
Tidak pernah terbayangkan bagi seorang Justin merasa kalah, apalagi terhadap bocah ingusan. Susah payah dia menahan, emosinya sudah naik ke ubun-ubun sejak pertama kali melihat sang istri bersama pemuda yang dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.
"Tahan, Justin."
Istrinya tengah hamil, marah bukan solusi terbaik dan Justin khawatir akan membuat hati Agny terasa sakit. Hingga, dia susah payah menahan sesak di dadanya kala Agny akhirnya kembali menuju sekolah Renaga.
Dia terhenyak kala melihat dengan jelas jelas pemuda itu merangkul pundak istrinya. Sialnya, Justin mendadak minder kala mengingat penampilan pria itu. Anggap saja cocok dengan Agny, mereka terlihat serasi untuk dikatakan pasangan dan hal itu membuat Justin uring-uringan.
"Sayang, yakin tidak apa-apa?"
"Hm."
Tidak ingin kekanak-kanakan, tapi berat sekali bagi Justin. Dia juga tidak mungkin membahas masalah itu sekarang, ada Renaga dan juga pengasuhnya. Akan tetapi, percayalah sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka, Justin merasa jalanan itu terlalu sempit, sesempit hatinya.
Sementara Agny yang kini tengah merasa lega, jelas terlihat baik-baik saja. Dia sempat berpikir Justin akan membantingnya, tapi ternyata tidak begitu.
"Kamu tidak ke kantor lagi?"
Agny terkejut kala melihat sang suami tampak menunggunya di sofa, dengan kaki yang terlihat tidak bisa diam dan mata bulat persis ikan sebagaimana yang Renaga katakan.
"Sebentar lagi, aku ingin memelukmu."
Justin mengatakan keinginannya secara terang-terangan. Hatinya susah payah meyakinkan jika pria yang tadi dia lihat hanya bocah, tidak sepantasnya Justin khawatir dan mengiranya sebagai saingan. Akan tetapi, entah kenapa hati kecilnya tidak bisa berbohong dan dia merasakan hal aneh itu berkecamuk dalam dirinya.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
Justin menggeleng, dia tidak ingin dianggap pencemburu meski faktanya demikian. Pria itu memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh sang istri dalam-dalam. Meyakinkan diri jika Agny hanya miliknya, sepenuhnya dan seutuhnya.
"Hari ini kamu gimana? Dia nakal tidak?" tanya Justin basa-basi seraya mengelus perut sang istri.
"Tidak nakal, tapi hari ini aku hampir menangis."
"kenapa begitu?" tanya Justin mendongak, memastikan ekspresi wajah sang istri.
"Di sekolah Renaga aku mendadak lapar dan ingin makan bubur, tapi pas aku tanya ternyata malah habis," keluh Agny mulai bercerita dan membuat kecemburuan itu sejenak redam.
__ADS_1
"Lalu bagaimana?"
"Beruntungnya ada yang baik kasih buburnya sama aku ... dan kamu tahu, dia siapa?"
"Si-siapa?"
Jantung Justin sudah berdegub tak karuan, khawatir sekali jika jawaban Agny membuat jantungnya berhenti berdetak seketika. Bayangan kisah Alka yang terus menjadi momok bagi pernikahan sahabatnya membuat Justin khawatir jika pemuda yang tadi adalah mantan kekasih istrinya.
"Devano."
pyar
Denyut jantung Justin semakin kacau kala agny dengan jelas mengucapkan nama Devano. Apalagi ekspresi wajah sang istri sebahagia itu, jelas saja dia ingin menggila rasanya. Tapi tetap, Justin masih berusaha menahan diri walau telinganya sudah panas sejak tadi.
"Siapa Devano? Mantan pac-pacar?"
Lihatlah, kenapa dia jadi kehilangan percaya diri bahkan gugup hanya karena pemuda ingusan berjaket denim tadi. "Bukan, dia kakak sepupuku," jawab Agny sontak membuat Justin menghela napas lega, sykurlah mimpi buruk itu tidak benar-benar nyata.
