
“Freya !” ucap Daren.
Ingin rasanya Freya menangis namun dia mencoba menahannya agar air mata nya tidak lolos dari penampungan yang sudah Freya bangun dengan kokoh sehingga hanya menyisakan kemerahan dari sorot mata Freya.
Kini kedua orang yang sedang berdebat sudah memandang ke arah Freya yang sedang berdiri di depan pintu kamar, sebisa mungkin Freya menyembunyikan kesedihan yang sudah menggerogoti dirinya dan berusaha menampilkan senyuman manis di hadapan Lydia dan Daren.
“Oh... i,itu, makanannya sudah siap. Freya hanya ingin memberitahukannya saja.” Suara nya kini sedikit bergetar menahan isak yang sepetinya sudah tidak sanggup di tahannya. “Bi, kak Daren Freya izin ingin keluar sebentar.
Freya akan ke supermarket ada barang yang harus Freya beli.”
“Oh iya nak, baiklah dan jangan lupa bawa payung sepertinya di luar hujan deras.” Lydia sudah bingung untuk berkata seperti apa. Lydia sendiri bertanya-tanya apakah Freya mendengar percakapannya dengan Daren.
Sama hal nya dengan Lydia Daren pun bertanya tanya apakah Freya mendengarnya, kenapa rasanya menyakitkan jika Freya mendengar perkataan yang di ucapkan olehnya tadi, kata-kata perceraian. Sehingga ke khawatiran Daren membuatnya hanya bisa duduk terdiam di tempatnya kini.
Tak ingin berlama-lama Freya langsung berjalan dengan cepatnya menuruni tangga dan kini air matanya sudah lolos membasahi pipinya di iringi sedikit isak yang sudah sedari tadi di tahannya. Di ambilnya payung yang
berada di dekat pintu masuk dan dengan langkahnya yang sudah menjauhi rumah Lydia.
.
.
.
.
.
.
.
“Kemana si pembuat onar itu kenapa belum pulang juga. Memangnya supermarket nya di di planet mana ?”begitulah gerutu-an Daren yang sedari tadi matanya tidak lepas dari pintu depan rumah Lydia.
Sudah setengah jam Freya keluar rumah dan hujan pun seperti tidak menandakan akan segera reda, Daren yang merasa khawatir langsung menyambar payung yang berada ti tempat yang sama dengan Freya tadi ketika
mengambilnya, dan kini langkahnya sudah sedikit berlari mecoba menyusul Freya.
Suara derap langkah Daren terhenti, hatinya merasa lega ketika melihat Freya berjalan ke arahnya sehingga senyuman terukir di kedua
sudut bibir Daren. Hingga Daren bertanya dalam hatinya kenapa dirinya bisa selega itu melihat Freya sudah berada di hadapannya.
“Kenapa lama sekali ?” tanya Daren.
Mendengar suara Daren Freya terlonjak kaget karena dirinya tidak memperhatikan keberadaan laki-laki yang sudah membuatnya bersedih itu, karena sepanjang perjalanan matanya hanya tertuju ke arah jalan dengan
terus menundukkan kepalanya.
“Jawab, kenapa lama sekali ?” berbicara dengan lembut.
__ADS_1
“Hmmm.... hmmmm tadi niatnya, niatnya Freya ingin menunggu hujan reda. Tapi malah semakin besar.” Sudah tersenyum dengan
menampilkan deretan giginya.
Entah Daren sadar atau tidak tidak ada benda atau apapun yang berada di tangan Freya, padahal Freya beralasan ingin membeli sesuatu, namun Daren sendiri kalut dengan pikirannya sendiri. Dan pandangan Daren kini
hanya tertuju pada Freya yang sudah berjalan sejajar dengan dirinya.
“Apakah kau mendengarnya ?” tanya Daren ragu-ragu.
“Mendengar apa ?” Freya berusaha berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Daren padahal dirinya sangatlah mengetahui apa maksud dari pertanyaan tersebut.
“Yang aku katakan.” Langkah keduanya pun terhenti dan saling bersitatap satu sama lain.
“Oh. Iya aku mendengarnya.” Menganggukan kepalanya dan memaksakan kedua sudut bibirnya tersenyum, berusaha menjelaskan lewat sorot.matanya bahwa itu bukanlah apa-apa. ”Kak Daren sudah berencana membuat surat perceraian, karena aku bukanlah wanita yang kau cintai.” Sungguh Freya berusaha menekan suaranya yang bergetar karena menahan tangis.
Dan entah mengapa rasa bersalah kini hinggap di dalam hati Daren, kenapa rasanya sesakit ini batinnya berteriak kesal menyesali
kata-kata yang sudah di ucapkan nya. Hingga tanpa sadar kini langkah Freya sudah
mendahului Daren yang tertinggal di belakangnya.
“Frey.” Panggilan Daren menghentikan langkah kaki Freya yang berusaha tegar “Lalu apa pendapatmu ?”
“Tidak masalah, bukankah memang dari awal kita sudah sepakat seperti itu ?”
Daren baru menyadari langah kaki Freya yang sedikit tertatih-tatih seperti menahan rasa sakit ketika berjalan, sungguh dia baru
“Frey, kaki mu kenapa ?” Dilipatnya payung yang Daren kenakan dan berjalan ke hadapan Freya. Karena tidak mendapat jawaban Daren
langsung berjongkok di hadapan Freya dan memerintahkannya untuk bersedia di gendongnya. “Naiklah.”
“Apa yang kak Daren lakukan ?” Freya merasakan kecanggungan luar biasa “Aku baik-baik saja, tidak perlu seperti itu.”
Sebenarnya ketika Freya berjalan tanpa tentu arah tadi Freya tersandung batu dan membuatnya tersungkur sehingga sebelah kakinya terkilir dan menambah rasa sakit Freya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Daren langsung meraup kedua kaki Freya dan menempelkannya ke belakang punggung nya memerintahkan Freya untuk mengalungkan kedua lengannya. Dan membawanya di dalam gendongannya. Freya menangis di belakang punggung Daren yang sudah menggendongnya kini, karena tidak ingin Daren melihat Freya sedang menangis dijauhkan payung yang sedang memayungi mereka kini sehingga guyuran hujan sudah menerpa kedua tubuh tersebut .
“Apa yang kau lakukan Frey ?” tanya Daren keheranan. “Nanti kau akan kena flu.”
“Tidak apa-apa aku hanya ingin bermain hujan.” Tangannya kini sudah mengibas-ngibaskan payung tersebut memutarnya di atas kepala sembari sesekali
mendongkakkan kepalanya sengaja membiarkan air hujan menerpa wajahnya. “Yuhuuu... seru sekali aku sudah lama tidak bermain hujan seperti ini.”
Freya tersenyum lebar ketika Daren menolehkan pandangannya menatap wajah Freya sehingga senyuman terbentuk di bibir Daren karena melihat kekonyolan Freya, sementara air mata Freya sudah lolos dan kini bercampur dengan air hujan.
Dan kini tangan Freya hanya bisa mendekap leher Daren mencoba merangkulnya dari belakang dengan sekuat tenaga berusaha menyembunyikan isak tangis yang sudah ditahannya, ketika suara isakan nya sudah tidak tertahan Freya akan berteriak gembira sembari tertawa mencoba menunjukan pada Daren bahwa dia suka bermain air hujan.
“Ahahahaa aku bahagia sekali bisa bermain air hujan lagi.”
“Diamlah Frey nanti kita jatuh.”
“Tapi kak Daren aku suka sekali, kau kan tahu kalau sudah dewasa kadang malu jika bermain hujan-hujanan.”
“Lalu sekarang ?”
“Apa ?” tanya Freya heran.
“Apa kau tidak merasa malu ?” tanya Daren.
“Tidak.” Jawabnya tegas. ”Karena kini aku bermain hujan dengan kak Daren.” Mencoba memaksakan tawanya karena menahan rasa sakitnya, menahan luka yang seperti menganga meminta untuk segera di obati.
“Dasar kau ini.” Daren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
__ADS_1
Dan jangan lupa juga vote❤️
Vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa yaaa, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku Sepupuku, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