
Sudah seminggu Freya menjadi sekertaris Daren dan sungguh ketakutannya menjadi kenyataan, sungguh kini Freya menyadari bahwa Daren benar-benar pria penggila kerja. Rasanya tubuh Freya kini sudah tidak berenergi dirinya merasa seperti mayat hidup, bagaimana bisa tidak menjadi mayat hidup dirinya selalu saja mengerjakan banyak berkas-berkas yang menumpuk. Setiap hari file-file di atas mejanya tidak pernah absen dan selalu hadir, bahkan jika Freya sudah mengerjakan tugasnya lebih awal sepertinya itu mengganggu penglihatan Daren.
Dengan sengaja Daren meminta Freya mengambil buku manajemen yang berada di ruangan Daren yang bahkan berbahasakan bahasa asing untuk di pelajarinya dan yang lebih membuat Freya marah adalah bukan hanya satu buku yang harus dipelajari tapi juga lima buku. Bisa saja Freya dengan mudah berpura-pura mempelajarinya
namun dengan cerdik tapi licik Daren meminta Freya untuk merangkumnya dan harus selesai dalam kurun waktu satu hari, bagaimana tidak, jika tindakan Daren membuat Freya harus menyebutnya psikopat. Dan sungguh kini Freya tidak bisa lolos dari pengawasan dan penyiksaan yang diberikan Daren.
Tindakan Daren yang berlebihan sungguh membuat Jeff di penuhi rasa marah dalam dirinya bagaimana bisa dengan kejamnya memperlakukan wanita yang kini dicintainya walaupun kini sudah menjadi milik orang lain tapi karena rasa kemanusiaanya dia berniat memarahi Daren yang seperti tidak punya rasa belas kasih.
“Hei Daren, hentikan. Kenapa kamu sangat kejam terhadap Freya.” Kini tangannya sudah menekan kuat terhadap meja Daren. “Lihatlah dia sekarang seperti mayat hidup, apa kamu sudah gila, sehingga menyiksanya seperti itu.”
“Sudahlah lagipula dia tidak akan mati.” Acuh terhadap protesan Jeff.
“Kenapa, apakah kau sangat membencinya ?”
Kini pertanyaan yang di ajukan oleh Jeff di hiraukannya begitu saja, dengan langkah besarnya dia sudah bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Freya yang kini tengah fokus mempelajari buku yang di bacanya kini.
“Apakah kamu sudah selesai membaca dan mempelajarinya ?” tersenyum dengan senyuman kejamnya.
“Lihatlah ini hampir selesai ?”
“Oh, baiklah.” Kini langkahnya pergi meninggalkan Freya Yang tengah fokus kembali ke dalam bacaanya.
Dengan guratan kekhawatiran dalam raut wajah Jeff dengan penuh kekhawatiran dirinya menanyakan keadaan Freya kini, karena terlihat wajahnya sudah pucat dengan kantung mata yang besar dan juga lingkaran hitam di
bawahnya, menandakan bahwa dirinya kekurangan waktu istirahat.
“Frey, apa kamu baik-baik saja.” Menatap sendu ke arah Freya “Katakanlah jika kau butuh bantuan, dengan sigap aku siap membantumu. Bukan hanya aku yang lainnya juga seperti Levon dan Sean.” menyombongkan dirinya mengakui sebagai pahlawan.
“Terimakasih kak Jeff.” Kini Freya merasa terharu karena masih ada yang memperdulikannya “Kak Jeff sangat baik tidak seperti seseorang itu.” dengan mencebikan bibirnya dan tentu saja membuat Jeff gemas melihatnya.
Langkah Daren terhenti ketika merasa bahwa maksud Freya dengan seseorang itu adalah dirinya kini dan bahkan dengan beraninya membandingkannya dengan orang lain, sungguh harga dirinya terasa di jatuhkan, dan langkah kakinya telah berbalik arah dan menghampiri kembali meja Freya dan menatapnya dengan tatapan tajam, sehingga
membuat Freya berjingkat kaget, sementara Jeff hanya berdiam diri menyadari bahwa kini Daren tengah dalam keadaan marah, tiga serangkai juga tidak akan berani jika Daren sudah mulai marah.
“Siapa yang kamu bicarakan ?” Freya tergagap-gagap tidak sanggup untuk menjawabnya dan hanya menghadirkan senyuman palsunya. “Karena kamu seseorang yang pandai bicara, baca lima buku lagi.” Ancam Daren.
Daren yang hendak kembali ke dalam ruangannya, seketika langkahnya terhenti dengan tarikan keras dari tangan Freya. Tidak bisa di bayangkan apakah Freya masih bisa bertahan jika harus menambah buku bacaannya lagi yang ketebalannya sungguh luar biasa. Sementara Jeff sudah merasa was-was dan hanya bisa melihat ketidak berdayaan Freya yang tengah memelas di hadapan Daren.
“Kak Daren jangan, aku mohon.” Menunjukan wajah memelasnya sebisa mungkin, menunjukan bahwa dirinya benar-benar sudah tidak sanggup lagi, sungguh ini penindasan namanya.
“Aku pikir kamu sangat hebat.” Mengatakannya dengan nada meremehkan.
“Aku sudah tidak sanggup.” tanpa henti menarik-narik lengan Daren mencoba mengehentikan pergerakannya untuk berniat membawakan buku yang lainnya.
Melihat wajah Freya yang seperti hampir mati akhrinya Daren mengurungkan niatnya dengan pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun. Dirasa langakah Daren sudah tidak terdengar lagi dan kini tubuhnya
__ADS_1
sudah menghilang dari pandangan Jeff, dengan sengaja dia mengeraskan umpatannya yang dia tahan sedari tadi.
