
Sejak tadi firasat Justin memang tidak baik-baik saja. Walau sahabatnya mengatakan tidak ada yang salah, tapi bagi Justin ada hal aneh dan dia juga bingung hatinya kenapa.
"Agny tatap aku, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
Pria itu bertanya luar biasa lembut, sepanjang perjalanan Agny hanya diam dan memang terlihat sedikit tenang. Hingga, ketika keduanya sudah berada di apartement barulah Justin meminta waktu untuk bicara.
"Tadi di toilet ...."
Suaranya terhenti sejenak, kemudian menatap Justin ragu karena khawatir emosi pria itu meledak. Agny berbicara sangat hari-hati, dia paham sekali ini bukan masalah sepele dan jika dia besar-besarkan bisa saja berakhir ke ranah hukum.
"Hm, kenapa di toilet? Ada yang mengganggumu?"
Justin sudah menebak, entah kenapa arah pikirannya memang lebih condong ke arah sana. Dia tidak meluapkan emosinya segera meski tangan sudah mengepal dan dadanya sudah panas sejak tadi, sungguh dia hanya ingin istrinya jujur saat ini.
"Iya, dia tiba-tiba datang dan mengusik masa laluku."
"Maksudmu?"
"Tua bangka itu menemuiku di toilet dan membahas perjanjian kuno yang dia lakukan bersama Edward," tutur Agny mulai mengatakan apa yang terjadi dan dia terlihat sangat amat tenang kali ini.
"Tua bangka? Winarto maksudmu?"
Agny mengangguk dan hal itu membuat rahang Justin kian mengeras. Wajar saja istrinya terlihat berbeda ketika kembali dari toilet, jemari tangan terasa dingin dan jelas sekali Agny meminta perlindungan pada sang suami ketika di resturant beberapa waktu lalu.
"Apa saja yang dia katakan padamu?"
Dia ingin memastikan kalimat apa saja yang keluar dari bibir pria bau tanah itu. Agny menceritakannya dengan runtut tanpa terlewat, meski terkadang dia sedikit bergetar karena memang hal semacam itu cukup membuat tertekan.
__ADS_1
"Badjingan."
Dia berucap pelan seraya mengusap wajahnya kasar. Sayang sekali Agny baru mengatakan hal sepenting ini ketika mereka sudah pulang, Justin menghela napas panjang kemudian memeriksa bagian tubuh Agny yang dia curigai akan tersentuh tangan kasar pria itu.
"Lalu, bagian mana saja yang dia pegang?"
"Pundak," jawab Agny jujur karena memang Winarto tidak sempat menjamahnya sebagaimana wanita murrahan, akan tetapi bagi Justin sekalipun hanya pundak itu tetap masalah. Apalagi, ketika Justin menyadari jika bagian pundak istrinya tampak terbuka, memang sinting Sonya yang memilihkan baju seperti itu.
"Setelah itu?"
"Tidak ada, dia belum sempat melakukan hal yang lain karena hidungnya mimisan ... padahal cuma aku tinju," ucap Agny sejenak membuat Justin tenang, setidaknya sang istri mampu melindungi diri.
"Jadi hidungnya berdarah benar-benar karena ulahmu?"
"Iya ... aku hanya ingin membuatnya diam."
Justin tidak marah, meski tindakan Agny masuk dalam kategori kekerasan sama sekali dia tidak masalah. Dia menarik tangan sang istri dan memeriksa jemarinya, khawatir jika Agny yang justru terluka. "Tangan kanan?"
Sebenarnya, ketakutan itu pasti ada. Agny hanya wanita biasa yang memiliki ketakutan seperti lainnya, apalagi yang dia buat sengsara itu adalah seorang pejabat tinggi. Jelas saja dia takut akan berakhir di penjara, dengan segala kuasa yang dimiliki Winarto akan sangat mudah bagi Agny terperangkap dalam jeruji besi.
"Hm, kamu benar ... jika sampai menyeret namamu, tidak hanya karirnya, tapi kepalanya yang kubuat hancur nanti."
Ucapannya lembut sekali, tapi sama sekali Justin tidak bercanda kali ini. Kepalanya sudah panas, dan dia hanya berusaha mencoba tenang di hadapan Agny, jika tidak bersama istrinya mungkin Justin akan benar-benar berbeda.
"Sudah jangan takut, hak kamu bela diri. Mandi sana, setelah itu istirahat," titah Justin masih mampu mengulas senyum, padahal jiwanya saat ini tengah terbakar.
"Tapi dingin."
__ADS_1
"Pakai air hangat ... pundak kamu disentuh tangan kotor pria itu, nanti sakit." ungkap Justin yang menyamakan Winarto dengan makhluk ghaib pembawa penyakit.
"Bisa begitu ya?"
"Bisalah, kalau kata Khayla namanya sawan," ucap Justin tersenyum tipis demi membuat istrinya sedikit lebih tenang, meski dia sendiri sebenarnya sedang kacau.
"Nyuruh mandi, terus mau ditinggal kemana?"
"Tidak ditinggal kemana-mana, aku tetap di sini."
Firasat Agny tidak begitu, pasti ada yang Justin ingin lakukan di luar pengawasannya. Akan tetapi, tidak lucu jika harus berdebat lebih dulu hingga dia memilih untuk mengikuti apa kata Justin.
Sementara istrinya membersihkan diri, Justin mengubungi Keyvan segera. Pria itu tidak peduli siapa lawannya, Justin benar-benar terusik sekalipun Agny tidak mengalami hal seburuk Mikhayla dahulu.
"Jangan pernah memintaku untuk sabar, aku bukan dirimu, Evan."
"Tapi pikirkan dulu, Justin ... setidaknya jangan malam ini, Agny juga pasti butuh dirimu."
"Jika kau tidak bersedia, aku sendirian saja ... tanpamu dan Keny aku bisa melakukannya sendiri."
"Bukan begitu, Just. Kau tahu dia siapa, jangan bunuh diri untuk melawan orang selicik dia. Kau mungkin bisa membunuhnya dalam waktu cepat, tapi kau yakin untuk membuatnya terancam akan semulus itu? Andai fakta berbalik, kau yang justru terseret dan dia buat mendekam di penjara bagaimana? Bagaimana nasib istrimu jika kau gagal malam ini. Pikirkan lagi, aku selalu berada di sisimu, tapi tidak malam ini juga."
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -
Maaf ya, upnya telat🙂