Justin bukan takut kalah saing atau bagaimana. Namun, masa lalu mengajarkan dia, bahwa harta dan segala yang sudah diberikan tetap bisa retak ketika orang ketiga mengambil kesempatan.
"Belum sempat, makanya ini aku ceritakan."
"Kamu tahu resikonya berbohong padaku, 'kan? Sejak tadi aku menahannya, kamu pikir aku tidak sakit melihat kalian makan seperti tadi? Apalagi dengan adegan dia merangkulmu begitu ... sakit, Agny."
Agny sontak meneguk salivanya, dia bingung kenapa Justin justru memberikan reaksi yang begini. Padahal, sejak tadi dia sudah bertanya dan memang Justin menjawab baik-baik sekalipun wajahnya kusut bak kain belum disetrika.
"Ti-tidak, aku tidak berbohong ... Kak vano adalah sepupuku, dia juga tahu aku sedang hamil. Aku tidak segila itu, jika dia bukan sepupuku tidak mungkin aku menerima bantuannya," jelas Agny yang kini memahami sebab mata tajam Justin seolah hendak lepas tadi. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana cara Justin meredam amarah hingga selama ini.
"Lain kali jangan, apapun keinginanmu harus minta padaku ... mau sepupu atau siapapun tetap saja tidak boleh."
Agny salah besar, faktanya meski Justin sudah memberi kebebasan tetap saja lelaki masih menjadi pengecualian. Sebagai istri, dia tidak ingin terlalu rumit, memilih mengalah lebih baik.
"Iya, paham."
.
__ADS_1
.
"Sepupu? Halah pret!! Kau ingat tidak dulu Giska selingkuh dariku juga awalnya begitu. Bilangnya sepupu, taunya diembat juga."
Sampai di restaurant dekat kantor, Justin menceritakan masalah tersebut pada sahabatnya, kebetulan kali ini Keyvan kedatangan tamu dari jauh hingga mereka duduk saling berhadapan. Tentu saja, Keny sontak jadi pemicu hingga api yang sudah padam itu kembali menyala-nyala.
"Masih muda?" tanya Keyvan kemudian, dia penasaran juga siapa yang membuat sahabatnya ini berbeda dalam sekejab.
"Seumuran istriku sepertinya."
Justin mengepalkan tangan kala mengingat bagaimana sosok pria tinggi dengan rambut hitamnya merangkul bahu sang istri, menyebalkan sungguh.
"Bahaya sih, apalagi sepupu ketemu gede ... jangan percaya, Just."
Lagi-lagi Keny yang memiliki pengalaman buruk terkait sepupu membuat Justin kian panas. Sementara Keyvan yang mengingat Alka, sontak setuju dengan pendapat Keny.
"Hati-hati, Just ... kadang, menghadapi anak kecil itu lebih sulit. Diajak bertengkar bukan lawan kita, tapi didiamkan persis hama ... huft untung saja iman istriku kuat," balas Keyvan membanggakan Mikahyla yang kala itu tegas sekali menolak kehadiran Alka meski belum lama menjadi istri Keyvan.
"Apa benar begitu?"
"Iya!! Zaman sekarang adik tiri saja diembat ... apalagi sebatas sepupu," tambah Keny dan sukses membuat Justin uring-uringan, dia mengusap wajahnya kasar dan membayangkan pemuda itu tersenyum kepada istrinya.
Uhuk
Zayyan yang tengah berada di sana sontak tersedak, sedikit menyesal dia memenuhi ajakan makan siang bersama Keyvan hari ini. Seharusnya, dia memang pulang saja sejak tadi tanpa harus bergabung bersama orang-orang yang membuatnya tertekan.
"Kau kenapa, Zayyan?"
"Ti-tidak, aku lupa baca doa," jawab Zayyan berusaha bersikap biasa saja meski ingin sekali mendaratkan bogem mentah tepat di kepala Keny.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1