
Kedua lutut Freya sudah bergetar dengan hebatnya menahan rasa takut dalam dirinya, sungguh kesalahan itu masih di pertanyakannya. Setelah jaraknya antara dirinya sudah cukup dekat, Freya memberanikan diri untuk bertanya karena sedari tadi suara lentingan yang telah memanggilnya itu hanya berdiam diri saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Kak Daren ada apa ?”
Daren tersadar dari lamunannya dan baru menyadari ternyata Freya sudah berada di hadapannya sebenarnya dirinya bingung harus mengatakan apa karena dia tanpa sengaja memanggil nama gadis pembuat onar itu. “Hmmm,, emmm,, itu nanti setelah pulang kerja kau ikut bersama kami ke club malam nanti.”
Entah kenapa ide itu yang terpikirkan oleh Daren, dirinya pun tidak sadar mengatakan hal tersebut karena dirinya merasa tersudutkan. Sementara Freya hanya bisa bernafas lega mendengar perkataan Daren, tapi sebentar sebenarnya malam ini Freya berniat untuk tidur saja karena lelah semalaman menjaga Daren hingga dirinya kurang tidur. “Apa sebaiknya aku coba tolak saja.” Itulah isi pikiran Freya.
“Begini kak sebenarnya aku sangat lelah dari kemarin bisa tidak aku tidak usah ikut saja, aku hanya akan tidur di rumah saja.” Bertanya dengan penuh hati-hati takut kena amukan bisa bahaya.
“Tidak bisa tidak ada penolakan. Sudah kembali ke tempat kerja mu.”
“Ta.. tapi kak.” Belum sempat Freya melayangkan protesan kini hanya tatapan tajam yang di terima membuat nyali Freya langsung turun dan hanya bisa mengikuti perintah suaminya yang selalu berkuasa ini. “Baiklah.”
.
.
.
.
.
.
.
Kini mereka berlima sudah berada di club malam sambil duduk menikmati makanan ringan dan minuman yang sudah di sediakan. Tiga serangkai kini tengah sibuk menari di antara yang lainnya dan Freya hanya bisa duduk canggung karena sedari tadi Daren hanya menatapnya dan tak mengalihkan pandangannya.
Sesekali Freya mencoba menghindari tatapan mata Daren mencoba menghilangkan rasa canggungnya dan sesekali pula dia menguap lebar sembari di tutupi oleh punggung lengannya, sungguh ingin rasanya Freya segera kembali ke rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.
Di sela-sela perhatiannya terhadap Freya suara pesan masuk ke dalam ponsel Daren. Dilihatnya nomor yang tidak dia kenali dan ternyata itu adalah pesan dari Emily. Tidak ada jeranya wanita itu pikir Daren bahkan kini dirinya sudah menggunakan nomor lain setelah nomor Emily di blokir oleh Daren.
Dalam pesan itu berisikan pesan yang membuat Daren merasa jijik kenapa wanita itu tidak ada hentinya mencoba mendekatinya setelah secara gamblang Daren menolaknya mentah-mentah. Hingga sebuah ide muncul dalam benak Daren bagaimana caranya menyingkirkan wanita itu yaitu dengan menggunakan Freya, lagi pula bukankah itu tujuan dirinya menikah dengan Freya.
Setelah mengirim pesan kepada Emily untuk menemuinya dan mengatakan bahwa dirinya berada di club namun tak mengatakan bahwa dirinya bersama dengan yang lainnya, kini ponsel tersebut sudah daren simpan kembali ke dalam saku celananya dan menarik diri mendekat ke arah Freya yang sudah duduk di ujung sofa club tersebut.
__ADS_1
Melihat Daren yang mendekat tentu saja membuat Freya sedikit terkejut. “A,, a,, ada apa kak ?” tanya Freya gugup. Namun bukannya menjawab pertanyaan Freya kini tangannya sudah menyentuh rambut Freya dan memainkannya. Bahkan tubuhnya kini sudah menempel dengan tubuh Freya membuat jantung Freya berdetak dengan cepatnya seperti sedang lari maraton.