“Kalau saja kamu bukan temanku, aku akan menghancurkan mulutmu itu dasar sialan !”
“Aku baik-baik saja kak, semuanya akan selesai tenanglah.” Mencoba menenangkan Jeff.
Dan kini fokusnya kembali kepada buku-buku sialan yang kini ada di atas meja kerjanya, meyakinkan Freya bahwa itu bukanlah hal yang sulit.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah hampir jam delapan malam dan semua buku-buku tebal tersebut sudah selesai di pelajari oleh Freya, karena beberapa jam duduk di kursi membuat sebagain tubuh Freya terasa kaku dan sedikit mati rasa, terpaksa membuat
Freya harus merenggangkan otot-otot tubuhnya menghilangkan rasa kaku dari tubuhnya, tanpa sadar setelah dilihat bahwa ternyata di dalam ruang kantor sudah tidak ada siapapun selain dirinya, sehingga Freya memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
menunjukan kekhawatirannya, hingga Daren memutuskan untuk menjemputnya langsung dan jika ditanya hanya akan beralasan dirinya sedang mencari makan di sekitar kantor.
Mobil Daren terparkir agak jauh dari arah kantor dan memutuskan untuk berjalan kaki untuk menyusul Freya, namun beberapa saat langkahnya terhenti ketika tidak sengaja Daren berpapasan dengan Emily wanita yang sudah menghancurkan hidupnya dan dengan rasa tidak tahu malunya dengan langkah cepat Emily menghampiri Daren dan memeluknya dengan erat tidak berniat untuk melepaskan Daren dari pelukannya kini. Dengan sekuat tenaga Daren mengehempaskan Emily dengan mendorong kedua bahunya, namun lagi-lagi Emily menghamburkan
dirinya ke dalam pelukan Daren.
Freya sedikit terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya saat dirinya lelah karena pekerjaan dengan enaknya kini melihat sang suami tengah berpelukan dengan tidak tahu malunya di daerah kantornya. Daren merasa gugup
ketika menyadari kini sudah ada Freya yang tengah melihat adegan pelukannya bersama dengan Emily dengan sekali hentakan kini Daren mendorong bahu Emily sehingga membuat yang di dorongnya hampir saja terjatuh.
Daren menghampiri Freya dengan sedikit canggung dan merangkul bahu Freya dan seikit menempelkannya ke dada bidanya.
“Aku dan istriku saling mencintai satu sama lain, jika kamu memelukku seperti itu istriku pasti tidak akan merasa bahagia.” Menatap sinis ke arah Emily.
“Jadi pergilah dari hadapanku sekarang !” bentak Daren.
Emily yang merasa masih tidak percaya dengan pernikahan Daren menampilkan senyuman ejekannya, mengatakan melalui sorot matanya jangan coba-coba membohonginya.
“Aku tidak percaya, kamu menikah dengan dia.” Tunjuknya ke arah Freya.
__ADS_1
Daren yang merasa tertantang kini tangannya mulai terulur dan dan membalikan tubuh Freya ke hadapannya dan setelahnya mengangkat dagu Freya dengan tangan kirinya sementara tanganya memeluk punggung Freya dengan eratnya dan kini bibir Daren dan Freya sudah menyatu, membuat Emily membelalakan matanya tidak percaya, tak hanya Emily bahkan Freya hanya bisa mematung dengan tindakan Daren yang tanpa di duga-duga.
Setelah Daren melepaskan tautan bibirnya kini wajah Freya sudah bersemu merah menahan rasa yang entahlah tidak bisa di gambarkan, sementara Daren sudah berbalik kembali menghadap Emily.
“Apa kamu percaya sekarang ?” tanya Daren “Atau kamu mau aku membuktikannya sekali lagi ?”
Mendegar kata tersebut sungguh hanya bisa membuat Freya membelalakan matanya kembali dan sedikit membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, dan benar saja kini Daren kembali mendaratkan bibir merah
jambunya bertautan dengan bibir merah Freya dan meciumnya lebih lama dibanding ciuman pertamanya tadi, dan karena terkejut bahkan Freya lupa untuk menutup mulutnya sehingga Daren dengan mudahnya menautkan ciumanya semakin mendalam tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Sedangkan tanpa sadar kini tangan Freya sudah berpindah berpegang pada lengan Daren yang kekar dan mengusapnya menikmati ciuman mereka, dengan keduanya saling menutup mata masing-masing, melupakan keberadaan Emily kini. Dengan geram Emily menghentakan langkahnya secara kasar dan pergi meninggalkan dua
insan yang kini tengah sibuk di dunianya masing -masing.
Setelah sadar Emily sudah meninggalkan mereka berdua kini Daren melepaskan ciumannya dan dengan gugup mengucapkan terimakasih kepada Freya. Mendapatkan ucapan tersebut Freya sedikit merasa penasaran. Hingga
akhirnya Freya sadari ciumannya tadi adalah ciuman tanpa arti dan hanya berfungsi sebagai alat untuk mengusir Emily.
Freya hanya menepuk-nepuk kedua pipinya dan menekannya menyadarkan dirinya, mecoba menghilangkan rasa panas dari dalam dirinya mengatur napasnya secara perlahan karena rasa gugup yang menyerangnya.
“Berhentilah berharap, Frey. Jangan lupa siapa dirimu. Pernikahan ini hanyalah sebatas nama saja. Ingatlah itu Frey.”
Tanpa henti Freya terus saja memegangi pipinya yang tiada hentinya terus saja bersemu merah, dan debaran jantung Freya meronta-meronta sehingga aliran darahnya seperti tidak berjalan sebagaimana mestinya dan bisa diyakini bahwa malam ini dia tidak akan bisa tidur dengan tenang karena memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
__ADS_1
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