
"Ada apa? Mau apa kau menghubungiku?"
"Menurutmu?"
"Langsung saja, Bedebah!! Aku paling tidak suka basa-basi."
Mata Justin menatap nanar ke depan dengan sejuta kemarahan dalam dirinya. Kebencian itu kembali menyeruak, memenuhi rongga dada Justin hingga napasnya terasa sulit. Demi apapun, dia sangat membenci pemilik suara itu bahkan ingin sekali menghabisinya saat ini juga.
"Hahaha santai saja adik ipar, kau menikahi adikku tanpa izin sama sekali ... bukankah ini sedikit tidak sopan?"
Justin mengerutkan kening, kenapa bisa pernikahannya sampai ke telinga Arga sementara baik Agny maupun dia tidak mengundang pria itu sama sekali, jangankan mengundang, mengatakan sepatah kata saja tidak.
"Agny anak tunggal, dan dia yang memintaku untuk tetap diam."
"Cih, anak tunggal katamu? Dia masih punya keluarga ... setidaknya hargai kami sebagai keluarga."
"Sayang sekali, tapi Agny tidak butuh keluarga seperti kalian. Terutama paman yang sudah menjualnya demi melunasi sebuah hutang yang Agny sendiri tidak percaya, bejjat kalian."
Sesekali Justin menoleh, memerhatikan Agny yang masih menatap ke arahnya. Matanya tampak berat, namun seperti ditahan hingga Justin megulas senyum agar Agny sedikit lebih tenang.
"Menurutmu, tapi tidak menurut Agny ... kau baru datang di hidupnya beberapa bulan lalu sudah berani mengatakan omong kosong semacam itu."
Sekian lama Justin mengubur masa lalu, tiada dia duga takdir kembali mempertemukannya dengan pengacau semacam Arga. Dalam situasi berbeda, pria itu kembali mengusik Justin dengan mengatasnamakan Agny sebagai penyebabnya.
__ADS_1
"Omong kosong? Tapi sepertinya memang begitu, sangat disayangkan sekali istriku memiliki keluarga sebejjat dirimu," ungkap Justin mengepalkan tangan dan semakin menjauh dari Agny, khawatir jika sang istri menguping pembicaraannya.
"Bejjat? Jangan lupa berkaca, Justin ... aku bahkan tidak yakin Agny masih bisa menerimamu setelah mengetahui seberapa bejjat suaminya ini."
Justin memejamkan mata tanpa berpikir untuk meneruskan pembicaraannya. Pria itu mematikan ponsel dan membuang sim card di ponselnya tanpa aba-aba. Pemandangan itu membuat Agny cukup bingung, apa yang terjadi hingga Justin bertindak senekat itu.
"Siapa?"
"Entahlah, sepertinya salah sambung," ungkap Justin santai dan kembali duduk di tepian tempat tidur, Justin melemparkan ponselnya asal di sisi tempat tidur yang lain seakan tidak berguna sama sekali.
"Tapi kenapa sim cardnya dibuang?"
"Aku tidak ingin diganggu, lupakan ayo teruskan yang tadi," ucap Justin kemudian kembali mengikis jarak dan hal itu membuat Agny mendorong wajahnya segera, yang benar saja harus lanjut lagi. Yang tadi saja baru selesai beberapa detik lalu, Agny tidak punya rencana kehabisan tenaga saat ini.
"Tidak, Sayang ... sangat tidak penting."
Justin mengatakan itu tidak penting, akan tetapi entah kenapa sepertinya berbeda. Meski sejak tadi wanita itu seakan mengantuk luar biasa, dia sangat yakin dan mendengar jika Justin seperti terlihat marah.
"Aku menyayangimu, Agny ... sumpah," ucap Justin kemudian mengecup kening Agny tanpa aba-aba, meski sebenarnya hal ini sangat biasa. Akan tetapi tetap saja setelah dia menerima telepon itu, Justin terlihat berbeda.
"Agny, aku sayang kamu." Justin mengulangi kalimatnya dengan sedikit berdecak lantaran tidak segera mendapat jawaban juga.
"Ck, dasar tidak peka ... jawab, Sayang."
__ADS_1
Bahasa cinta Justin merambah ke seluruhnya, usai mengucapkan kaimat manis semacam itu dia akan menuntut balasan hingga Agny terkekeh kala pria itu mengerucutkan bibirnya. "Harus banget aku jawab?"
"Iya lah, harus."
"Apa yang sudah aku berikan, harusnya cukup untuk menjelaskan kalau aku juga begitu ... kenapa harus diungkapkan dengan kata-kata," ujar Agny mengacak rambut Justin yang sedikit panjang di bagian depan itu, sebelum menikah Justin tidak sebegininya, pikir wanita itu bingung sendiri.
Hendak diajak bergelut untuk kali kedua tampaknya Agny kehabisan tenaga. Kali ini Justin mengalah dan kini merebahkan kepalanya di atas dada Agny sembari sesekali mengecup tangan kirinya.
Pelan namun pasti, Justin yang tadinya banyak mau kini terlelap perlahan hingga dengkuran halus mulai terdengar. Dia yang mengantuk, tapi justru Justin tertidur lebih dulu.
Agny menarik selimut untuk meutupi tubuh Justin yang benar-benar polos. Meski pria itu adalah suaminya, tetap saja Agny tidak terbiasa. Bagaimana tidak, selama ini dia bahkan belum pernah tidur bersamaan pria lain, dikenalkan dengan Justin yang terkadang tidak membutuhkan baju untuk menutup tubuhnya.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai-hai, maaf baru sempat up. Aku baru sampai jam tiga pagi, terus kebablasan deh malesnya. Ini aku dah ngetik lagi, tungguin ya. Sementara aku up, mampir dulu ke karya yang satu ini.
__ADS_1