
Terkadang, dugaan memang berlebihan. Justin terlalu takut di awal, faktanya tidak hanya mampu menghadapi masalah tentang dirinya sendiri. Agny juga menerima semua tentang Justin, masa lalu serta keburukan pria itu.
Buy 1 get 1, saat ini Agny menganggap semua itu sebagai anugerah untuknya. Suami tampan, penyayang walau tidak sabaran. Ditambah lagi dia juga memiliki seorang putra yang tampan, pintar dan penurut meski cukup keras dalam beberapa keadaan. Dia tertawa sumgang kala Justin dan Renaga berdebat perkara warna balon di lirik lagu anak-anak tersebut.
"Merah, Aga."
"Hijau, Daddy!"
Ini bukan perkara dia tengah berusaha membuat putranya kesal. Akan tetapi, Justin tengah mempertahankan kepercayaannya. Ya, dia bertentangan dengan Renaga perkara ini, bahkan ikut menyalahkan Vanya karena telah mengajarkan sebuah kebohongan.
"Dengarkan, Daddy ... merah kuning kelabu merah muda dan biru."
"Kata Mommy hijau," balas Renaga tidak mau kalah, niat awalnya karaoke berdua tapi jadi berdebat perkara hal sepele.
"Kata Daddy merah."
"No, Hijau."
"Merah."
"Hijau, Dad ... yang meletus, 'kan warna hijau. Daddy nyanyi tidak ada balon hijaunya," jelas Renaga usai menghela napas panjang, dengan microphone masing-masing mereka memang terlihat begitu manis.
"Ya karena itu hijaunya hilang," jawab Justin tidak mau kalah, mungkin jika para sahabatnya mendengar, IQ Justin dianggap gugur begitu saja.
"Tidak hilang, Daddy ... cuma meletus."
Dia sudah hampir menangis, tapi Justin masih saja bahagia memperdebatkan masalah itu. Lucu, dia suka pendirian putranya yang tidak mau mengalah. Walau memang sebenarnya dia juga sama, menurutnya warna balon pertama adalah merah.
"Tetap hilang dong, yang namanya meletus hilang."
"Ah Daddy menyebalkan, balonnya hijau dibilangin!!"
"Daddy maunya merah," balas Justin hingga berakhir dengan Renaga yang merampas microphone Justin.
__ADS_1
Dia berlari ke arah Agny demi memastikan bahwa ucapannya tidak salah. Justin mengikuti langkah putranya, semakin dikejar larinya semakin cepat dan keduanya berlomba untuk sampai lebih dulu.
"Mommy, balonnya warna hijau benar, 'kan?"
Agny tidak segera menjawab, dia merasa terenyuh dengan perubahan Renaga setelah dua minggu bersamanya. Sungguh, lelahnya terbayarkan karena ini benar-benar merasa dekat dengan putra sambungnya.
"Jawab, Mommy."
"Coba nyanyi dulu, Mommy lupa sedikit," pinta Agny yang masih menginginkan putra sambungnya berceloteh dan memperjuangkan pendapatnya.
Pemandangan ini sangat manis, tapi Justin ingin menangis. Dia tersenyum begitu tipis melihat putranya bernyanyi masih dengan microphone andalannya. Tidak hanya Renaga yang membuat Justin menghangat, melainkan Agny juga.
Istrinya terlihat amat tulus, hingga tanpa dia sadari Renaga memanggilnya beberapa kali. Akhir-akhir ini Justin kerap tuli lantaran terlalu dalam menyelam dalam dunia khayalnya.
"Daddy salah, kata Mommy benar hijau."
"Oh iya? Tapi, sepertinya kamu dan Mommy yang salah."
Lihatlah, bahkan setelah Agny turun tangan dia masih enggan mengalah. Pria itu memang batu, jadi wajar saja tidak ada habisnya. "Up to you, Daddy ... Aga lelah," ucapnya menyerah dan naik ke sofa dengan bantuan Agny.
Renaga terbiasa dimanjakan, akan tetapi setelah kondisi Vanya kian memburuk dia menjadi kehilangan banyak momen. Kini, dengan hadirnya Agny, jiwa Renaga merasakan ketulusan seorang ibu yang sesungguhnya.
Melihat putranya berkuasa sejak beberapa hari lalu, Justin tidak mau kalah. Dia ikut mendekat dan memeluk sang istri begitu erat. Tidak ada drama perebutan tahta seperti Keyvan, ya mungkin karena Renaga sudah cukup besar dan dia mampu membawa diri.
Dia sama sekali tidak keberatan dengan tangan Justin yang turut memeluknya. Perlahan mata putranya kian redup, Justin mengusap pelan wajahnya. Terlalu bersemangat karaoke bersama, rambut Renaga bahkan basah.
.
.
"Cih, keras kepala ... dia akan jadi penjagamu dan adik-adiknya di masa depan," ucap Justin lembut dan hal itu sontak membuat Agny mengerutkan dahi.
"Hm? Lalu kamu kemana?"
__ADS_1
"Aku, ya ada ... tapi pasti ada masanya aku pergi dan hanya Renaga menggantikan peranku, kamu ingat perbedaan usia kita, 'kan?"
Mendadak bicara ke arah yang paling tidak Agny suka. Demi Tuhan dia benci sekali sebuah perpisahan semacam itu, dia ingin menangis tiba-tiba usai Justin mengatakan hal itu.
"Ih apasih ngomongnya begitu? Kamu mabuk ya jangan-jangan?" kesal Agny bicara dengan sedikit emosinya, dia tidak suka Justin asal bicara begini, demi apapun rasanya kesal sekali.
"Aku tidak minum lagi, Sayang. Mana mungkin mabuk," jawab Justin menatap manik tajam sang istri yang saat ini terlihat ingin menggigitnya hidup-hidup.
"Jangan asal bicaranya, aku tidak suka."
"Kenapa? Takut aku mati ya?" tanya Justin terkekeh dan hal itu membuat Agny sebal luar biasa, dengan sengaja dia mencubit perut Justin hingga pria itu mengaduh sakit.
"Ck, aku cubit yang lain mau?" ancam Justin dengan mata yang mulai menelisik ke arah sensitif Agny, memang otak Justin perlu sekali di cuci tampaknya.
"Cubit saja, kamu mau cubit bagian mana?" Kebiasaan sekali jika posisinya aman, maka Agny akan menggoda Justin hingga pria itu memejamkan mata.
"Jangan menggodaku, kau tau kalau dia semangat sekali berdirinya," ungkap Justin menunjuk bagian bawah perutnya.
"Lemah sekali imannya, masa begitu saja tergoda ... malu sama Aga ntar."
Benar, sejak ada Renaga dia tidak lagi bebas. Ingin dia memakan istrinya siang ini, tapi putranya belum begitu lelap. Namun, yang namanya Justin tentu akan melakukan segala hal jika dia ingin.
Tanpa izin Agny, Justin mengambil alih Renaga pelan-pelan. Dia akan memindahkan putranya tidur di kamar, setelah itu dia akan memberikan pelajaran untuk istrinya yang berani mengusik iman Justin.
"Bi-biarkan saja dia tidur di sini."
"Lebih baik dia di kamar, kamu jangan coba-coba lari dariku," ucap Justin sebelum kemudian melangkah ke kamar Renaga, sontak Agny terdiam dan mengerjapkan matanya.
"T-tapi kan ... ck, memang salahmu, Agny."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -