
Pertikaian keduanya di dalam kamar terdengar jelas oleh Justin. Dia hanya terkekeh mendengar putranya yang kini masih remaja, harus sakit kepala menghadapi Keny degan versi yang berbeda.
Sama sekali bukan masalah bagi Justin, dia menyayangi putri kedua sahabatnya seperti anak sendiri. Jadi wajar saja jika tempat pelarian Giska adalah kediaman Justin.
"Sayang, lihat apa?"
"Mereka .. Coba lihat, lucu ya?"
Agny hanya tersenyum simpul menatap putranya begitu sabar mengajarkan banyak hal pada Giska. Putri keny itu memang sedikit nekat, di saat Zavia memilih menjauh lantaran tidak suka sikap pemarah Renaga, Giska justru sebaliknya.
Bagi Justin itu terlihat lucu, tapi bagi Agny terlihat menyedihkan lantaran Renaga benar-benar membentaknya jika Giska berulah. Beberapa kali Agny marah dengan sikap Renaga, tapi memang jika mendengar penjelasan Renaga, Giska yang keterlaluan.
Bakat keny sebagai pembangkit amarah tampaknya turun pada Giska. Lihat saja saat ini, Renaga bahkan berkali-kali menyerah hanya untuk memecahkan satu soal saja."Lucu apanya? Renaga marah-marah, sayang."
"Shut, biarkan saja ... aku suka melihatnya."
Sejak renaga kecil, Keny selalu mengimpikan mereka akan menjadi keluarga dan Justin enggan menerimanya. Akan tetapi, semakin kesini, Justin semakin menyukai interaksi mereka.
Meski dia juga tidak begitu berharap mereka bersatu nantinya, akan tetapi dalam urusan asmara putranya, Justin hanya akan bertindak sebagai pengamat.
Justin berlalu pergi setelah kemudian membuat Agny tidak habis pikir, entah kenapa dia justru bahagia mendengar putranya berteriak putus asa akibat menghadapi Giska.
"Mom? Mommy kenapa di sini?"
Kehadiran Agny di depan pintu tertangkap basah oleh putranya. Tanpa dia sadari jika mereka sudah selesai saat ini, wajah lelah Renaga sudah menegaskan seberapa banyak dia berjuang hari ini.
"Kalian sudah selesai?"
"Sudah, Mommy."
Renaga berdecak tak suka mendengar panggilan Giska untuk Agny. Entah siapa yang memulai, yang jelas sejak kecil panggilan mereka memang begitu.
"Aga mau kemana?"
__ADS_1
"Main basket ... boleh, 'kan, Mom?"
"Hm boleh deh, tapi pulang jangan malem-malem ya."
Semenjak dia beranjak remaja, Justin memang selalu mendukung apapun keinginan Renaga. Dia tidak ingin kemampuan Renaga hanya terbuang sia jika terlalu dikekang.
"Bye, Mommy."
Tidak lama Renaga pamit, Giska melakukan hal yang sama mengekor di belakang Renaga. Sontak langkahnya terhenti dan berdecak kesal menatap gadis menyebalkan di belakangnya ini.
"Mau apa?"
"Ikut Kakak," balasnya santai dan tanpa pikir panjang naik ke atas motor.
"Turun, Giska."
"Ikut, aku belum mau pulang ... Mau lihat kak Aga main juga."
Apapun yang Renaga suka, adalah hal yang Giska suka. Saat ini, tidak ada cabang olahraga yang dia sukai selain basket, itupun karena Renaga adalah kaptennya. Beberapa kali dia berhasil ikut Renaga dengan cara ini, memaksa bahkan tidak sungkan melingkarkan tangan di perut Renaga.
"Bohong, Kakak belum punya pacar padahal."
Segala cara Renaga lakukan demi tidak Giska ikuti. Sayangnya, lagi-lagi dia harus mengalah dan tidak mungkin bisa menang melawan gadis pembangkang ini.
Terpaksa, Renaga membawa serta Giska malam ini. Sudah tentu dia akan menjadi bahan candaan teman-temannya, di mata mereka Giska yang berulang kali dia akui sebagai adik di lapangan adalah kekasih Renaga.
Renaga melaju dengan kecepatan tinggi, dia tidak peduli saat ini apa yang Giska bicarakan. Namun, yang jelas Renaga beberapa kali mendengar dia tertawa dan mengeratkan pelukan setiap kali Renaga menambah kecepatan.
Tidak berselang lama, mereka tiba dan sudah jelas kedatangan kapten yang terlambat itu menjadi sorotan. Terlebih dia membawa serta gadis cantik dengan celana pendek dan kaos oblong berwarna putih di sana.
"Ditungguin, pacaran dulu ternyata."
"Diam kalian, adikku ikut tidak masalah, 'kan?"
__ADS_1
Selalu saja setiap kali Renaga mengatakan adik, mereka akan merespon dengan candaan tiada habisnya. Berbeda dengan Renaga yang risih mendengar candaan mereka, Giska justru memberikan senyum manis dan seakan menerima semua tuduhan mereka.
"Semua sudah datang?"
"Bentar, Bian masih di jalan."
Wajah Renaga sontak berbeda begitu mendengar nama Fabian. Belum kering bibir Aldo, suara motor Fabian kini terdengar mendekat. Sama seperti Renaga yang disambut meriah, Fabian juga sama. Bedanya, Fabian justru menerima dan mengangggap itu sebagai hal yang menyenangkan.
"Aduh, ini juga ... kalian berdua kenapa sih? Janjian bawa pacar? Atau habis double date? " tanya Rigen kala melihat Fabian juga membawa serta gadis cantik di belakangnya.
"Kita cuma berdua, iya, 'kan, Sayang?"
"Apasih, Bian!! Jangan ngaco deh!!'
Renaga mengu-lum senyum begitu melihat adegan manis Punggung fabian menjadi sasaran telapak tangan Zavia begitu kuatnya. Yah, Fabian datang bersama Zavia, pemilik manik indah yang sangat sulit dijumpai sejak Renaga masuk SMA.
"Latihan, Pia ... Biar nanti kalau kita pacaran luwes."
"Aduin papa ya nanti, aku pulang kalau kamu macem-macem."
"Iya-iya maaf, Pia."
"Zavia ... Za-Via!! Pake V bukan P, paham, Fabian Alexander?"
Dia masih pengadu, bibirnya tetap cerewet dan dia juga berisik. Renaga menatapnya sejak tadi, bahkan tidak jarang dia meneguk salivanya setiap melihat senyum indah Zavia.
"Ya Tuhan, kenapa kami semakin jauh rasanya."
.
.
Hai, jujur aku bingung mau kasih bonchap apa. Sebenarnya ini lebih cocok untuk jadi novel baru, tapi aku putuskan untuk masa remaja mereka jadi bonchap di Justin. Ntar, part seriusnya (Renaga dewasa) di novel lain ya. Semoga kalian suka, dan komen di bawah kalau mau aku lanjutin.
__ADS_1
Note : Jangan komentar "Lanjutin sampai Renaga nikah-_ karena itu di lapaknya sendiri."