
Hari itu Freya terlihat panik bahkan dia bingung apa yang harus dia lakukan apakah harus menunggu pertolongan datang namun sepertinya itu akan memakan waktu lama sementara mobil Daren sudah masuk ke dalam air bersama dengan pemiliknya.
“Kak Daren, kak Daren !!” Tangis Freya pecah karena melihat orang yang di cintainya sudah jauh masuk ke dalam air dan tanpa berpikir lagi Freya ikut masuk ke dalam sana.
Ketika Freya masuk ke dalam air bala bantuan baru saja tiba dan dengan segera menyusul keduanya untuk masuk dan menyelamatkan mereka, sementara mami dan yang lainnya menunggu dengan harap-harap cemas berdoa agar mereka berdua baik-baik saja. “Del bagaimana ini apakah Daren akan baik-baik saja ?”
“Tenanglah mam kita berdoa saja semoga mereka selamat.” Delano sebenarnya merasakan kekhawatiran yang sama namun dia tidak ingin menampakannya karena sudah cukup maminya yang sekarang nampak gelisah dia tidak ingin memanasinya.
“Kenapa ini semua harus terjadi kepada anak ku.” Lydia hanya bisa bersandar di pundak Ella yang sedari tadi mengelus punggung ibu mertuanya.
Hingga terlihat Freya berusaha membawa Daren dari bawah air sana dengan cepat tim penyelamat segera menghampiri dan menaikan keduanya ke atas boot. “Lihat itu mereka sudah naik.” Terlihat Lydia bernafas sedikit lega karenanya.
“Freya apa kamu tidak apa-apa ?” Seluruh baju Freya sudah basah kuyup bahkan tubuhnya terlihat gemetaran mungkin Freya sudah mengalami hypotermi bagaimana tidak berada di dalam air dan di waktu malam adalah saat-saat air terasa sangat dingin.
Dengan cekatan tim penyelamat segera memberikan handuk yang banyak guna mengurangi rasa dingin Freya, sementara kekhawatiran masih berlanjut karena Daren sudah tidak sadarkan diri.
“Ayo segera bawa anak ku ke rumah sakit.” Semua orang dengan sigap segera meniggalkan lokasi dan melajukan semua kendaraan yang berada di lokasi menuju rumah sakit.
__ADS_1
.
.
.
.
.
“Dokter bagaimana keadaan anak saya.” Lydia segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat. Dokter pun menceritakan kondisi Daren saat ini termasuk tentang Daren yang membutuhkan donor ginjal.
Semuanya semakin khawatir karena tidak ada stok calon pendonor ginjal di rumah sakit itu hingga Freya mengajukan dirinya yang ternyata masih setia menunggu Daren bahkan di kondisinya yang terlihat
pucat dia menolak untuk pergi ketiak semua orang memerintahkannya untuk segera mengobati dirinya sendiri.
“Dokter saya yang akan mendonorkan ginjal saya.” Semuanya terlihat kaget bahkan beberapa kali mereka menanyakan apakah dia yakin dengan keputusannya. Dengan mantap bahkan Freya tidak ragu menganggukan kepalanya tanda bahwa dia benar-benar serius.
__ADS_1
“Baiklah sebaiknya kita harus memeriksanya lebih lanjut apakah ginjal anda cocok dengan pasien saat ini, karena untuk melakukan pendonoran perlu di lakukan beberapa prosedur.” Freya pun mengiyakan semua saran dokter dan segera berlalu memasuki ruangan yang sudah di siapkan.
“Freya.” Terdengar Lydia memanggil nama menantunya itu ketika Freya hendak mengikuti arahan dokter. “Kenapa kamu harus melakukannya sejauh ini nak ?” Tangannya sudah memegangi kepala Freya dan mengusapnya lembut mata keduanya terlihat berkaca-kaca.
“Karena aku harus melakukannya, bibi jangan khawatir aku akan baik-baik saja doakan saja semoga semuanya lancar.”
.
.
.
.
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......
__ADS_1