
Beberapa saat menunggu, Agny belum juga kembali. Hingga di titik bosannya Justin menunggu, lembaran uang tiba-tiba mendarat di pahanya. Dia mendongak dan melihat dengan jelas seorang pria dan wanita muda melewatinya seraya mengatupkan kedua telapak tangan.
"Kasihan ya, padahal tampan."
"Mungkin lumpuh, aku lihat dia sangat menyedihkan."
"Kita harus banyak bersyukur, Sayang ... masih ada yang lebih sulit daripada kita.
Suara itu terdengar samar di telinga Justin, meski mereka kian jauh. Sesaat kemudian dia baru sadar apa yang tengah terjadi padanya, dia menatap lembaran uang berwarna ungu itu dengan tatapan tak percaya.
"What? Maksud dua cecunguk itu aku pengemis?" tanya Justin pada diri sendiri.
Kekesalan memenuhi rongga dadanya, dia berusaha berdiri dan memaki mereka. Sungguh, nasibnya benar-benar sial hari ini. Apa mungkin arwah Arga mulai balas dendam hingga Justin merasakan karma satu persatu.
"Heh!! Ambil uang kalian, aku tidak butuh!!"
"Woey ... Badjingan!! Aku bahkan bisa membeli hidup kalian, Settaaaan!!" pekik Justin hingga tenggorokannya sakit. Demi apapun, dia marah luar biasa karena dianggap pengemis jalanan.
Akan tetapi percuma, karena pada faktanya suara Justin kalah dengan berisiknya kendaraan. Dadanya masih kembang kempis, namun uang pemberian itu masih Justin genggam.
Plak
"HAAAAAAH APALAGI?!!"
Justin menoleh dan terkejut melihat sang istri yang tengah memejamkan mata akibat teriakannya. Wajah Justin sontak berubah, dia baru menyadari jika yang menepuk pundaknya adalah Agny.
"Sayang?"
__ADS_1
"Kenapa teriak-teriak?"
"Ah tidak, aku terkejut saja," jawab Justin tersenyum penuh makna, bersyukur sekali akhirnya sang istri kembali dengan cepat.
"Uang? Dapat dari mana?"
"Hah? Oh ... ini, ta-tadi terbang dari sana, aku tangkap siapa tahu pemiliknya sadar kalau uangnya jatuh," jawab Justin memilih jawaban yang sekiranya tidak akan membuatnya malu.
"Oh, ya sudah simpan dulu sini ... aku ada sakunya, kamu tidak."
"Ta-tapi, Sayang ...." Justin gengsi, demi apapun dia sangat marah dengan hadirnya uang itu lantaran dianggap pengemis.
"Astaga, tidak akan aku pakai. Nanti kita kembalikan, kalau memang ada yang cari."
"Ka-kalau tidak bagaimana?"
"Dompetmu bawa?"
"Bawa, tapi uangnya sedikit jadi habis ... atmku ketinggalan, kamu tidak bawa juga, 'kan?"
Siallan, tampaknya memang takdir Justin harus menggunakan uang itu hari ini. Dia benar-benar salah tingkah dan mencari cara agar uang itu tidak terpakai, entah kenapa jika sampai benar-benar digunakan Justin merasa tengah menjilat ludah sendiri.
"Kita pulang saja setelah ini, pinjam ponselmu."
"Mati barusan, tuh lihat," ucap Agny dan ini adalah bencana kedua yang harus Justin hadapi. Bagaimana dia hendak mengubungi Keyvan ataupun Keny, untuk kali pertama Justin menyesal menyusul Agny dengan cara nekat naik bus juga.
"Lalu bagaimana? Ck, siallan!! Ini semua karena Arga, sudah meninggal masih saja merepotkan."
__ADS_1
.
.
"Sssshhh perih."
Sebenarnya tidak terlalu, dia hanya sedang drama karena di hadapan Agny. Biasanya juga Justin mengalami luka yang lebih parah dari itu. Sudah dia duga istrinya yang memang selalu khawatir akan hal kecil panik begitu Justin menggigit bibir bawahnya.
Mata keduanya kembali bertemu, Agny menghela napas perlahan lantaran suaminya tidak bisa diam. Padahal baru proses membersihkan luka, belum membalut dan semacamnya.
"Lanjutkan, aku tidak akan berisik lagi."
Seakan tahu apa yang ada dipikiran sang istri, Justin berucap pelan kemudian mengalihkan pandangannya. Percayalah, saat ini perasaan Agny belum baik-baik saja. Kenapa juga Justin harus luka hingga membuatnya harus jadi perawat tiba-tiba.
Sesuai janjinya, Justin memang tidak berisik. Agny membalut pelan luka Justin, penuh kehati-hatian dan perasaan. Namun, sesaat kemudian pikirannya kembali mengingat beberapa foto Justin yang tersebar di internet semalam, semesra itu posenya bahkan membuat Agny muak padahal memang profesinya adalah model majalah dewasa kala itu.
Tanpa dia sadari, Agny menekan luka Justin hingga pria itu mengaduh bahkan menggigit tangannya. Dia menatap Agny tak percaya dan masih berpikir sang istri masih marah atau tidak sebenarnya.
"Masih marah ya? Kalau dengan cara yang begitu kamu bisa puas, ayo tekan lagi," ujar Justin mengangkat kakinya hingga sejajar dengan wajah sang istri. Sontak tangan Agny mendarat tepat di tulang keringnya lantaran aksi Justin yang luar biasa sopan itu.
"Jangan bercanda, aku sedang tidak suka."
Agny mendadak serius dan dia duduk di sebelah Justin. Untuk kali pertama mereka menghabiskan waktu di pinggiran trotoar sembari menatap lalu lalang kendaraan.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -