Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 92 - Ketakutan


__ADS_3

"Dasar wanita bodoh."


Justin menatap datar Vanya yang saat ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wanita itu pergi dengan meggoreskan luka dalam benak Justin, tanpa Justin duga banyak hal yang berubah. Entah apa yang Vanya cari hingga dulu berkhianat darinya, Justin merasa tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Akan tetapi, memang semesta tidak mengizinkan Justin bahagia bersama wanita itu.


Meski seburuk itu seorang Vanya, akan tetapi sama sekali dia tidak berharap mantan istrinya itu menanggung sakit separah itu. HIV, sebuah hal yang wajar saja untuk seorang Vanya. Terlebih lagi, jika mengingat siapa Arga, akan tetapi melihat tangisan Renaga tadi hati Justin tetap tidak nyaman.


"Kenapa kau tidak memberitahuku, James?" tanya Justin kemudian menatap pria berjas putih yang sejak tadi berdiri di seberangnya.


"Andai aku memberitahumu, aku rasa kau tidak akan peduli, Justin."


"Tapi setidaknya aku bisa membantunya demi anak itu," tutur Justin menatap nanar tanpa arah.


Dia bingung dengan dirinya sendiri, entah kenapa semenjak melihat anak itu Justin seakan lupa dengan sumpahnya yang begitu membenci Vanya. Apa mungkin tangis Renaga menjadi sesal Justin yang sesungguhnya, entahlah.


"Jika hanya ingin membantunya, aku juga bisa, Justin. Tapi, Vanya yang menolak dan tidak pernah datang lagi ke rumah sakit setelah mengetahui penyakitnya," jelas James, pria yang sejak dahulu mengenal Justin dan vanya sebagai pasangan yang patah akibat kehadiran orang ketiga.


"Sama sekali?"


"Iyes, Kau tahu siapa suaminya ... Argantara, orang seperti dia mana peduli kesehatan pasangan."


Justin mengepalkan tangannya, ingin marah tapi rasanya percuma. Toh, Vanya buka siapa-siapa baginya. Terserah dia, lagipula memang Vanya yang memilih jalan penderitaan bersama Arga.


Keadaannya sesulit itu, akan tetapi kenapa bisa dengan kepercayaan diri penuh Vanya mengatakan sanggup menghidupi Renaga sendirian tanpa bantuannya. Memang benar, wanita itu akan tetap munafik sampai akhir.


"Ah iya, soal anak itu kau yakin, Justin?"


"Tetap DNA, tidak lama, 'kan?" tanya Justin yang kemudian membuat James menghela napas pelan.


"Hm, tidak lama."


Pria itu keluar dengan langkah panjang, tidak ingin Agny yang menunggu di luar berpikir macam-macam. Untuk yang kali ini Justin tidak ingin ada salah paham, dia meminta Agny untuk datang ke rumah sakit tepat beberapa saat mereka tiba.

__ADS_1


.


.


"Gimana?"


Baru saja Justin keluar, Agny menyambutnya dengan segudang pernyataan. Celakanya, Justin justru tersenyum dan membuat Agny memukul dadanya.


"Aaaww ... kenapa?"


"Aku tanya, keadaannya gimana? Kamu senyum-senyum begitu kenapa?" kesal Agny menuntut Justin dengan pertanyaan sedemikian rupa.


Dia bukan sedang marah pada Justin, akan tetapi dari jarak yang tidak begitu jauh ada Renaga yang duduk dengan sejuta kecemasan menunggu kabar tentang ibunya.


"kita bicarakan nanti saja," jawab Justin ketika menyadari kehadiran Renaga yang kini tampak menunggunya.


Kembali seperti tadi, anak itu menatap Justin tak suka. Mungkin kesal karena dia tertawa usai keluar dari ruangan Vanya, raut wajah Justin berubah sedikit cemas. Gawat jika sampai anak itu salah paham.


"Belum, dia menolak."


"Dia kasar padamu?"


Bak seorang ayah yang khawatir anaknya akan kurang ajar pada orang lain, Justin memastikan hal itu pada istrinya.


"Tidak, hanya saja memang pendiam. Dia tampan dan kalian sangat mirip, harusnya tidak ada keraguan anak itu memang darah dagingmu," ucap Agny menatap Renaga yang kini memalingkan muka dan melihat ke arah lainnya. Mungkin sadar jika dia tengah menjadi pusat perhatian dua insan itu.


Justin tidak menjawab, dia memilih diam kemudian melangkah mendekati Renaga. Anak itu tampaknya selalu buas saat dia dekati, bahkan tanpa ragu dia menjauh ketika Justin duduk di sebelahnya.


"Ck, dia menyebalkan. Sepertinya bukan anakku," gumam Justin dan itu terdengar oleh Agny yang baru saja mendekati mereka.


"Hati-hati, anak seusianya merekam semua yang dia dengar hingga dewasa nanti."

__ADS_1


"Memang dia menyebalkan, kamu tahu tadi pagi dia mengira aku akan membunuhnya? Aku sewaktu kecil penurut, tidak mung_"


"Shuut, jangan sembarangan ... dekati sana," titah Agny seraya menggeleng pelan lantaran sikap Justin yang sedikit tidak sadar diri.


Dia mengumpat lantaran Renaga menyebalkan, padahal dia juga sama. Usai mendengar ucapan Agny, terpaksa Justin mendekati Renaga pelan-pelan. Baru saja mendekat, Renaga menepis tangannya.


"Don't touch me."


Justin mengatupkan bibirnya usai mendengar anak itu bicara. Apa tadi katanya? Don't touch me, siapa yang mengajarinya mengatakan hal semacam itu. Sungguh, Justin bingung apa sebenarnya yang Renaga lihat hingga dia merasa anak ini tidak seperti anak seusianya.


Tangan Renaga begitu enteng untuk menepis, bahkan seperti hendak melayangkan pukulan pada Justin ketika dia memanggil Renaga seraya menarik tangannya.


Tidak hanya Justin yang terkejut, tapi juga Agny. Terbiasa bersama anak kecil, Agny dapat mlihat ketakutan yang Renaga rasa saat Justin mendekatinya.


Sebenarnya bukan hanya pada Justin, beberapa saat yang lalu ketika seorang pria seusia Justin mendekat dia juga menunjukkan reaksi yang sama. Renaga terlihat takut, dia memilih diam dan mendekati Agny. Itu artinya, yang dia takuti hanya laki-laki dewasa.


"Apa mungkin kak Arga yang jadi pemicunya?"


"Renaga."


"Ehm."


Dia mendongak, menatap manik Agny dengan matanya yang berkaca-kaca. Lihat, perbedaannya jelas sekali, Justin meneguk salivanya pahit. Apa yang terjadi, apa mungkin Renaga benar-benar takut padanya karena kejadian malam itu, tapi rasanya Vanya sudah jelaskan jika itu bukan disakiti, pikir Justin.


"Kenapa menangis?" tanya Agny mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.


"Takut," bisik Renaga pelan sekali, dia bergetar dan bahkan turun dari kursi tunggu itu demi menghindari Justin. Dia memilih diam dalam dekapan Agny padahal Justin sama sekali tidak brmaksud jahat padanya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2