
Pagi yang cerah nampak sang surya mulai menampakan sinarnya dan entah mengapa pagi itu ada angin baik dari arah manakah yang menerpa Daren kini dia sudah mengajak Freya untuk berangkat bersama menuju kantor, yang
artinya mereka akan berada dalam satu ruangan yang sama yaitu berada dalam mobil yang sering mengantar Daren kemanapun ia pergi. Sungguh perhatian kecil yang diberikan Daren membuat perasaan bahagia yang tidak bisa di definisikan oleh apapun. Mendengar ajakan dari Daren tentu saja tanpa harus berfikir dua kali sungguh
dengan senang hati akan diterima Freya, siapa yang tidak ingin menerima ajakan laki-laki yang amat di cintainya itu.
“Cepatlah Frey, atau aku undurkan niatku untuk mengajakmu berangkat bersama !” kini mode marahnya mulai menyala.
“Iya kak tunggu sebentar.”
Dia memang sungguh tampan dan menawan tapi jangan lupakan pula dibalik wajahnya ada perkataannya yang selalu menaikkan emosi jika mendengarnya saja. Akhirnya dengan persiapan secepat kilat dari ajakan Daren yang seperti kilat juga kini Freya sudah siap untuk berangkat bersama dengan Daren, selama dalam perjalanan senyuman di wajah Freya tak pernah luntur sekalipun. Entah kenapa dirinya kini seperti orang bodoh, dan ya memang selalu terlihat bodoh jika sedang bersanding dengan laki-laki idamannya.
“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu apa kau sudah gila ?” melihat ke arah Freya sambil memicingkan matanya tajam.
“Ahahaha....” tersenyum canggung “Tidak apa-apa, hanya saja perasaanku sedang senang saja hari ini.” Merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol perasaannya.
Tanpa memperdulikan Freya yang tersenyum entah apa yang membuatnya seperti itu Daren kini hanya fokus menyetir mobilnya melaju dengan kecepatan sedang, tampak jalanan mulai ramai oleh pengendara yang lainnya yang pastinya mempunyai tujuan dalam diri mereka masing-masing, kini Daren berharap semoga dirinya bisa sampai tepat waktu dan selamat sampai di tujuan.
Jauh sebelum memasuki daerah kantor Daren kini laju roda mobilnya mulai melaju pelan menandakan bahwa dia akan berhenti, sehingga membuat penumpang yang berada di dalamnya bertanya-tanya. Padahal ke arah
kantor masih 200 meter lagi kenapa mereka berhenti di arena tersebut, apakah ada sesuatu yang tertinggal, hanya itulah yang ada dalam pikiran Freya.
“Turunlah.” Dengan ucapan yang santai.
“Hah ?” Freya bertanya bukan karena tidak mendengar perintah dari Daren tapi bingung apa maksud dari perkataannya.
“Apa harus aku ulangi lagi, selain membuat onar apa sekarang kau juga bermasalah dalam pendengaran ?”
“Bukan begitu maksudku kak, apa aku harus turun disini ?” mecoba meyakinkan Daren “Dan kenapa aku harus turun disini ?”
“Apa kamu lupa bahwa pernikahan kita tidak boleh ada yang tahu, kau mau membuat semua orang curiga aku bersama denganmu di dalam satu mobil.” Kini posisi tubuhny sudah berbalik menghadap ke arah Freya.
Dengan perasaan gontai seakan tekanan darah dalam dirinya menurun, dan senyuman yang kini tengah pudar dari sudut bibirnya digantikan dengan raut wajah kesalnya, akhrinya Freya hanya bisa mengikuti perintah dari
Daren, saking kesalnya Freya kini, dirinya menutup pintu mobil hingga terdengar keras suara bantingannya. Dan dengan sikap acuh dan masa bodoh tidak perduli apakah Freya marah, kini mobilnya sudah melaju meninggalkan Freya yang tertinggal jauh di belakang sehingga mengharuskan dirinya berjalan kaki menuju kantornya.
Setelah puas mengutuki Daren di sepanjang perjalanannya menuju kantor kini Freya sampai di pintu loby perusahaan dan langsung saja langkah kakinya dipercepat ketika menyadari pintu lift akan segera menutup, di
detik-detik terakhir Freya pikir pintu lift benar-benar akan menutup namun ternyata dugaannya salah karena pintunya tertahan dan terbuka kembali. Seketika dia melihat senyum cerah yang di tampilkan oleh James yang sedang menatap ke arah Freya, dan dilihatnya terdapat beberapa orang yang kini tengah berada di dalam lift, dan membuatnya berpikir apakah dia harus ikut masuk atau menunggu lift yang lainnya turun karena dilihatnya lift yang lainnya masih berada jauh di lantai atas dan membutuhkan waktu untuk menunggunya.
“Frey, ayo sedang apa kau berdiri.” Dengan sigap kini tangan Freya ditarik oleh James dan di gandeng dengan eratnya.
__ADS_1
Freya yang merasa kurang nyaman berusaha melepaskan pegangan tangan dari James merasa kini posisi mereka terlalu dekat, namun belum sempat dia melepaskan diri, kini malah dirinya terjerembab masuk kedalam pelukan James akibat ulah dari karyawan yang keluar dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan sekitarnya.
Dirasa di dalam lift kini terasa longgar entah kenapa tengkuk Freya terasa dingin, seperti ada seseorang yang memperhatikannya dari arah belakang. Kini Freya hanya mengusap tengkuknya yang mulai terasa dingin, dan dia berfikir apakah kini lift berpindah fungsi menjadi mesin pendingin, dengan ragu kini Freya melirik ke arah belakang dan betapa terkejutnya Freya ketika melihat Daren sudah menatap dirinya dengan tatapan siap menerkam dan
mencincangnya hidup-hidup, kenapa kini Freya merasa dirinya tengah terlihat berselingkuh di belakang Darena secara diam-diam, ah bukan di depan malah. Karena sekarang posisnya berada di depan Daren. Namun segera ia menepis pikiran konyolnya itu bagaimana dirinya masih bisa berpikir konyol dalam keadaan seperti ini.
Sungguh tidak ada keberanian dalam diri Freya bahkan hanya untuk tersenyum dan bertingkah bodoh sekaliapun di hadapan Freya, dia bingung dengan posisinya. Kini Freya hanya bisa memalingkan wajahnya dan menggeser tubuhnya ke arah lebih depan dari tempat berpijaknya kini, mencoba menghindar dari hawa dingin yang berada di belakangnya dan hal tersebut malah membuat Daren semakin geram. Daren mengira bahwa Freya sengaja karena sekarang di sampingnya ada James, laki-laki yang sudah berani menyatakan perasaannya kepada istrinya tersebut, walaupun Daren berusah bersikap masa bodoh tapi kenapa ada sebagian dari sudut hatinya terasa nyeri dan itu membuatnya terganggu.
Hal yang ditunggu Freya akhirnya terjadi pintu lift kini sudah terbuka lebar dengan sigap Freya menarik tangan James dan sedikit berlari mencoba menjauhi Daren. James hanya bisa tersenyum dan merasa gemas dengan
tingkah Freya secara tiba-tiba, kenapa dia menarik tangannya padahal jam menunjukan bahwa mereka tidaklah terlambat datang ke kantor. Tapi hal tersebut membuat James senang sehingga tanpa sadar senyuman sudah nampak di bibirnya kini.
Dengan napas yang kini sedikit tersenggal Freya melepaskan pegangan tangannya dari tangan James, segera diatur napasnya karena keterkejutan yang baru saja terjadi. Dan kini James hanya menatapnya dengan tatapan heran.
“Frey, apa kau baik-baik saja ?” mengusap punggung Freya perlahan sembari memperhatikan wajah Freya yang sedikit pucat.
“Ha...ha.. Ak..aku.. tidak apa-apa.” Menjawab dengan napas pendek-pendek.
“Lalu kenapa tadi kita lari apakah ada sesuatu Frey ?”
“Ti... tidak, ehmmm hanya saja aku kira kita telambat. Kau tau kan bos kita sangat galak.”
“Hahaha... ya ampun Frey aku kira ada apa.”
Kini Freya tengah sibuk mempersiapkan makan malam untuknya dan untuk Daren, Kini perhatinanya hanya fokus kepada panci yang berisikan sop yang sedang di masaknya, sehingga fokusnya kini beralih ketika terdengar suara
deru mobil dari halaman rumahnya. Yang menandakan bahwa kini tuan rumah sudah kembali setelah selesai dari pekerjaan kantornya.
Tidak ada angin ataupun badai bahkan gerimis sekalipun sungguh pernyataan Daren membuat Freya terkejut. Sehingga dengan cepat dia matikan kompor gasnya yang masih menyala, mecoba memastikan apakah dia salah mendengar tentang apa yang baru saja dikatakan Daren.
“Iya besok kamu harus berhenti Dari pekerjaanmu.” Memperjelas perkataannya kembali.
“Kak Daren meminta aku untuk berhenti bekerja ?” kini Freya mulai geram.
“Iya.” Menjawab dengan santainya sambil bertolak pinggang.
