
Mendengar kata - kata Daren, Delano sudah tidak ingin berkomentar dan menyerahkan urusan rumah tangga kepadanya, Delano hanya berharap baik Daren ataupun Freya keduanya mendapatkan kebahagiaan. Untuk urusan cinta biarlah waktu yang akan menjawabnya.
" Tuan muda Daren, nyonya menyuruh tuan agar segera menemuinya." Sakti menyampaikan perintah Lydia
Semua keluarga berkumpul, Lydia dan Iris sudah duduk di kasur king size yang akan digunakan Freya dan Daren untuk tidur bersama. Daren dan Freya sudah duduk bersimpuh dihadapan ibu dan ibu mertua mereka masing - masing dan siap mendengarkan petuah yang akan diberikan.
" Kalian berdua akan saling mencintai selamanya." Lydia yang belum selesai dengan perkataannya langsung memukul kepala Daren sampai tersungkur ke lantai ketika Daren bersiap akan berdiri " Tunggu, mami masih belum selesai."
" Kamu harus mencintainya." memelototi Daren dengan tajam " Kalian sudah menikah. Kamu harus mencintai istrimu, paham ?"
Daren mengangkat kepalanya karena maminya tiada hentinya berbicara.
"Jangan biarkan mami terus yang nyerocos kamu juga harus mengatakan sesuatu. Jika mami yang terlalu banyak berbicara akhirnya aku akan memarahi dia." Sambil melihat ke arah Iris
Iris dan yang lainnya hanya bisa tertawa melihat kelakuan anak dan ibu yang tidak ada akurnya jika bersama seperti tikus dan kucing. Daren seperti tikus yang selalu membuat cakar Lydia keluar dan siap menerkamnya.
" Semoga pernikahan kalian berdua selalu bahagia. Kalau bertengkar karena perbedaan pendapat kalian harus saling memaafkan." Iris mengelus rambut Freya dengan penuh kasih sayang.
Iris memanglah ibu yang sangat bijak, baik dalam tindakan dan perkataannya. Iris sangatlah mengetahui perasaan Freya, betapa Freya mengagumi dan sangatlah mencintai Daren, Iris selalu mendukung semua tindakan Freya.
" Kamu harus mendengarkan suamimu, Freya. Mendukung suami dalam keadaan apapun."
" Baik bu." Freya melirik Daren dengan mata yang memerah menahan air mata, Daren pun menganggukan kepalanya sambil melihat ke arah Freya menyetujui semua perkataan mertuanya.
" Teman dan kerabat jauh mungkin bertanya tanya mengapa tidak ada resepsi pernikahan. Mereka pasti akan menyebutnya dengan pernikahan palsu." protes Lydia karena Daren tidak menyetujui resepsi pernikahan.
" Biarkan mereka berbicara semau mereka, mam." jawab Daren bersikukuh
" Mana boleh, jika si tuan Alvon tahu, dia akan membunuhmu."
Walaupun sebenarnya Daren sendiri adalah keluarga yang kaya raya memiliki hotel terbesar di Negara XX, dan perusahaan di bidang IT dan juga di bidang fashion, untuk melawan Alvon bukanlah hal yang sulit. Hanya saja Lydia memanfaatkan situasi yang ada untuk menikahkan Freya dan Daren.
" Hentikan menggunakan itu sebagai alasan, mam." protes Daren
" Itu bukan alasan !" meninggikan suaranya
" Apa ? Kamu tidak mau tidur dengan Freya ?"
Daren dan Freya pun saling bersitatap dan merasa canggung dengan ucapan Lydia.
"Mam, kenapa mami berbicara tanpa mempertimbangkan perasaan bibi Iris." protes Daren.
"Kenapa mami harus mempertimbangkannya ?" melihat ke arah Iris. Yang dilihat hanya tersenyum canggung
" Mam, mami ingin Daren dan Freya... " sambil berbisik dan menggedikkan bahunya.
__ADS_1
" Oho ! hei ! hei ! kamu pikir mami ingin kamu menidurinya secara terang - terangan ? " goda Lydia
" Apa yang ada di pikiranmu, Daren ?" Ella bersekongkol menggoda Daren.
" Kenapa mami menjawabnya dengan keras ?" wajah Daren sudah memerah menahan malu karena perkataan maminya.
" Dengan Keras ? memang begitulah mami selalu berbicara. Keras dan lantang."
Delano yang mengerti bahwa Daren sangat malu akan perkataan maminya langsung memberikan saran kepada semuanya untuk keluar dari kamar Freya dan Daren. Memberikan waktu untuk pasangan yang baru saja menikah itu.
"Kita haru keluar sekarang, mam." Daren merasa berterimakasih kepada Delano yang sudah mengertikannya. " Jika tidak, mereka tidak akan bisa menyempurnakan pernikahannya."
Baru saja Daren merasa berterimakasih karena perkataan Delano, tetapi kakaknya seakan menjatuhkannya dengan keras setelah membawanya terbang tinggi.
