
Setelah insiden air laut yang terjadi dengan Freya perlahan sikap Daren mulai melunak walau tidak dalam artian sepenuhnya, melunak dalam hal meminta tolong, seperti meminta di sajikan makanan dia tidak lagi berteriak-teriak dan lebih sabar dalam menghadapi kekonyolan Freya.
Pagi itu rumah Daren sudah di gemparkan dengan kedatangan maminya yang sangat cerewet dalam segala hal terkadang Daren bertanya apa tengorokan maminya sangat panjang karena semua perkataan hampir keluar dari mulutnya. Padahal di pagi itu Daren masih merasakan tubuhnya yang sangat merindukan kenyamanan tempat tidurnya. Namun sepertinya Lydia tidak terima Daren yang masih setia terlelap di bawah selimutnya sementara Freya kini tengah sibuk mempersiapkan makanan untuk sarapan mereka, dan langsung saja Lydia mencabuti bulu-bulu halus yang sudah tertancap di kaki Daren yang mulus.
“Awww... sakit.” Meringis merasakan perih yang teramat.
“Bangun Daren, kau enak saja tidur bukannya membantu istrimu.” Sudah siap di posisi akan mencabut bulu kaki Daren kembali “Apa mau mami cabut lagi bulu kakimu.”
Dengan siap mode waspada Daren langsung menggelindingkan tubuhnya membungkusnya dengan selimut yang di putarinya dan menuju sisi ranjang lalu menurunkan kakinya sambil memelototi Lydia tajam sementara Lydia sudah tergelak melihat kelakuan anaknya si pembawa masalah.
“Stop, stop, jangan lagi.” Mencoba mengeluarkan dirinya dari selimut yang menyelimutinya “Mami ini kenapa hah, kenapa aku merasa kalau aku ini anak tiri.”
“Kalau kamu anak tiri sudah aku rebus sejak lama. Mana ada ibu tiri yang tahan dengan kelakuan mu yang bisanya hanya membuat masalah saja.”
Mendengar perkataan Lydia Daren hanya mendengus kesal mendengarnya, kenapa maminya itu selalu saja memojokkan dirinya. Dan di setiap perdebatan maminya selalu ingin merasa paling benar. “Sudahlah Daren ingin mandi, jadi mami keluarlah dari kamarku.”
“Dasar anak durhaka, tidak ada sopan-sopannya kamu sama mamimu. Yasudah mandi sana setelah itu turun untuk sarapan.”
“Iya dasar jailangkung.” Bergumam pelan.
Namun seperti Lydia memiliki pendengaran yang awas gerutuan Daren sampai terdengar masuk ke telinganya kini Lydia sudah siap dengan senjata tempurnya siap melempari anaknya yang sangat durhaka tersebut.
“Beraninya kamu !”
Melihat Lydia yang sudah siap melemparkan bantal Daren langsung berlari kencang ke arah kamar mandi, sedangkan Lydia sudah siap membidik sasarannya dan siap melemparkan senjatanya dan dengan sigap Daren berhasil menghindarinya. Karena merasa bantal yang di lemparkan tidak tepat mengenainya kini Daren memposisikan dirinya menghadap ke arah Lydia sambil menjulurkan lidahnya.
Sementara Lydia hanya bisa berdecak sebal melihat kelakuan anaknya, mengidam apa Lydia sampai bisa memiliki anak seperti Daren.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah peperangannya di dalam kamar Daren kini Lydia sudah menuruni anak tangga dan melihat menantunya sedang memasak untuk sarapan pagi itu. Lydia selalu bertanya apa sebenarnya kurangnya Freya, dia cantik, baik, penurut pasti banyak laki-laki yang tertarik kepadanya, tapi kenapa si pembuat masalah itu selalu saja menolak Freya.
“Bibi kenapa melamun, ayo duduklah Freya sudah selesai menyiapkan sarapannya.”
“Ah baiklah.”
Kini langkah Lydia pun tertuju pada meja persegi panjang lengkap dengan kursi-kursi yang berada di sisinya, dengan mudahnya kini Lydia sudah mendaratkan dirinya menduduki kursi mengambil segelas susu lalu meminumnya.
__ADS_1
Kini makanan sudah tersaji di atas meja lengkap dari adanya sandwich telur dan sosis bakar, tak lupa susu hangat penuh kalsium di dalamnya yang menjadi pemasok tubuh untuk kebutuhan aktivitas mereka nanti.