“Tidak mau.” Sembari menyimpan panci yang berisikan sop yang di masaknya ke dalam mangkuk besar yang telah dipersiapkan Freya sebelumnya.”Aku tidak ingin berhenti, aku sangat menyukai pekerjaanku.”
Sebenarnya alasan Daren meminta Freya berhenti bekerja lagi dan lagi adalah karena Emily, ketika di kantor Daren diminta oleh pak Beni untuk berhati-hati dan tidak menimbulan masalah terkait hubungannya dengan Emily, Beni meminta agar Daren tidak menyinggungnya dan menimbulkan masalah karena kini Emily adalah salah satu pemilik saham di perusahaan tersebut, tidak ingin urusan pribadi antara Daren dan Emily malah membuat perusahaan merugi.
“Bagaimana jika Emily mengungkapkan pernikahan pada semua karyawan kantor dan mereka semua tahu.”
__ADS_1
“Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak keberatatan, tapi disini kau yang takut pernikahan kita akan diketahui, kau yang pengecut.” Menekan dada Daren dengan telunjuknya “Dan kenapa aku harus berhenti.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, berhentilah bersikap kekanak-kanakan.” Mulai memarahi Freya dengan bernada tinggi tak kalah tinggi dari bentakan Freya. “Baiklah jika kau ingin bekerja besok aku akan mencarikan pekerjaan untukmu.”
“Aku tidak mau !” bentak Freya.
“Apa kau masih tidak mengerti ?” merasa geram terhadap tingkah Freya.
“Kau yang tidak mengerti, aku sudah mengatakan solusi terbaik adalah mengatakan pada semua orang bahwa kita sudah menikah.”
“Itu tidak mungkin.” Kini Daren beranjak dan hendak meninggalkan Freya yang tengah berurai air mata.
“Apa yang sebenarnya kamu takutkan ?” mencoba menghalangi langkah Daren dengan mencegatnya merentangkan kedua tangannya tidak membiarkan Daren lolos dengan mudahnya. “Digoda oleh wanita itu, atau karena suaminya mencoba membunuhmu, atau kau takut orang-orang mengetahu tentang pernikahan kita ?” Kini kekesalan Freya sudah tidak bisa dia pendam.
“Bukan itu maksudku.” Kini Daren sudah mengeraskan suaranya dan membentak terhadap Freya.
“Kau sungguh egois, kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Daripada menyelesaikan masalahnya bersama-sama, kamu selalu menjadikan aku tameng untuk menyelesaikannya.”
Kini Daren merasa geram emosinya semakin memuncak karena mendengar ucapan Freya yang mengungkapkan bahwa Daren sudah menjadikannya sebagai tameng untuk setiap masalah yang ada, dadanya semakin terasa sesak melihat cairan bening terus saja keluar dari mata Freya.
“Bukankah kau sudah keterlaluan !” Menggenggam erat tangannya menaham amarah. “Kapan aku tidak perduli kepadamu, aku hanya tidak ingin mereka tahu kau sudah menikah itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak ingin mereka memanggilmu sebagai wanita yang ditinggalkan setelah perceraian !”
“Aku mengkhawatirkanmu !” kini kedau tangan Daren sudah menggengam bahu Freya dengan erat. “Apakah kamu paham !”
“Tidak, itu semua hanya alasan saja, kamu selalu saja beralasan.” Kini Feya sudah menghempaskan tangan Daren dengan kasar dan bergegas meninggalkan Daren. Namun seketika langkahnya terhenti ketika Suara teriakan Daren yang menyebutkan namanya.
“Freya !”
“Kamu tidak pernah mencintaiku !” Hingga Freya pun meninggalkan Daren sendiri dan kini hanya ada air mata yang terus mengalir dengan derasnya.
Seketika itu juga langkah Daren terhenti mendengar bahwa Daren tidak pernah mencintai Freya, niat hati ingin mengejar langkah Freya dan memahami alasanya, namun niatnya di urungkan kembali mencoba memahami mungkin Freya butuh waktu sendiri, karena tidak disalahkan perkataannya memang sangatlah mendadak, sebenarnya selama perjalanannhya menuju rumah dirinya juga merasa ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak.
Sungguh ini adalah pertengkaran hebat pertama mereka secara serius dan itu membuat keduanya frustasi. Daren terus mengacak-acak surai rambutnya, merasa bingung apa yang harus dia lakukan. Sungguh hubungan mereka sekarang terasa sangat rumit yang bukan hanya di rasakan oleh salah satu pihak saja tapi juga kini di rasakan oleh keduanya.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
__ADS_1
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