Suamiku Sepupuku

Suamiku Sepupuku
Mengunjungi Iris


__ADS_3

Setelah Freya membersihkan seluruh rumahnya kini badannya terasa remuk hingga dirinya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, tanpa sadar cairan putih bening mengalir deras dari matanya hingga turun ke pipinya. Bukan karena sakit fisik yang menyebabkannya tapi sakit dari dalam hatinya yang membuatnya menangis. Harus berapa lama lagi supaya Daren bisa memandang ke arahnya.


Dering ponsel yang berada di dekatnya mengharuskannya untuk melihat dan menerima panggilan tersebut, dilihat layar ponselnya dan tertera nama orang yang sangat dia butuhkan saat ini.


" Halo." berusaha menyembunyikan sisa isakkan tangisnya yang sedikit menimbulkan segukkan.


" Halo, nak. Bagaimana kabarmu nak. Sudah lama tidak menelpon ibu." terdengar suara Iris yang menenangkan hati.


" Baik bu, maafkan Freya bu. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan di kantor. Bagaimana keadaan ibu ? "


" Freya kamu menangis nak ? " terdengar suara Iris mulai khawatir.


" ..... "


Hening tidak ada jawaban ataupun penyangkalan yang keluar dari bibir Freya, seolah suara nya tercekat dan tak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Ingin menyangkal namun kesedihannya membuatnya tak mampu berkata-kata.


" Jangan coba membohongi ibu, ibu ini tahu jangan coba menyangkalnya."


Tangis Freya semakin pecah setelah mendengar kata-kata dari ibunya, suara isakan tangisnya semakin kencang terdengar.


" Bagaimana ibu, bagaimana ini. Aku sungguh sangat mencintai kak Daren. Bahkan nasehat ibu tidak bisa di dengarkan oleh hati Freya." terus menerus mengusap air mata yang mengalir deras.


" Bahkan sebelum nasihat yang ibu berikan Freya sudah terlalu dalam mencintainya bu. Aku harus bagaimana ? "


Sebenarnya Iris sudah mengetahuinya seberapa besar cinta Freya untuk Daren. Hanya saja dia tidak ingin anaknya tersebut terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.


" Datanglah kesini, pulanglah ke rumah ibu. Tenangkan dirimu sebentar."


" Disini juga adalah rumahmu, tempat kamu kembali, mendegar mu menangis seperti ini ibu tidak berdaya. Bahkan ibu tidak bisa memelukmu."


Ide yang diberikan ibunya membuatnya berpikir jika memang benar dia harus menenangkan pikirannya, dan mengunjungi ibunya bukanlah ide yang buruk, malahan bagus untuknya.


" Baiklah bu nanti Freya akan ambil cuti beberapa hari dan akan ke sana secepatnya."


" Iya nak ibu tunggu, nanti ibu akan masak makanan yang enak untukmu."


" Baiklah bu."


" kalau begitu istirahatlah, besok kamu harus bekerja."


" Iya bu, ibu juga."


Akhirnya percakapan antara anak dan ibu itu berakhir karena dirasa waktu yang sudah menunjukan untuk beristirahat.


^•√•^


Pagi hari Freya disibukan dengan memasak sarapan untuk dirinya dan Daren, hingga laki-laki yang ditunggunya datang dan langsung mendaratkan dirinya di kursi bersiap untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Mereka kembali makan bersama setelah perdebatan kemarin karena protesan Daren akan jadwal sialan yang dibuat Freya. Hingga perdebatan tentu dimenangkan oleh beruang kutub.


Tidak ada percakapan diantara mereka, hanya diam satu sama lain sampai si beruang kutub memulai pembicaraannya.


" Setelah pulang kantor mami meminta kita untuk kerumahnya dan makan malam bersama di sana, nanti kita langsung saja bertemu di sana. Kamu nail taksi saja ke rumah mami."


" Memang sejak kapan kita pernah satu mobil. Tiap hari juga aku selalu sendiri."


" Hmmm." hanya itu jawaban Freya untuk Daren, setelah Daren cukup lama menunggu jawaban dan memelototi Freya dengan mata yang seperti mengeluarkan laser.


Baik Freya dan Daren mereka disibukan dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sibuk dengan urusan kantor yang ada. Hingga jam makan siang tiba Daren masih sibuk dengan laptop dihadapannya.


" Daren ayo kita makan siang bersama." ajak Jeff dan tiga serangkai yang selalu bersama-sama seperti kembar identik.


" Kalian pergi lah dulu, aku masih sibuk." tolak Daren.


" Baiklah. Sean, Levon, aku akan makan siang dengan Freya aku sudah janjian dengannya makan siang bersama hari ini. Kalian mau ikut ? "


" Tentu." Kompak Sean dan Levon.


