
Setelah membereskan beberapa
hal di Vancouver Daren sudah siap untuk berangkat menuju kota Surrey dia bahkan
di antar oleh maminya sampai ke bandara.
Sebenarnya untuk sampai di Surrey Daren harus melewati beberapa drama yang di tampilkan oleh maminya yang belum rela di tinggalkan anaknya pergi, Lydia menangis ketika mengantarkan kepergian Daren membuatnya sedikit merasa bersalah. “Mami sudah jangan menangis lagi Daren kan di Surrey hanya untuk mengerjakan beberapa proyek.”
Sebenarnya Lydia menangis karena tahu alasan sebenarnya Daren pergi maka dari itu dia merasa sedih melihat anaknya sedang berjuang untuk pulih dari keterpurukannya. “Iya mami gak nangis
lagi, tapi kamu harus bisa jaga diri di sana, jangan lupa makan, beritahu mami jika sakit dan ingat...”
Banyak sekali yang di sampaikan Lydia jika tidak di hentikan bisa sampai besok Daren berangkatnya. “Mam aku bukan anak kecil lagi aku sudah dewasa bisa menjaga diri sendiri.”
Mendengar itu Lydia langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Daren memeluknya erat memberikan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Berbahagialah nak.”
Daren pun melepaskan pelukan maminya dan tersenyum ke arah Lydia tahu apa yang di maksudkan oleh maminya. “Iya mam.”
Lydia juga merasa sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa karena sebenarnya sejak kepergian Freya dia juga tidak mengetahui keberadaanya bahkan semua yang sudah dia persiapkan untuk Freya untuk bisa berkuliah di luar negeri tidak dia gunakan sama sekali.
__ADS_1
Dia juga berusaha bertanya pada Iris namun sayang tidak mendapatkan hasil yang dia harapkan karena Irish mengatakan bahwa Freya memang kuliah kembali tapi tidak ingin menggunakan fasilitas yang di berikan oleh Lydia.
.
.
.
.
.
Daren merasa di kota Surrey lebih sejuk dibanding Vancouver karena pemandangan alam yang di suguhkan karen Surrey memiliki daya tarik perpaduan modern dan tradisional yang kental.
Daren segera bergegas untuk memasuki apartemen yang sebelumnya sudah di siapkan oleh pihak kantor untuk di jadikan tempat tinggalnya selama bekerja di Surrey. “Ah akhirnya sampai juga, badan ku pegal sekali rasanya.”
Daren pun bersiap untuk segera mandi dan segera mencari restoran untuknya mengisi perut yang sedari tadi merasakan lapar karena cacing dalam perutnya sudah berdemo. “Makan apa ya ?” Daren terlihat bingung ketika memilih menu di hadapannya.
Ketika sedang melihat menu dia pun menoleh ke arah luar jendela restoran yang berkaca bening sehingga dirinya dengan leluasa melihat area luar dari dalam restoran hingga pandangannya tertuju kepada seseorang yang tengah berdiri di penghujung jalan. “Apakah aku sudah salah lihat ?”
__ADS_1
Daren terus menggosok-gosokan matanya menggunakan tangan memastikan
apakah yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan atau hanya ilusi seperti yang
sering dia alami selama ini. “Tidak mungkin, mana mungkin itu dia.”
Daren mencoba menajamkan matanya mencoba melihat dengan jelas namun pandangannya kini terhalang karena sebuah bis yang melintas di depan orang yang sedang dia perhatikan dan ketika bis itu sudah lewat dirinya sudah tidak menemukan sosok itu lagi.
“Benar kan aku mungkin sudah terlalu lapar hingga berhalusinasi parah seperti ini, mana mungkin dia berada di sini mustahil.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......