
Sadar tidak membawa ponsel Daren berlari kembali ke rumahnya dan mengambil ponselnya mencoba melakukan panggilan, namun sayang tidak ada jawaban dari Freya, sepertinya nomornya sudah di blokir dan setitik harapan yang di miliki Daren sepertinya lenyap begitu saja. “Kenapa kau mabuk dasar bodoh, bodoh.”
Daren marah bahkan dia membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya dia bahkan mencederai tangannya dengan meninju kaca besar hingga menyebabkan tangannya berdarah. “Kenapa kamu begitu kejam kepada ku Freya, kenapa ?”
Darah terus mengalir dan menetes di sebelah tangannya bahkan dia juga merasakan lemas di tubuhnya karena darah yang tidak segera di hentikan hingga suara pekikan maminya membuatnya langsung melihat ke arah sumber suara.
“Daren !!”
“Mam.... Freya pergi mam.” Melihat anaknya yang tidak berdaya Lydia segera menghampiri dan mencoba menghentikan darah yang mengalir sementara di tangan anaknya bahkan dengan sigap dia segera menelepon dokter pribadi untuk segera datang melihat kondisi anaknya.
“Sayang kenapa jadi seperti ini ?” Lydia mendekap anaknya yang sudah memeluk tubuhnya erat dia bahkan merasakan tubuh Daren yang gemetar.
Baru pertama kali dia melihat anaknya menangis bahkan dia sebelumnya berpikir bahwa anaknya tidak memiliki kantung air mata. “Kenapa Freya kejam kepada ku mam ?” Daren terus merangkul tubuh maminya.
__ADS_1
“Sudahlah apa yang kamu katakan, tangan mu terluka kita harus segera mengobatinya. Apakah kamu tidak merasakan sakit di tangan mu itu ?” Tanya Lydia yang sudah memegang tangan Daren yang terluka akibat ulah Daren sendiri.
Daren hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Lydia. “Aku tidak merasakan sakit di tangan ku sekarang ini mam, karena hati ku lebih sakit dan satu-satunya obat adalah Freya.” Ucapnya lirih dan kini padangannya tertuju kepada Lydia. “Kenapa mami kejam sekali kepada ku ?”
“Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ku ?” Daren seperti meminta pertanggung jawaban maminya yang ikut berperan dalam berpisahnya dia dengan Freya.
“Jika mami membiarkan Freya yang tetap bersama mu menurut mu apa dia juga akan bahagia, lihatlah semua perbuatan mu kepadanya bahkan mami sudah beberapa kali memperingatkan mu untuk bersikap baik kepadanya namun kamu malah tidak memperdulikannya.” Kini Lydia berbalik menyalahkan Daren karena memang semua berasal dari perbuatannya.
“Jika saja kau memperlakukan Freya dengan baik ini semua tidak akan pernah terjadi, mami memang ingin melihat kalian bersama tapi jika dia tidak bahagia bersama mu kamu memang harus melepaskannya dan membiarkannya
Daren marah dan langsung meninggikan suaranya pikirannya kalut bahkan dia tidak sadar sedang berbicara dengan maminya. “Kenapa mami selalu ikut campur masalah kami, kami sudah menikah dia adalah istri ku !”
“Tapi kamu juga tidak lupa kan alasan kalian menikah ?!” Suara Lydia tidak kalah tinggi membalas ucapan Daren.
__ADS_1
“Berhenti membawa alasan kenapa pernikahan kami terjadi.” Daren tidak terima dan semakin kesal karenanya.
“Jangan membentak mami kamu tidak tahu masalah yang sebenarnya terjadi hari itu.” Ucapnya kesal bahkan dia secara tidak sengaja mengatakan alasan yang selam ini di tutup-tutupinya. Bahkan dia sebenarnya sudah berjanji kepada Freya untuk tidak mengungkapkan kejadian yang sebenarnya kepada Daren.
Tapi karena emosi dan semuanya tidak terkontrol termasuk mulutnya yang terlanjur mengucapkannya kepada Daren.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa likenya teman-teman pembaca setia novelku, dukung author dengan like yang kalian berikan dan jangan lupa rate novel ini. Minta vote juga seikhlasnya kagak maksa banyak supaya author semakin semangat buat nulis ceritanya, terus komentar jangan lupa berikan masukan kalian tentang cerita ini dan juga komentarnya jika kalian penasaran dengan ceritanya, tentunya agar author tahu kalian suka atau tidak dengan ceritanya......