
Keputusan Freya sudah bulat untuk berpisah dari Daren. “Jangan khawatir, Aku sudah memberi tahu bibi Lydia.” Freya berusaha melihat ke arah manik mata Daren yang terlihat sedang membendung air matanya. “Kamu tidak perlu memberiku uang tunjangan atau kompensasi.”
Dalam hati Daren berkata bahwa bukan masalah uang yang jadi permasalahannya sekarang, bukan karena dia tidak ingin membayar uang kompensasi. “Karena aku tidak pernah terpikir untuk mendapatkan apa pun darimu. Tetapi sesuai perkataan mu padaku tadi jika kamu benar-benar ingin memberi hadiah padaku, tolong ceraikan aku segera. Tolong tandatangani surat perceraian kita.”
“Tidak !!” Perkataan Daren sudah meninggi. “Aku tidak akan pernah menyetujui semua keputusan mu untuk bercerai. Jika aku tahu hadiah yang kamu inginkan adalah perpisahan kita maka dari awal aku tidak akan pernah menawarkan hadiah apa pun kepada mu Freya.” Daren sudah berdiri dan berkacak pinggang saking kesalnya dia tidak bisa berpikir jernih.
“Kemarilah kak.” Freya menunjuk Daren untuk mendekat ke arahnya. “Kita belum siap untuk menjalani rumah tangga, Kak Daren. Setidaknya orang yang menikah haruslah saling mengenali pasangannya satu sama lain. Jika tidak, kita tidak akan terus merasa asing dengan pasangan kita sendiri.”
Daren pun kembali mendekat dan duduk bersampingan dengan Freya. “Kita saling mengenali, Frey.” Katanya seolah tidak terima karena dia mengatakan tidak saling mengenali diri mereka masing-masing. “Mau seberapa mengenal yang bagaimana lagi ? Kita bahkan sudah tinggal bersama sedari kita sekolah menengah atas.”
Mendengar perkataan Daren Freya hanya bisa tersenyum simpul. “Apakah kamu yakin kak ?”
__ADS_1
“Kalau begitu mari kita mainkan games bersama, ini adalah games yang sederhana. Jika kak Daren bisa menjawabnya maka aku akan memutuskan bahwa kita tidak akan berpisah.”
“Games apa aku tidak setuju, tidak akan ada yang bisa membuat kamu dan aku berpisah. Aku tidak ingin main games dan juga tidak ingin berpisah dengan mu.” Sungguh kali ini kadar keegoisan Daren semakin tinggi.
“Tidak ada pilihan karena kadang hidup tidak selalu tentang memilih, maka dengarkan pertanyaan ku baik-baik.” Mendengar itu Daren sungguh tidak ada pilihan lain.
“Kapan hari ulang tahunku atau tanggal berapa ulang tahun ku?” Pertanyaan Freya membuat Daren terkejut karena sungguh Daren memang tidak mengetahui ulang tahun Freya, bahkan dirinya pun terkadang melupakan ulang tahunnya sendiri karena baginya tanggal ulang tahun tidak lah berarti.
Tidak mendapatkan jawaban Freya berusaha mendesak Daren walaupun sebenarnya dia tahu kalau Daren tidak pernah mengingat hari ulang tahunnya. “Kak tanggal berapa tolong di jawab dan juga sebutkan bulan apa ulang tahun ku itu.”
“Frey....” Hanya sebuah panggilan yang keluar dari mulut Daren.
__ADS_1
“Iya kak, jawablah. Ini baru satu pertanyaan belum dengan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.” Daren merasakan sakit di dadanya rasanya seperti terhantam benda berat membuatnya sesak, kenapa dia bisa bersikap seperti orang bodoh seperti ini.
“Baiklah kita lewati saja pertanyaan yang satu ini, kita lanjut ke pertanyaan yang lainnya karena kak Daren tidak bisa menjawabnya kita anggap pass saja nanti jika sudah ingat boleh kakak jawab kembali.” Daren sudah terlihat gelisah karena menantikan pertanyaan apalagi yang akan di ajukan oleh Freya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya.....