“Tidak ada apa-apa aku hanya ingin memandangi wajahmu yang cantik ini.” Bahkan kini Daren sudah terlalu jauh dirinya sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Freya dan menghisap aroma tubuh Freya sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping itu.
“Kak jangan seperti ini aku mohon.” Mencoba menggeser Daren dengan menggoyangkan sedikit tubuhnya.
“Diamlah.”
.
.
.
.
.
.
.
“Ada apa ini Daren, aku kira kau sendiri berada disini.” Daren masih menghiraukan pertanyaan Emily dan masih sibuk membenamkan wajahnya di leher Freya, sebenarnya Freya merasa risih namun bagaimana lagi tenaganya tidak lebih kuat dari Daren yang sedari tadi memeluknya erat.
“Daren !!” Emily mulai kehabisan kesabaran.
“Ada apa ?” Tanya Daren santai “Kau menganggu saja.”
“Ada apa ?” tanya Emily tidak percaya “Bukankah kau yang memerintahkan aku untuk menemui mu.” Pernyataan Emily membuat Freya menautkan kedua alisnya ada apa sebenarnya yang sedang terjadi kini. Sementara tiga serangkai sudah mendekat ke arah Daren namun tidak satupun dari mereka membuka mulutnya hanya untuk sekedar bertanya Ada apa.
“Oh aku lupa, maafkan aku karena aku sibuk dengan istriku jadi tidak sadar karena kini dia sudah menyihir aku dengan kecantikannya.” Mulut Jeff menganga lebar mendengar perkataan Daren diikuti dengan Sean dan Levon ‘istri !’ bukan kah mereka adalah saudara, kini tiga serangkai hanya saling memandangi satu sama lain mencoba mencari tahu apakah ada yang tahu bahwa Freya adalah istri Daren dari salah satu mereka namun sayang raut wajah ketiganya mengatakan bahwa ‘aku tidak tahu.’
“Lalu untuk apa kau membuatku mendatangi mu ?” Tanya Emily menggebu-gebu.
“Untuk menunjukan cinta kami berdua kepadamu. Menunjukan bahwa aku sangat mencintai Freya dan begitu juga sebaliknya, benarkan ?” Daren mencari pembenaran dari Freya dengan menatapnya lembut namun otak istrinya masih dalam proses loading mencoba mencerna kata-kata Daren, karena tidak ada respon di tempelkannya bibir Daren di sebelah pipi Freya dan memiringkan wajahnya membisikan sesuatu “Katakan iya jangan diam saja.”
__ADS_1
“Benarkan sayang kalau kita saling mencintai ?” tersenyum ke arah Freya.
“Ah, iya, iya tentu kita saling mencintai.” Kini Freya menatap tajam ke arah Emily menunjukan mau apa lagi kau. Mendengar pernyataan keduanya membuat Emily berdecak kesal dan menghentakan kedua kakinya degan keras di atas lantai tidak terima dengan perlakuan Daren kepadanya.
Kini kedua pasang bola mata tersebut saling memandangi satu sama lain tanpa sadar keduanya masih berdekatan dengan jarak beberapa centimeter saja. “Jadi suamimu adalah Daren ?” Jeff sungguh membuyarkan adegan romantis keduanya dan dengan cepatnya Freya langsung berpindah ke tempat duduknya semula.
“Jawab Daren !!” Teriak Sean dan Levon kompak.
“Apa ?” Daren masih berpura-pura tidak tahu. Namun karena tatapan intimidasi dari teman-temannya dirinya hanya menganggukan kepalanya.
Melihat anggukan Daren Jeff hanya terkulai lemas kenapa dari sekian banyak pria harus Daren yang menjadi suami Freya, jadi selama ini mereka sudah di bohongi oleh pasangan suami istri yang berada di hadapan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
__ADS_1
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