
Justin bergegas pulang setelah mendapatkan apa yang dia mau. Tanpa sedikitpun rasa bersalah, pria itu sengaja melewati lokasi kecelakaan yang kini tampak menjadi pusat perhatian beberapa orang. Seperti dugaan Justin dan William jalanan memang sepi hingga kecelakaan Arga tidak merugikan pihak lain.
"Aku sudah menepati janjiku, Arga ... hanya ini caraku melindungimu."
Justin tersenyum tipis menatap mobil tak berbentuk itu di spionnya. Sama sekali Justin tidak tertarik untuk turun dan menyaksikannya lebih jelas, mana mungkin Arga masih bernyawa sementara mobilnya sudah tidak berbentuk lagi.
Justin tidak sebodoh itu, mana mungkin dia akan membiarkan seseorang bebas setelah mengusiknya. Dia terlalu malas dan sudah berjanji untuk tidak mengotori tangannya lagi, jelas menggunakan cara lain meski tujuannya tetap sama.
Arga terlalu bodoh dan tidak memahami ucapan Justin, dia meminta perlindungan dari lawannya. Sementara, kemungkinan besar jika dibiarkan hidup Arga tetap kan berakhir sama di tangan dalang utama kericuhan ini, maka dari itu Justin lebih memilih mengambil tindakan sendiri.
Persetan dengan Arga, dia tidak peduli sama sekali. Justin kembali fokus menginjak pedal gas agar segera tiba di tujuan. Ketakutan jika sang istri terbangun dan menyadari dirinya pergi malam-malam begini mencuat begitu saja. Justin bukan pria takut istri, akan tetapi dia hanya khawatir Agny merasa terancam karena dia tinggal tanpa pamit.
Setibanya di kamar, Justin bernapas lega lantaran Agny masih terlelap di atas tempat tidurnya. Justin menunduk kemudian mengecup kening sang istri beberapa saat. Syukurlah Agny tidak terbangun, saat ini Justin sudah persis seorang ayah yang meninggalkan putrinya pergi.
"Sayang maaf, tadi aku judi ... terus menang, tapi uangnya tidak aku bawa pulang."
Dia berbisik pelan kemudian membelai surai indah Agny, istrinya mungkin terlalu lelah hingga bisa selelap ini. Padahal, biasanya Agny pantang Justin tinggalkan, istrinya akan terbangun. Cukup lama Justin pandangi, dia merasa lucu dengan dirinya sendiri kali ini. Sebagaimana kata Keyvan, jika sudah menikah seorang pria harus berani meminta maaf walau sudah terlanjur dilakukan.
Tidak ada pergerakan dari istrinya, hingga Justin memilih berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, matanya justru dibuat bingung kala melihat ponsel Agny ada di atas nakas. "Astaga, aku lupa membawanya."
Justin menegak salivanya pahit, dia menoleh ke arah sang istri yang masih tertidur lelap. Berharap sekali jika Agny benar-benar tidur dan tidak membuka ponselnya, sebelum pergi Justin ingat betul dia marah dan melemparkan benda pipih itu di atas tempat tidur.
__ADS_1
Tidak. Justin mencoba tenang dan berpikir positif. Mungkin saja Agny memang terbangun dan memindahkan ponselnya, Justin yakin istrinya penurut dan tidak mungkin berani melakukan hal yang dia larang.
Andai memang Agny mengetahui sesuatu dari ponsel itu, mungkin saat ini dia tidak akan bisa tidur nyenyak. Ya, Justin sangat yakin akan hal itu hingga dia melangkah ke kamar mandi segera.
Gemericik air mulai terdengar, mata itu terbuka perlahan bersamaan dengan tangan yang mengusap kasar kening dan wajahnya. Apa tadi? Judi? Dengan jelas Justin meminta maaf karena telah melakukan hal itu, mata Agny yang sejak tadi sudah memerah kini semakin marah saja.
"Apa yang kamu harapkan dari pembohong seperti dia, Agny."
.
.
"Ck, jam berapa?"
Rasanya tidak mungkin masih pagi, mata Justin bahkan dibuat silau. Sama sekali tidak ada kecurigaan dalam benak Justin, dia mencari ponselnya segera untuk memastikan kabar dunia.
"Bagus."
Justin tersenyum kala dia melihat media mulai membalikkan fakta dan melimpahkan kesalahan pada sosok pria berjaket kulit di video berdurasi lima menit itu. Tampaknya Keyvan bergerak cepat hingga nama Agny mulai berhenti disebut sebagai selingkuhan pejabat tersebut.
Tidak hanya itu, Arga juga dengan jelas menyebutkan siapa dalang dibalik keonaran yang melibatkan Agny. Wicaksono Atmadji, sosok pria yang merupakan lawan politik Winarto adalah pemeran utamanya.
__ADS_1
Arga mengatakan hingga akar, bahkan berapa dia dibayar juga begitu jelas. Akan tetapi, seperti yang Justin katakan hanya nama Agny dan dirinya harus dibersihkan, sementara Winarto jelas saja Arga katakan sebagai penggoda istri Justin.
Berita itu jelas akan membuat permusuhan antara Winarto dan pria bernama Wicaksono itu kian memanas. Terserah, Justin tidak peduli karena yang dia inginkan sudah tercapai.
"Malang sekali nasibmu, kawan."
Setelah membaca beberapa berita utama yang membawa dirinya dan Agny, Justin juga menyempatkan diri untuk membaca berita kematiam Arga. Berbagai dugaan muncul, seperti yang Justin duga jelas beberapa pihak menaruh kecurigaan pada Wicaksono, pria yang membayar Arga sebelumnya.
"Huft, syukurlah ... mata istriku tidak akan sakit setelah ini," ucap Justin kemudian bernapas lega, pria itu segera beranjak dari tempat tidur dan merenggangkan ototnya segera.
Hampir jam sepuluh, sungguh dia benar-benar gila. Sudah tidur selama itu, tapi Justin masih mengantuk juga. Pria itu menguap lebar seraya berjalan ke luar kamar, aneh sekali kenapa tidak ada aroma makanan kali ini.
"Sayang ... aku kesiangan."
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1