Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Mengunjungi Iris (part II)


__ADS_3

Seolah Freya tidak peduli akan tatapan Daren yang bergejolak menaham amarah dengan santainya memakan makanan yang dihidangkan di atas meja makan dengan lahap dan sesekali bercengkrama dengan ibu mertuanya Lydia.


Disisi lain Daren terus saja bertanya-tanya kenapa Freya tidak meminta izin terhadapnya, walaupun sadar ini bukanlah hal penting terlebih hubungan suami istri yang tidak ada keharmonisan di dalamnya tapi Daren merasa dia tetaplah seorang suami jadi sudah sepantasnya seorang istri meminta izin terhadap suaminya.


Makan malam keluarga pun usai, semua bersiap untuk istirahat sementara Daren lebih memilih pulang ke rumahnya sendiri bersama Freya, setelah berdebat cukup lama dengan Lydia karena alasan ingin bersama dengan Freya lebih lama.


Malam yang dingin diiringi suara deru mobil yang melaju ditambah lenggangnya jalanan karena hari semakin malam, tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh kedua makhluk hidup yang berada di dalam mobil tersebut.


Karena geram Daren menyuarakan protesannya, padahal dirinya sebenarnya menunggu Freya membuka suaranya, menunggu penjelasan darinya. Namun nihil tidak ada sepatah katapun yang diucapkannya.


" Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau akan pergi mengunjungi bibi Iris ?" sambil melirik antar Freya dan jalanan di depannya.


" Kenapa memangnya ?" jawab Freya acuh.


" Kenapa." mengulangi perkataan Freya takut dia salah mendengarnya. " Kenapa !! huh !!! "


" Kak Daren ini kenapa aneh sekali, apa masalahnya jika aku bilang atau tidak. Kenapa harus meributkan hal yang tidak penting."


" Tidak penting katanya, huh si pembuat onar ini sungguh menguji kesabaranku."


" Terserah kau saja, lagipula benar apa katamu untuk apa aku peduli. Malahan aku lega tidak harus melihatmu si pembuat onar setiap hari."


Freya langsung memalingkan wajahnya menghadap kaca mobil sambil melihat jalanan yang sepi dan tanpa izin darinya matanya berderai air mata.


" Aku tau aku memang tidak penting bagimu. Tapi kenapa kau selalu jujur mengatakannya."


^•√•^


Freya turun lebih dulu dari dalam mobil Daren dan segera masuk kedalam rumah, Freya masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya segera. Menanggalkan seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan piyama tidurnya.


Langsung di rebahkannya tubuhnya di atas kasur kesayangannya yang selalu membuat perasaannya nyaman, tak butuh waktu lama dirinya langsung terlelap dan pergi ke alam mimpinya.


Dilemparkannya Jas yang Daren kenakan ke atas sofa dan menarik dasinya dengan kasar, langsung memburu pintu kamar mandi dan menyalakan wastafel airnya membasuh wajahnya dengan napas terengah-engah karena menahan amarahnya. Entah apa yang membuatnya harus semarah itu.


Ditatapnya wajahnya yang memerah sambil terus membasuh wajahnya mencoba menetralisir meredam amarahnya.


^•√•^

__ADS_1


Di pagi hari yang cerah sarapan pagi sudah disiapkan di atas meja makan, Daren langsung mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan memakan sarapannya. Namun tiba-tiba dia menghentikannya dan menyadari sesuatu, kenapa rumah ini begitu hening pikirnya.


Makanan yang sedang dilahapnya dia tinggalkan sudah tidak ada nafsu makan lagi untuknya. Daren langsung bangkit berdiri dan bergegas menuju kamar Freya.


" Freya ! " hening tidak ada jawaban. " Freya dimana kau ? "


Pintu kamat terbuka namun Daren tidak menemukan sosok yang dicarinya. Daren masuk kedalam kamar Freya dan mengecek ke dalam kamar mandi nihil tidak ada siapapun di sana.


" Kurang ajar dia pergi tanpa berpamitan denganku, awas saja kau ! "


Sebenarnya pagi-pagi sekali Freya sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi mengunjungi ibunya. Selesai mandi Freya langsung berpakaian rapi dan bergegas ke arah dapur mempersiapkan sarapan untuk Daren.