Terdengar suara derap langkah kaki yang seperti menuruni anak tangga dan dilihatnya Daren sudah siap dengan pakaian kantornya lengkap dengan Jam tangan yang sudah melingkar di pergelangan tangannya, kini langkah semakin mendekat siap menduduki kursi setelah sedikit menariknya kebelakang sehingga terdengar suara dari hasil tarikannya.
“Nak cepatlah, ayo kita sarapan bersama.” Ajak Lydia kepada Freya yang masih sibuk membereskan bekas masakannya tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Kini mereka bertiga menikmati sarapan paginya dengan tenang dan bahkan ketenangan itu membuat mata Daren awas mencurigai bahwa itu tidaklah wajar, karena kini dirinya sarapan dengan maminya, Daren yakin pasti ada badai setelahnya.
“Hmmm...” baru satu deheman saja mata Daren sudah awan melihat ke arah Lydia “Besok kalian menginaplah di rumah mami. Besok kalian berdua kan libur.”
“Baik bibi.” Jawab Freya.
“A, apa, kenapa menatap mami seperti itu, memangnya kamu tidak sayang sama mami. Kamu kan jarang sekali berkunjung ke rumah.”
Merasa malas untuk mendebat maminya yang sampai kapanpun merasa paling benar dan tidak mau kalah jika di ajak berdebat , dengan mendengus menghembuskan napas kasar Daren menyetujui keinginan Lydia.
“Baiklah.”
Akhirnya Lydia tersenyum lebar merasakan kepuasan mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Daren, namun bukan Lydia namanya jika hanya memiliki satu keinginan. Bahkan kini Lydia tengah menyeringai seram ke arah Daren dan sontak yang dilihatnya bergidik ngeri.
“Dan... kapan kalian akan memberikan mami cucu. Berikan mami cucu !” rengeknya, meminta cucu seperti meminta boneka saja.
Tentu saja perkataan Lydia yang mendadak membuat Daren maupun Freya tersedak setelah mendengarnya, sampai-sampai keduanya menghabiskan susu mereka masing-masing hingga tandas tak bersisa.
“Apa yang mami katakan tiba-tiba ?” menatap Lydia tajam
“Apanya yang tiba-tiba mami hanya meminta hak mami saja sebagai ibu dan mertua saja. Dan kenapa kalian pisah kamar, bukankah mami sudah mengatakan untuk satu kamar bersama.”
Tentu saja mendengar perkataan Lydia membuat keduanya bungkam tak berniat menjawab pertanyaan Lydia, bahkan kini pandangan Freya sudah tertunduk ke bawah menatap kedua kakinya. Kebingungan harus menjawab dengan jawaban yang seperti apa.
“Sudahlah Daren tidak ingin membahasnya. Lanjutkan saja makannya mi, jangan macam-macam.”
Mendengarnya saja sudah membuat Lydia mendengus kesal, mau membantah pun anaknya memang keras, ingin rasanya Lydia meracuninya sekarang juga. Padahal Lydia sudah mendambakan seorang cucu dari anak-anaknya namun belum ada yang memberikannya baik Delano ataupun Daren.
Mungkin Lydia bisa memaklumi Delano karena tuhan belum memberikan kepercayaan kepada Delano anaknya dan Ella menantunya, tapi berbeda halnya dengan Daren dia bahkan belum mencobanya siapa tahu sekali masuk langsung manjur pikiran Lydia mulai berkelana tak tentu arah.
__ADS_1
“Baiklah, baiklah mami tidak akan membahasnya lagi. Tapi ingat besok kamu harus mengunjungi mami. Awas kalau tidak datang, akan mami hapus namamu dari daftar keluarga.”
Dan jika Lydia sudah mengancam Daren tidak bisa berbuat apapun lagi, tentu saja hanya bisa menuruti perintah sang mami tercinta yang selalu saja banyak maunya.
Hingga sarapan pun berlanjut setelah insiden penuh permintaan dari Lydia membuat sarapan mereka kembali tenang.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf pembaca setia novel aku, baru bisa update karena kesibukan yang aku jalani, kali ini author sedang sibuk untuk persiapan ujian praktek online, dan kemarin baru selesai berduka dan semoga kalian have fun baca novel ini, yang author sadari jauh dari kesempurnaan 🙏🙏🙏
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
klik favorit 📌
like 👍
Dan komentar nya ya 💌
Dan jangan lupa juga vote❤️
Rate nya juga okayy 💃💃
Vote novel ini sebanyak banyaknya, biar author makin semangat nulisnya terimakasih buat semua pembaca novel ini, bentuk dukungan adalah penghargaan bagi para author 😘🤗💞💞
__ADS_1