumah sakit, akan kupastikan keinganan ku dan keinginan mu segera terwujud dan kita bisa hidup bahagia bersama.”
“Jadi sampai saat itu bertahanlah dan jangan pernah berani pergi dari ku !” Freya pun hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.
.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🍂🍂🍂🍂🍂🍂
.
__ADS_1
Like, like, like, komen, komen, komen, vote, vote, vote. Bintang lima jangan lupa....
Yah mungkin ini episode mendekati akhir karena rencananya novel ini akan segera tamat terimakasih untuk semua orang yang sudah mendukung novel ini semoga merasa terhibur, mungkin ini novel yang kurang menarik jdi maafkan saya jika masih banyak kekurangan.