Freya sengaja mengambil jadwal penerbangan pagi untuk bisa segera bertemu degan ibunya yang sudah sangat dirindukannya. Freya ragu haruskah dia membangunkan Daren dan berpamitan dengannya, namun dia takut akan dimarahi karena sudah menganggu tidur nyenyaknya. Dan lagipula untuk apa berpamitan jika ujung-ujungnya Daren tidak peduli.


" Lebih baik aku tidak membangunkan singa yang tidur, atau aku akan habis diterkamnya." gumam Freya.


Freya mengambil cara aman untuk tidak memancing emosi Daren, di seretnya koper kecil Freya yang berisikan baju-bajunya dan menenteng tas selempang kecilnya dan berlalu meninggalkan rumah Daren setelah sebelumnya dirinya memesan taksi online.


^•√•^


Setelah sampai di bandara rasanya kaki Freya berat enggan meninggalkan kotanya saat ini, alasannya sudah pasti karena suaminya Daren. Namun dengan langkah mantap Freya memutuskan untuk pergi tidak ingin memikirkan hal yang lainnya.


" Fokus Freya, fokus pada dirimu sendiri saja saat ini Freya. Jangan memikirkan hal lain." mengepalkan tangganya dan meninju udara.


Selama bekerja Daren selalu tidak fokus pikirannya entah berada dimana, tiga serangkai yang penasaran langsung mendekat ke arah Daren, dilihatnya wajahnya yang kusut namun tetap saja tampan. Siall.


" Ada apa denganmu hari ini ? " tanya Levon penasaran. " Kau terus saja melamun dan lihat wajah kusut mu itu terlihat jelas.


" Tidak apa-apa aku hanya sedikit pusing saja, mungkin kurang tidur karena banyak pekerjaan akhir akhir ini."


" Lihatlah dia semakin hari semakin aneh saja, apa kau juga merasakannya." timpal Sean.


" Tentu saja, bahkan dia hari ini seperti mayat hidup." Jeff tergelak menertawakan Daren.


"Apa kalian tidak ada kerjaan !" bentak Daren. " kalau begitu akan kutambah pekerjaan kalian, sepertinya akhir-akhir ini kalian terlihat santai ? " Daren menyeringai ngeri membuat tiga serangkai langsung berlari dan duduk di kursinya masing-masing.


^•√•^

__ADS_1


Akhirnya Freya sampai di depan rumah Ibunya Iris setelah beberapa jam di dalam pesawat dan menaiki taksi untuk sampai di rumah ibu tercintanya.


Dengan perasaan haru Freya langsung memeluk ibunya yang sudah merentangkan kedua tangannya tatkala melihat anak kesayangannya sudah berada di hadapannya.


" Ibu, Freya kangen." memeluk Iris posesif.


" Ibu juga sama, kamu juga kenapa jarang sekali mengunjungi ibumu. huh ? "


" Maafkan Freya bu." mendongkakkan kepalanya dan tersenyum menampilkan deretan giginya. " Freya kan sibuk bekerja."


" Dasar anak manja, sudah menikah juga masih saja sama manjanya."


" Tidak apa-apa manja juga, kan Freya anak ibu." sambil mencebikkan bibirnya.


" Ya sudah ayo, cepat bereskan barang-barangmu dan kita makan bersama."


" Siap ibuku tercinta."


Freya makan dengan lahapnya menikmati makanan yang sudah lama dirindukannya, sambil sesekali berceloteh dengan Iris. Mencoba melupakan masalah yang ada, Freya hanya ingin quality time bersama ibunya.


Selesai makan bersama Freya berjalan santai menikmati pemandangan yang ada. Freya penasaran tatkala dirinya mendengar sayup-sayup suara ibunya seperti sedang mengobrol dengan seseorang. Karena penasaran Freya pun mencoba melihatnya dan alangkah terkejutnya ketika dua melihat seseorang sedang duduk bersama dengan ibunya.


" Kak ? "


^•√•^


Jangan lupa 😉


klik favorit 📌


like 👍


Dan komentar nya ya 💌


Dan jangan lupa juga vote❤️


Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞

__ADS_1


__ADS_2