
"Vanya!!"
Samar terdengar seseorang berteriak memanggil namanya, apa mungkin Arga pulang? Aneh sekali, biasanya juga pulang pagi. Vanya ragu hendak keluar, namun beberapa saat kemudian suara itu kian jelas hingga membuatnya berlalu ke luar kamar.
"Iya sebentar."
Siapa yang datang malam-malam begini, apa mungkin Arga ketinggalan sesuatu. Akan tetapi, jika memang begitu harusnya dia menghubungi Vanya lebih dulu.
"Vanya, keluar!!"
"Sebentar," teriak Vanya setengah berlari, pikiran Vanya masih berkeliaran dan berperang bersama rasa kantuknya.
Hingga, mata Vanya membulat sempurna kala pintu sudah terbuka. Lutut Vanya mendadak lemas dan dia bermaksud untuk menutup pintu itu segera. Ya, dia takut pada pria yang dahulu sempat menjadi tempatnya bergantung.
BRAK
"Kita perlu bicara!!"
Tenaga Justin tidak mampu dia lawan, Vanya mundur beberapa langkah kala Justin menerobos masuk dan menatapnya dengan mata yang penuh kemarahan. Tangan pria itu mengpepal, sama sekali dia tidak simpati melihat perubahan fisik Vanya.
"Bi-bicara apa, Justin?"
__ADS_1
PLAK
Tamparan pertama yang mendarat untuk seorang wanita. Justin kehilangan dirinya, entah kenapa dia benar-benar marah bahkan tidak ada satu kalimatpun yang bisa mengampuni Vanya. Dahulu saja, ketika Justin memergokinya bersama Arga di kamar, Justin tidak sampai memukulnya.
"Justin?"
"Kau cari mati? Apa yang kau dapatkan sampai berani memfitnahku sejahat itu, hah?!" bentak Justin kembali mengangkat tangannya, akan tetapi dia urungkan ketika seorang anak laki-laki berdiri tak jauh dari mereka.
"Jangan pukul Mommy!!" pekiknya seraya menatap tajam Justin.
Renaga yang sejak tadi tertidur dibuat terkejut kala mendengar kericuhan di ruang tamu. Dia yang terbiasa dengan cekcok kedua orang tuanya tidak bisa diam kali ini. Apalagi, ketika dia mendengar suara pria yang menurutnya asing itu.
"Aga masuk, Mommy tidak apa-apa." Vanya panik, dia menatap Renaga dan meminta putranya menjauh. Dia hanya takut Justin akan menyakiti Renaga juga.
Renaga berucap dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia ingin mendekat, tapi mata Justin terlalu menakutkan hingga dia hanya berani berdiri dengan jarak beberapa meter di sana.
"No, Mommy tidak dipukul ... sana masuk, tadi ada nyamuk makanya Mommy tepuk."
Vanya menenangkan putranya, hal semacam ini tidak perlu Renaga saksikan. Cukup pertikaiannya bersama Arga yang Renaga lihat, dia tidak ingin Renaga menilai semua pria dewasa sebagai tukang pukul.
Beberapa saat suasana menghangat dengan interaksi mereka. Justin terdiam dan matanya tidak berhenti menatap anak laki-laki itu, secepat mungkin Justin menggelengkan kepala dan dia yakin bukan darah dagingnya.
__ADS_1
"Tapi pipi Mommy?"
"Mommy tepuknya terlalu keras, tadi kaget. Sudah sana tidur," ucap Vanya terlihat baik-baik saja, padahal sudut bibirnya terasa perih setelah Justin tampar sekuat itu.
Dia bingung kenapa Justin tiba-tiba datang dan melakukan kekerasan padanya. Lima tahun berlalu, tiba-tiba saja keduanya bertemu dalam keadaan begini. Jujur saja Vanya malu, perasaan takut dan benar-benar ingin berlari ketika Justin datangi menyeruak begitu saja.
"Bicaralah, tidak perlu berteriak ... hari sudah malam dan anakku harus tidur." Vanya bicara tanpa berani menatap Justin, berusaha menjaga jarak lantaran takut telapak tangan lebar itu akan kembali mendarat ke wajahnya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kedatanganku pasti sudah kau duga ... atau sebenarnya kau sengaja menebar fitnah kejii semacam itu agar aku datangi?" tanya Justin dan lagi-lagi hal itu membuat Vanya bingung, dia mendongak dan menggeleng pelan.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Justin. Demi Tuhan, aku tidak melakukan apapun, fitnah apa? Apa manfaatnya aku memfitnahmu? Kita bercerai sudah lima tahun, apa pernah aku mengusikmu selama ini? Tidak!!"
Vanya berani bersumpah, dia tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, tampaknya Justin tetap tidak percaya. Tanpa sedikitpun rasa iba, pria itu mendorong tubuh Vanya hingga membentur tembok. Tidak dia dorong dari pundak melainkan dileher, Justin menggila hingga dia mampu mencekik wanita lemah seperti Vanya.
"Kua pasti tidak lupa bagaimana caraku marah, Vanya? Jangan membuatku gila, kau tidak ingin kematianmu kupercepat malam ini, 'kan?" tanya Justin mengeraskan rahangnya, pria itu benar-benar kehilangan kendali sepertinya.
"Lepaskan, Justin ... A-aku tidak mengerti apa yang kau maksud!!"
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -