Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 96 - Berbagi


__ADS_3

Hadirnya Renaga membuat Justin harus membagi waktu. Setelah dia pastikan putranya kembali tertidur, pria itu berlalu ke dapur. Makan malamnya sudah Agny siapkan, kini sudah terasa dingin.


Baru dia sadar, Justin cukup lama bersama Renaga. Akan tetapi, tidak mungkin Justin merepotkan Agny lagi. Istrinya tentu sudah tidur, wajar saja sebenarnya jika Justin ditinggal tidur lantaran dia bahkan sempat tertidur di sisi Renaga.


Tidak ingin istrinya kecewa, Justin tetap makan meski sebenarnya tidak terlalu lapar lagi. Justin cepat-cepat menghabiskan makan malamnya, pria itu segera berlalu ke kamar usai makan malam.


Jika tadi perasaan bersalah menimpanya ketika hendak masuk ke kamar Renaga, kini dia merasakan hal yang sama kala hendak masuk ke kamarnya. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana Agny menunggunya lama, selama ini Justin selalu berusaha agar pulang malam lantaran khawatir Agny kurang istirahat.


Perlahan dia membuka pintu kamar, lampunya memang masih menyala. Akan tetapi, saat ini manusianya sudah terkulai lemah dengan memegang buah apel yang sudah dia gigit setengah.


Justin panik tentu saja, otaknya yang kreatif sudah melayang pada dongeng karakter fiksi yang disukai anak-anak. Ya, kisah putri salju yang tidur bertahun-tahun hanya karena apel dari penyihir jahat.


"Sayang," panggil Justin cemas, dia membuka mulut sang istri dengan jemarinya. Tidak ada apa-apa di sana. Syukurlah, untuk sesaat Justin terlihat tenang.


Akan tetapi, mendapati Agny yang tidak bangun-bangun Justin tentu khawatir. Apa mungkin di apel tersebut terdapat zat beracun hingga dia begini. Tidak ingin menduga-duga, Justin mengambil apel itu dari tangan Agny.


Dia perhatikan dengan seksama dan memberanikan diri untuk menggigitnya. Tanpa berpikir panjang bagaimana jika benar-benar beracun. Satu gigitan dia baik-baik saja, merasa ragu Justin memakannya hingga habis dan dia tidak merasakan hal yang aneh dengan dirinya.


"Ck, tidurnya kenapa selalu begini."


Justin membenarkan Agny yang tidur dengan kaki menggantung di dan hanya sebagian tubuhnya di atas ranjang. Sepertinya dia ketiduran, ponsel sang istri masih menyala dan drama kesukaannya masih berjalan.


"Agny ... Sayang. Bantalnya ketinggian, sebentar ya."

__ADS_1


"Eeeuungh."


Kebiasaan sekali jika diganggu tidurnya dia akan melenguh bahkan sengaja menepuk wajah Justin. Dia tidak suka kala merasa terganggu, dan hal itu membuat Justin gemas sendiri.


Setelah posisi tidur istrinya membaik, pria itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Salah memang, seharusnya dia mandi lebih dulu sebelum menemui Renaga, akan tetapi perasaan Justin tadi membuatnya melangkah pada sang putra lebih dulu.


Semua baik-baik saja, Justin meghabiskan waktunya secara mandiri. Tanpa mengganggu tidur istrinya, Justin kini telah selesai dan ikut naik ke atas ranjang.


"Haaah Mama!!" teriak Agny kemudian dengan posisi yang mendadak duduk hingga Justin terperanjat atas ulah istrinya.


"Astaga, kamu kenapa?" tanya Justin bingung sendiri apa yang terjadi dengan istrinya.


Dia yang tadinya tertidur pulas kini terjaga sejaga-jaganya. Agny menyibak selimut hingga membuat Justin terpaksa turun dari tempat tidurnya, aneh sekali Agny malam ini.


"Apelku? Mana ... a-aku mimpi buruk, raksasa buruk rupa itu mencuri apelku. Aduh, mana ya?" Dia terlihat gugup, bibirnya pucat dan kehilangan begitu dalam.


Tunggu dulu, apa tadi Agny bilang? Raksasa buruk rupa? Justin merasa terhina dan kini menatap Agny datar. Dia biarkan istrinya sibuk sendiri, mencari apel hingga dia memeriksa ke bawah bantal.


"Aah bantuin, tadi masih segini ... belum aku habiskan, tidak mungkin raksasa itu nyata, 'kan?"


"Nyata, Sayang nyata!!"


Ingin rasanya Justin berteriak sejadi-jadinya. Akan tetapi tidak mungkin dia marah hanya perkara mimpi buruk sang istri. Pria itu masih bersikap tenang, hingga dia menyadari istrinya menangis setelah lelah mencari.

__ADS_1


Memang tidak meraung, dia juga mengusap air mata ketika membelakangi Justin. Akan tetapi, Justin sangat sadar jika kehilangan Agny terlalu dalam hingga dia merasa sesedih ini.


Melihat punggungnya bergetar, Justin mendekat dan memeluknya dari belakang. Perkara sekecil ini tampaknya akan jadi masalah jika tidak dia selesaikan. Meski sadar setelah Agny tahu, Justin akan mendapat berbagai cercaan.


"Apelnya aku yang makan."


Tanpa ditanya, Justin mengutarakan hal itu hingga Agny menoleh ke arah sang suami. Senyum tulus Justin berikan agar istrinya terlihat tenang. "Kapan?"


"Tadi, aku pikir apelnya beracun karena kamu tidak bangun-bangun. Aku hanya ingin memastikan, ternyata bukan," jawab Justin tanpa merasa berdosa dan dia merasa akan lebih baik mengaku daripada mengada-ngada.


"Ta-tapi kenapa sampai habis? Aku baru makannya segini," ucap Agny mencebikkan bibirnya, tunggu ini terlalu menggemaskan dan Agny kembali membuat Justin ingin melontarkan kata-kata "Jangan sok imut."


"Maaf, Sayang ... tadi aku belinya banyak, masih ada, 'kan?"


"Cuma apel itu yang bulatnya paling sempurna, sisanya aku tidak mau," ucapnya membuat Justin menelan salivanya pahit, gawat jika dia menginginkan apel yang sudah hancur di dalam perutnya itu.


"Maaf, lain kali aku cari ya. Aku ingat bentuknya, kira-kira seperti_" Mata Justin menatap ke arah dada Agny yang membuat sang istri sontak menyilangkan tangannya.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2