" Mereka tentu lelah. Dan mereka butuh istirahat." Delano berusaha menahan tawanya.
Akhirnya Lydia dan yang lainnya pergi dari kamar pengantin baru tersebut, namun rasanya Lydia belum puas menggoda anaknya tersebut yang selalu bersikap dingin, Lydia pun menghentikan langkahnya dan menggoda Daren kembali.
" Jangan lupa menjalankan tugasmu. hahahaha..." tertawa terbahak - bahak bersamaan dengan yang lainnya.
" Kau sangat lucu, mam." Ella sambil menggandeng tangan ibu mertuanya Lydia.
Keisengan anak, ibu dan juga menantunya tak berhenti bahkan setelah mereka menutup pintu mereka kembali melanjutkan ledekan mereka diluar kamar yang ditempati Freya dan Daren.
" Mam, mam. Aku rasa kita harus mengunci pintunya. Agar mereka tidak bisa lari." saran Delano.
" Karena kita sudah mengunci pintunya, aku yakin mereka tidak akan bisa menahan diri." sambil tertawa cekikikan. "Oh, ya ampun. Maaf." sambil mengelus tangan Iris karena merasa tidak enak dengan perkataan yang di ucapan olehnya.
***
Di dalam kamar Daren dan Freya hanya saling melirik satu sama lain. Daren pun geram dan langsung berdiri sambil menghembuskan napasnya dengan kasar. Daren melepaskan jas yang menempel di badannya sambil membelakangi Freya yang masih duduk.
Freya semakin gugup setelah Daren membuka jendela kamarnya, Daren melemparkan jasnya sambil menghampiri Freya, dan melipat kemeja sampai kesiku. Freya hanya tertunduk dan sesekali melirik ke arah Daren, merasa gugup dan bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Daren sudah duduk di kasur king sizenya sambil berkacak pinggang.
" Sampai kapan kamu akan duduk dilantai ?" sambil menunjuk ke arah Freya. " Kemari, dan duduklah di sini." menepuk - nepuk kasur disebelahnya.
Freya hanya tersenyum sambil menunjukan barisan giginya yang rapi. " Baiklah."
Freya berdiri dan duduk di samping Daren dengan rasa malu malu.
"Apa ?" Daren bertanya pada Freya dan membuat Freya bingung.
Apanya yang apa. Tidak mengerti maksud perkataan Daren.
" Kamu menjadi pendiam dan sopan setelah menikah denganku ?" sambil membuka kancing kemejanya " Kamu sudah tidak segila seperti dulu."
__ADS_1
Apa gila ? kalau aku gila aku tidak mungkin menikah denganmu.
" Tidak, aku hanya sedang mencoba membiasakan diri dengan semua ini." Freya beralasan
"Benar, aku juga." memahami apa yang dirasakan Freya.
"Benarkah ?" tanya Freya sambil tertawa canggung.
Padahal bukan itu alasannya. Aku diam karena aku sangat bahagia menikah denganmu Daren.
Daren bingung harus menjawab pertanyaan Freya, akhirnya Daren hanya diam dan tidak merespon pertanyaan Freya. Daren mencoba melepaskan dasinya namun Daren merasa kesusahan akhirnya Daren pun meminta bantuan Freya untuk melepaskannya.
" Lepaskan untukku." menggeser tubuhnya mendekat ke sebelah Freya.
Freya merasa sangat gugup dan gemetaran ketika melepaskan dasi yang Daren kenakan.
"Permisi."
Freya berhasil melepaskan dasi yang Daren kenakan dan menyerahkannya. Daren pun menggeserkan kembali tubuhnya menjauhi Freya. Mereka diam cukup lama, dan Daren memecahkan keheningan yang terjadi dengan pertanyaan yang diajukannya.
" Apakah kamu masih ingat dengan apa yang aku katakan sebelum kita menikah ?"
Freya pun mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Daren, ketika mereka duduk berdua dibawah pohon beralaskan pasir putih dengan hamparan lautan yang luas.
" Dengarkan aku, pernikahan kita ini adalah pernikahan rahasia." Freya hanya menganggukan kepalanya " Setelah masalah terpecahkan, kita akan bercerai."
Itulah kata kata yang diucapkan oleh Daren yang tentunya sangat sakit jika diingat, Freya berusaha tersenyum dan tetap terlihat tegar walaupun dalam hatinya sangatlah rapuh.
" Hanya antara kita berdua saja yang tau. Tidak ada siapapun lagi yang boleh mengetahuinya." tersenyum dengan menahan air mata yang serasa akan jatuh.
" Baik, aku suka ketika kamu berbicara seperti ini." sambil mengelus rambut Freya dengan lembut dan mendekatkan wajahnya.
Dan itulah malam pertama yang sangat menyakitkan untuk Freya, pernikahan yang bahkan tidak menguntungkan bagi Freya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa klik favorit, like dan comentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku 😘🤗💞💞