Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Uang Kompensasi


__ADS_3

Seperti kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga belum usai masalah yang datang kini sudah ada masalah yang lainnya, rasanya kepalanya di hantam benda berat Daren yakin kini ada masalah karena ada panggilan masuk dari maminya Daren yakin akan hal itu.


“Halo mam.” Suaranya terdengar lirih dan tidak bertenaga mendapat panggilan telepon dari maminya bahkan sebelum mengangkat panggilan dari maminya Daren terlihat ragu-ragu antara harus menerimanya atupun tidak.


“Apa maksudnya itu !” Nah benar saja dari nada suara yang tinggi Daren sudah yakin itu adalah panggilan masalah. Apalagi kali ini pikirnya tidak ada kah hari tenang baginya, selalu saja kemurkaan maminya yang di dapatkannya.


“Apanya ?” Berpura-pura saja tidak tahu pikir Daren, untuk berdebat saja rasanya hilang sudah energinya, ini semua karena laki-laki yang tidak ingin dia sebutkan namanya.


“Jangan berpura-pura, mami sudah tahu semuanya. Freya meminta uang kompensasi kan untuk perceraian kalian. Sebegitu bencinya kamu kepada Freya hingga tega ingin menceraikannya, apa kurangnya Freya, tidak mungkin Freya minta uang kompensasi kalau bukan karena kamu penyebabnya.” Kenapa dari kata yang maminya ucapkan hanya kata kompensasi yang terdengar apa yang baru saja di katakan maminya, hilang sudah fokus Daren.


“Uang kompensasi apa ?” Nah pertanyaannya mulai melantur kemana-mana hanya menangkap sebagain yang tersaring di telinganya.


“Jangan pura-pura bodoh, mami setuju dengan usul Freya kamu bayar saja uang kompensasi yang Freya ajukan namun jangan harap mami akan membantu mu membayarkannya. Jangan buat Freya semakin tersakiti dengan perlakuan buruk mu, mami selalu mengingatkan mu untuk selalu bersikap baik kepada Freya karena nanti kamu akan menyesal terhadap apa yang sudah kamu perbuat. Sudah jangan hubungi mami lagi, rasanya mami tidak ingin memiliki anak seperti mu.”


“Mami, mami, dengarkan Daren dulu.” Belum sempat Daren membalas perkataan maminya namun sayang panggilan di putuskan secara sepihak, bagaimana cara menjelaskannya bahwa sepertinya perasaan Daren kini mulai berubah terhadap Freya, Daren menyadari itu dia bukan lagi anak kecil yang tidak mengerti apa yang di rasakan nya. Dia cemburu kepada Freya dia yakin itu, bahwa dia sangat cemburu dan tidak ingin melihat Freya berdekatan dengan Pria lain.


“Huh bagaimana aku menjelaskannya kepada mami dan bodohnya aku sudah meyiapkan surat perceraian. Baiklah aku akan segera membatalkannya, aku tidak ingin kehilangan Freya.” Kini Daren sudah bertekad untuk kembali merebut hati Freya dia tidak ingin di tinggalkan, karena rasanya akan sangat menyakitkan.


“Aku pasti akan menderita jika Freya benar-benar meninggalkan aku, aku tidak akan sanggup jika harus mengalaminya namun apa yang harus aku lakukan semuanya sudah berantakan karena keegoisan ku.” Daren hanya mendengus kesal dan mengacak-acak rambutnya menjambak nya mencoba mencari ide untuk bisa meluluhkan hati Freya kembali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Plakkk, suara tamparan keras kini mengenai pipi mulus Emily yang sekarang sudah berubah kemerah-merahan. Alvon begitu marah karena mengetahui istrinya masih mencoba berhubungan dengan Daren pria yang menjadi selingkuhan istrinya. Kini bukan hanya tamparan tapi tendangan telah di terima oleh badan mungil itu, bahkan suara jeritan tidak di dengarkan oleh Alvon. “Sakit, sakit tolong lepaskan aku.”


Derai air mata kini sudah membanjiri kedua pipi Emily yang sudah memerah karena tamparan, kedua matanya membengkak karena entah sudah berapa lama dia mengeluarkan air mata, rambutnya yang sudah tidak beraturan karena jambakan dari Alvon yang sangat menyakitkan rasanya seperti kulit kepala Emily akan lepas karena tarikan keras dari Alvon. “Lepaskan alvon, ini sakit, lepaskan tangan mu.” Emily berusaha melawan namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tenaga Alvon.


“Lepaskan kata mu, ini adalah hukuman karena kamu dengan berani bermain di belakang ku. Kamu pikir aku tidak tahu kamu masih mencoba berhubungan dengan pria ******** itu. Sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan penghinaan yang kamu berikan kepada ku.” Alvon sudah menyeret tubuh Emily dengan kedua tangannya dan menghempaskan nya kasar di atas sofa.


“Kamu kira karena siapa aku berbuat sampai sejauh ini, itu semua karena kamu. Kamu tidak mencintai ku kamu hanya peduli karena eksistensi ku yang bagus untuk menjadi pasangan mu di mata publik, aku jijik melihat mu. Ceraikan aku sekarang juga, brengsek.”


“Beraninya kamu !” Kini tamparan sudah mendarat kembali di pipi Emily terlihat noda darah di ujung bibirnya dan membuatnya meringis kesakitan. “Akan aku bunuh pria itu, hingga kamu tidak punya tempat lagi untuk berlari. Akan aku hapus semua kemungkinan kamu akan berani melarikan dari ku, kamu akan hidup walau menderita bersama ku.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tidak nyaman itulah yang kini di rasakan oleh Daren di ruang makannya kini, walaupun mereka makan bersama tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari keduanya. Sebenarnya Daren ingin sekali berbicara dengan Freya namun entah kenapa rasanya bibirnya seperti terkunci dengan rapat. “Padahal banyak yang ingin aku sampaikan kepada Freya kenapa mulut bodoh ini tidak bisa bersuara.” Daren hanya bisa merutuki dirinya di dalam hati karena kebisuannya.


“Aku berangkat.” Hingga suara Freya membuyarkan lamunan Daren yang masih berkelana di dalam pikirannya. Sama hal nya dengan Freya dia pun seperti kurang bersemangat karena masalah yang terjadi antara dirinya dan Daren.


“Oh, iya.” Bodoh, bodoh itulah kata makian yang Daren sematkan karena jawaban yang dia utarakan kepada Freya kenapa tidak berbicara, apa dia mulai dungu. “Hati-hati.” Lihatlah hanya itu yang sanggup di katakan.


“Iya, tinggalkan saja piringnya nanti aku akan mencucinya setelah pulang kerja. Maaf karena aku sedang terburu-buru.”


Kini Freya pun melangkahkan kedua kakinya menjauh dari hadapan Daren tanpa senyuman, ataupun keakraban seperti biasanya semua kata-kata yang di ucapkannya hanya datar tanpa ekspresi terlihat bahwa di seluruh wajahnya bahwa Freya kecewa. “Mungkin benar sudah tidak ada harapan lagi antara aku dan kak Daren untuk bersama, sepertinya aku sudah tidak bisa menggunakan ancaman uang kompensasi lagi. Aku harus segera melepaskannya, kamu jangan egois Frey jangan menggunakan uang kompensasi untuk mencoba menahan orang yang tidak ingin bersama mu jangan buat dia semakin tersakiti dan tentunya dirimu sendiri Freya.”


.


.


.


.


.


.


.


Jika kalian suka jangan lupa like ya kawan-kawan pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar juga biar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......

__ADS_1


__ADS_2