Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 81 - Bicaralah!!


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, Justin sudah tiba di sebuah pusat perjudian itu. Dia memang sempat datang beberapa kali dahulu, kini dia kembali setelah cukup lama tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Kehadiran Justin disambut baik, jelas mereka yang mengenal Justin merasa terhormat dengan kedatangannya.


"Justin? Ini kau?"


"Hm, aku merindukan tempat ini."


Justin tersenyum tipis pada pria berkumis tebal itu. Pemilik tempat ini jelas lebih memihak Justin, dia bisa memanfaatkan kesempatan untuk memberi pelajaran pada Arga. Hanya bermodalkan foto Arga, dia dengan mudah menemukan pria itu.


"Dia yang kau maksud?"


"Iya," jawab Justin kemudian melangkah maju, dia tidak mengucapkan tujuan sebenarnya mencari Arga. Hanya saja, dia mengatakan ingin mengalahkan pria itu di meja judi.


Beberapa saat Justin perhatikan, dia masih memberi kesempatan pada Arga untuk menikmati kemenangan. Dia tersenyum tipis, tampaknya Arga terlampau bahagia malam ini. Tawanya terdengar memenuhi ruangan, kedua wanita di samping kanan dan kirinya terlihat menjijikkan di mata Justin.


Arga besorak dan membanggakan kemenangannya. Bahkan dia tidak segan mengecup bibir wanita bayaran di kanan kirinya. Miris sekali nasib Vanya, berkhianat dari Justin hanya demi pria sampah semacam Arga. Lagi dan lagi, Justin mengibarkan bendera kemenangan atas karma yang Vanya terima.


"Siapa lagi yang ingin melawanku? Hahaha sudah kukatakan Dewi Fortuna berihak padaku malam ini."


Sebegitu bangganya dia dengan kemenangan yang sifatnya sementara. Hingga, Justin duduk di hadapannya dengan wajah yang terlihat tenang dan santai sekali.


"Justin? Mau apa kau?"


"Hm, melawanmu ... aku merindukan kekalahanmu," ucap Justin hingga raut wajah Arga sontak berubah.


Tidak hanya itu, Arga mendadak gugup bahkan tangannya sudah dingin tiba-tiba. Sudah lama Justin tidak datang ke tempat ini, lalu kini kembali padahal seharusnya sekarang Jutsin tengah kebingungan dengan berbagai isu miring yang menerpa dirinya.


"Oh, ingin melawanku rupanya? Sudah izin istri belum?" tanya Arga dengan nada ejekan dan dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja meski merasa bencana tengah mengancamnya.

__ADS_1


"Orang seperti kita apa butuh izin istri, Arga? Istrimu bahkan sakit di rumahnya, seharusnya pastikan dulu dia berobat baru berjudi."


Justin mengucapkan kalimat sarkas hingga membuat wajah Arga memerah. Bagaimana dia tidak malu, beberapa jam lalu Arga mengaku lajang demi mendapat wanita gratisan di samping kiri dan kanannya.


"Ck, jangan banyak bicara ... ayo, kita sudah lama tidak bertarung."


Arga bunuh diri, Justin tersenyum tipis melihat Arga yang tampaknya siap pulang dengan kantong kosong. Justin tidak akan buru-buru, dia ingin membuat Arga stres sedikit malam ini.


Semua berjalan sebagaimana mestinya, dalam waktu tidak begitu lama Justin membuat Arga terkuras hingga hanya menyisakan wajah masamnya. Kedua wanita yang berada di sisi Arga memilih pergi setelah mengetahui pria itu sudah tidak punya apa-apa, ya terpedaya di meja judi.


"Hei, Badjingan ... apa tujuanmu sebenarnya?"


Justin tertawa sumbang kala melihat sorot tajam Arga, terlihat jelas pria itu marah dan tidak terima akan kekalahannya. Justin mendekat, di tempat ini tinggal mereka berdua karena jelas permainan tidak menarik lagi.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau mau, bedebah!!"


"Siapa yang membayarmu?"


"Kau pikir, aku akan buka mulut?"


Benar-benar cari mati, dia masih bisa bertanya semacam itu padahal Justin sudah membuat hidupnya terancam. Tanpa pikir panjang, dia mendaratkan pukulan tepat di perut Arga beberapa kali hingga pada akhirnya pria itu melemah.


"Berapa yang harus kubayar agar mulutmu mau mengaku, Arga?"


Arga adalah pria haus harta, tapi malas bekerja. Justin sangat paham konsep hidup pria itu, dengan uang dia mampu membuat Arga jujur dengan mudah. "Semua itu, akan kembali padamu ... bahkan mobilku, untukmu."


Arga meneguk salivanya, jumlah uang yang tadi dia pertaruhkan di meja judi sangatlah besar. Tidak hanya itu, kontak mobil akan Justin berikan cuma-cuma. Mobil dengan harga milyaran itu jelas saja membuat Arga yang mata duitan tergiur tanpa perlu dirayu.

__ADS_1


"Bicara!!" desak Justin kemudian tanpa mengeluarkan tenaga lagi untuk membuatnya mengaku lantaran mata Arga menunjukkan dia tertarik.


"Kurang? Besok temui aku, 500 juta cash ... asal kau mau mengungkapkan yang sebenarnya terjadi."


"500 juta?"


"Hm, kau ingin uang, 'kan? Kau tidak lupa siapa aku? Aku rasa lebih besar daripada bayaranmu saat ini."


Arga mengangguk, hanya diminta mengaku dan uang yang dia dapat berkali lipat daripada merekayasa semua keadaan dan usaha yang dia lakukan cukup menantang. Jelas saja dia lebih tertarik mendengar tawaran Justin.


"Bagaimana?"


"Deal, aku akan mengatakan yang sebenarnya."


Justin tersenyum, dia merogoh ponselnya kemudian meminta Arga untuk menuntaskan segalanya. Hal ini dia rencanakan selama perjalanan menuju tempat ini.


"Aku harus mulai dari mana?" tanya Arga bingung kala Justin mengarahkan kamera ponsel padanya, tidak pernah dia duga bahwa akan melakukan klarifikasi semacam ini.


"Terserah, yang jelas namaku dan Agny harus bersih."


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2