" Aku juga rindu dengan si cantik Freya." jawab Sean asal.


Mendengar kata Freya sontak Daren memundurkan kursinya dengan kakinya dan berdiri secara tiba-tiba, langsung menyambar jasnya yang dia taruh di kursinya.


" Makan dimana ? " menatap Jeff. " Kebetulan aku juga lapar sekali perutku sakit minta diisi."


Tiga serangkai hanya tak habis pikir melihat Daren yang tiba-tiba bersikap aneh dan saling bertatap-tatapan.


" Ayo cepatlah, nanti jam makan siang keburu habis." berjalan mendahului.


^•√•^


Mereka sudah duduk bersama di sebuah restoran, dengan posisi duduk Freya yang berhadapan dengan Daren sementara disisi sebelah kanannya ada Levon dan Sean, sementara disebelah kirinya hanya ada pemabatas kaca yang langsung mengarah ke arah jalan raya. Freya duduk bersebelahan dengan Jeff.


" Kak Daren juga ikut makan siang bersama ? "


" Iya, katanya dia lapar jadi sekalian saja." jawab Jeff.


" Kenapa ? " Daren bertanya dengan sinisnya.


" Tidak apa-apa aku kira sibuk." sambil menundukkan kepalanya.


" Aku juga manusia tentu saja butuh makan."


Akhirnya makanan tiba dan mereka makan dengan lahapnya. Sementara Jeff terus memperhatikan Freya dan tak jarang membagi makanannya bersama.


" Freya makanlah ini." menaruh lauk kedalam mangkuk milik Freya.

__ADS_1


" Terimakasih kak Jeff." tersenyum cerah.


Jeff mengambil tisu dan berniat mengusap bibir Freya karena saus yang ada di bibirnya, namun hal tersebut mengundang amarah beruang kutub.


" Hei bodoh." teriak Daren. " Ada saus dibibir mu. Apa kau tidak sadar, makan saja seperti anak kecil." menggerutu tidak jelas.


" Hei Daren kau keterlaluan, biasa saja jangan berteriak."


Mereka bertiga protes terhadap Daren yang membuat mereka terkejut. Setelah makan bersama mereka kembali ke kantor dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing.


^•√•^


Freya sampai lebih dulu di rumah ibu mertuanya, yang bahkan sejak kedatangannya langsung disambut dengan hangat bahkan diberikan ciuman bertubi-tubi oleh Lydia.


" Sayang mamih kangen sama kamu."


" Iya mih, Freya juga kangen banget." memeluk erat.


Lydia yang sedang memasak langsung disusul oleh Freya setelah selesai menyimpan tas kerjanya dan berniat membantu ibu mertuanya.


" Mam, biar Freya bantu." menawarkan diri.


" Kamu memang anak mamih yang paling baik."


Makanan hampir selesai dan semua orang sudah berkumpul termasuk Daren yang sudah tiba ketika Freya sibuk menata piring dan membawa makanan ke meja makan.


" Daren kau ini selalu saja datang terlambat." gerutu Lydia.


" Pekerjaanku banyak mih." Daren beralasan.


" Selalu saja sibuk dengan pekerjaannya, coba lah urusi usaha hotel kita. Mamih sudah terlalu tua untuk bekerja lagi."


Bukannya mendengarkan perkataan mamihnya Daren hanya melengos dan duduk di kursi makan.


" Kebiasaan anak itu."


Makan malam keluarga pun di mulai mereka makan dengan tenang sambil terus mengobrol menceritakan kegiatan masing-masing.


" Freya gimana kerjaan nya di kantor lancar ? " Lydia mulai bertanya.


" Lancar mih."


" Jangan terlalu capek, istirahat saja. Lagipula ada Daren yang mencari uang jadi tidak usah kerja saja juga tidak apa-apa."


" Nggak mih, Freya suka kerjaan Freya. Lagipula kalau hanya berdiam diri dirumah nanti bosan. Dan juga Freya sudah izin cuti besok Freya akan ke rumah ibu selama beberapa hari."


Daren langsung menatap tajam ke arah Freya, kesal dibuatnya karena perihal mengunjungi ibunya Daren bahkan tidak tahu. Freya tidak ada meminta izin terhadapnya. Sementara Freya tidak peduli dengan tatapan suaminya yang sepetinya menahan amarahnya.

__ADS_1


^•√•^


Jangan lupa klik favorit, like dan komentar nya ya, dan jangan lupa juga vote novel ini sebanyak banyaknya jangan lupa soalnya suka kelupaan kalo keasikan baca, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel Suamiku sepupuku 😘🤗💞💞


__ADS_2