
Agny yang berdiri cukup jauh dari pria itu jelas saja bingung kenapa Justin melepaskan pakaiannya tiba-tiba. Tidak hanya itu, Justin juga melepas celananya hingga menyisakan celana pendek dan sangat-sangat ramah di mata Agny.
"Dia mau apa? Tiba-tiba lepas pakaian begitu?"
Tidak hanya itu yang membuat Agny merasa terganggu, akan tetapi pria itu juga tidak memiliki pikiran untuk merapikan pakaian kotor setelah dia lepaskan dari tubuhnya. Sengaja Justin biarkan tergeletak di lantai sementara dirinya pergi untuk mengambil minuman di dapur, sontak dada Agny merasa tersayat dan dia menghela napas panjang lantaran sejak tadi siang dia menguras tenaga untuk membuat tempat ini semakin tertata.
"Kalau habis dilepas, bisa dong sesekali pakaian kotornya dipeduliin ... dikira kemejanya punya kaki atau bagaimana?"
"Kan ada kamu," ungkapnya tanpa dosa kemudian menghidupkan televisi seraya menikmati cola dingin yang baru saja dia ambil barusan.
"Aku tidak mungkin selamanya di sini ... Om mau begini sampai kapan? Lagian masa betah hidupnya kotor begini, urus diri sendiri masa tidak bisa."
Justin hanya terkekeh mendengar omelan Agny. Sepertinya beberapa keluhan Keyvan dan Keny tentang sisi gelap memiliki istri mulai Justin rasakan. Ya, omelan istri akibat tindakan mereka yang kerap semaunya dan ternyata itu lucu jika sudah Justin rasakan sendiri.
"Sudah kukatakan dari kemarin, selamanya kamu akan tetap bersamaku ... jadi tidak ada salahnya kamu latihan melakukan tugas-tugas semacam itu."
"Ini diluar perjanjian ya, uang jajannya nambah berarti," ucap Agny terdengar bercanda tapi itu sangat Justin pertimbangkan.
"Iya, mana mungkin aku tidak memikirkan hal itu."
__ADS_1
"Agny, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa? Jangan aneh-aneh pertanyaannya," ucap Agny kemudian karena dia tidak memiliki otak jenius untuk menjawab semua pertanyaan Justin.
"Kamu percaya pernikahan?"
"Hm? Percaya ... kata Papaku dulu, pernikahan adalah pembuktian cinta," jawab Agny singkat sebelum kemudian berlalu untuk menghantarkan pakaian kotor Justin ke keranjang di belakang sana.
"Pembuktian cinta," gumam Justin kemudian tampak berpikir sejenak, seingatnya dia menikah hingga dua kali bukan karena cinta, melainkan pembuktian jika dia memang pria sejati, itu saja.
Cukup lama Justin menunggu, hingga kini Agny kembali dan pria itu memintanya duduk di sisi Justin. Sebenarnya Agny sedikit risih lantaran Justin hanya menggunakan celana sependek itu, sengaja pamer atau memang betah, pikirnya.
"Iya lah, mana bisa menikah tanpa cinta."
"Kamu sudah mencintaiku belum? Kalau iya, kita menikah secepatnya ... tapi kalau belum, jangan dipaksa," ungkap Justin seakan bercanda tapi Agny tahu ini serius, Justin tidak ingin memaksakan sebenarnya. Karena pengalaman mengajarkan dia jika memaksa tanpa adanya rasa tidak selamanya berakhir bahagia seperti kisah Keyvan dan Mikhayla.
"Jawab," ucap Justin lembut sementara Agny yang bingung masih memilih diam dan tidak punya keberanian untuk menjawab.
"Diam berarti iya ... sudah kuduga wanita mana yang tidak cinta padaku."
__ADS_1
Percaya diri sekali dia, padahal sama sekali Agny belum bisa simpulkan bagaimana perasaannya. Akan tetapi bisa dipastikan dia memang tidak akan menolak jika Justin memintanya menikah, hanya saja sejak dulu Agny tidak ingin berharap lebih walau pria ini benar-benar definisi pangeran yang bisa menjamin kehidupannya.
"Jangan terburu-buru, beri waktu untuk kita sama-sama berpikir ... pernikahan bukan mainan, dan bisa dipastikan setelah menikah kita bukan hanya tentang kesenangan. Pikirkan lagi, apalagi kita baru mengenal beberapa hari dan kita berada di posisi ini karena sama-sama membutuhkan ... aku butuh uang sementara kamu butuh kenyamanan," ungkap Agny dan itu berhasil membuat Justin tercengang, dia terdiam membisu dan berpikir jika Agny begini karena mengetahui masa lalunya pernah gagal dalam pernikahan hingga dua kali.
"Kenapa kamu berpikir begitu? Apa karena aku pernah gagal dalam pernikahan, Agny?"
"Bukan begitu, tapi alangkah lebih baik kalau dipikirkan lagi ... aku hanya khawatir jika nanti bukan hanya gagal tapi kita saling menyakiti," ucap Agny serius karena lingkungannya mengajarkn betapa sulitnya kehidupan pernikahan, meski dia lahir dari orangtua yang berhasil dalam kehidupan pernikahan namun kedua temannya sama-sama patah dalam pelukan pria dewasa yang menjanjikan sebuah kebahagiaan dalam ikatan pernikahan yang memang terkesan buru-buru.
"Hm, baiklah jika begitu ... jadi aku ditolak kali ini?" tanya Justin tersenyum getir, dalam hidup dia hanya beberapa kali mengutarakan niat serius dan baru kali ini mendapat penolakan, apa mungkin terlalu cepat, pikir Justin.
"Bukan ditolak, tapi pikir dulu."
"Sama saja, kamu menolakku intinya," balas Justin tiba-tiba melepas pelukannya dari pundak Agny, pria itu berlalu ke kamar dengan perasaan yang tidak dapat dia definisikan, tampaknya marah karena ini adalah kali pertama dia ditolak seorang wanita.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -