Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 91 - Seperti Diriku


__ADS_3

"Jadi benar dia anakku?" tanya Justin tanpa melepaskan Vanya dari tatapannya, kalimat Vanya barusan menciptakan makna tersirat.


"Jawab, bodoh!!"


"Ak-aku tidak tahu dia anak siapa!!Puas?"


"Ya, bagaimana mau tahu dia anak siapa ... aku lupa tubuhmu murah, punya suami tapi pemilik tubuhmu banyak sekali."


Vanya sudah lemas, dan kini Justin mengutarakan kalimat menohok hingga wanita itu mengerjap pelan. Meski yang Justin katakan memang benar, dia adalah istri paling tidak berguna di dunia ini. Sadar betul, untuk itu Vanya merasa lebih baik sendiri dan menjalani karmanya.


"Murah? Ya, kau benar ... aku murah dan juga hina, aku bahkan tidak yakin siapa ayah dari bayi yang aku kandung. Tapi, setidaknya aku sadar dan tidak mengusikmu sekalipun wajah Renaga mirip denganmu."


"Memang dasar tolol!! Otakmu dimana? Kenapa diam saja, seharusnya masalah ini sudah selesai sejak lama ... karena kau bodoh, anak itu tidak jelas asal usulnya!! Jika benar dia darah dagingku, demi Tuhan aku tidak bisa memaafkanmu yang telah mengajaknya hidup bersama badjingan itu, Vanya!!"


Justin paham betul maksud dari ucapan Vanya. Sepertinya, tanpa tes DNA atau semacamnya jelas saja Renaga adalah putranya. Pria itu menghela napas perlahan, pagi-pagi buta begini dia harus kembali bertengkar dan berakhir dengan Vanya yang tiba-tiba melemah hingga tergelak di lantai rumahnya.


"Mommy!!" teriak Renaga berlari menghambur ke arah Vanya, rambutnya masih acak-acakan dan dibuat terkejut dengan kehadiran pria yang sempat membuatnya takut kemarin.


"Mommy bangun, Mommy."


Justin terdiam membisu, dia menatap bagaimana Renaga menangis sesenggukan menepuk wajah Vanya. Hati Justin teriris, kenapa dia seakan melihat dirinya di masa lalu. Andai saja tidak ada Renaga di sini, mungkin Justin akan membentak Vanya dan menduga dia pura-pura.

__ADS_1


"Jangan pegang Mommy-ku!!" sentak Renaga kala Justin hendak mengangkat tubuh Vanya.


Mata anak itu menatap tajam Justin, dia marah dan jelas sekali menyalahkan Justin dalam hal ini. Ya Tuhan, Justin hendak menampik fakta yang ada. Namun, mata itu benar-benar mirip dirinya, Justin tidak lupa potret dia di masa kecil, semirip itu seakan tidak ada bedanya.


"Lepaskan Mommy!!"


"Kita ke rumah sakit, Mommy kamu sakit ... paham?" Justin terbiasa menghadapi Zavia, jadi sepertinya dia mampu mengendalikan anak ini walau terlihat jelas dia ingin menelan Justin bulat-bulat.


"Mommy tidak sakit, tapi Om yang pukul Mommy!!"


Benar saja, Renaga menuduh Justin memukul Vanya. Pria itu ingin marah, tapi sepertinya Renaga bukan lawannya. Masih dengan penolakan Renaga, Justin membawa Vanya ke mobilnya.


"Om mau bunuh Aga?"


Bunuh, anak sekecil itu mempertanyakan hal yang membuat Justin membisu. Renaga mundur beberapa langkah, tangisnya terhenti seraya menatap Justin yang kini berlutut agar tinggi mereka sejajar.


"Kenapa tanya seperti itu? Aku bukan orang jahat, ikut ke rumah sakit ya ... kamu sendirian di sini."


Justin berucap pelan, meski mata itu penuh kebencian menatapnya. Justin berusaha untuk menahan emosinya, semakin kesini hatinya semakin yakin Renaga memang darah dagingnya.


Meski sedikit butuh waktu, Renaga menurut dan mau ikut Justin. Dia yang tadinya berteriak dan melontarkan kalimat penuh kebencian, mendadak diam ketika Justin dudukkan di kursi belakang.

__ADS_1


Anak itu tampak penurut, atau entah sedang takut saja sebenarnya. Dia kemudian berdiri tak lama Justin mulai melaju, Renaga mencoba meraih tangan Vanya. Dia masih menangis dan memanggil Mommy-nya.


"Aga duduk yang benar, jangan begitu."


"Mau duduk sama Mommy," pintanya dengan mata yang kini membasah, sorot mata yang terlihat memohon dan Justin hanya bisa menghela napas pelan.


Justin menepi, kemudian dia memindahkan Renaga agar duduk di pangkuannya. Jujur saja ini adalah kali pertama, tapi entah kenapa dia suka dan hatinya merasakan kedekatan pada anak ini.


"Aga mau duduk sama Mommy, Om."


"Nanti saja, di sini kamu bisa lihat Mommy, 'kan?"


Justin seakan tengah berkhianat pada Agny. Menyebalkan sekali kenapa juga harus pingsan saat sedang bersamanya, pikir Justin. Mereka seakan kembali pada masa lalu, andai tidak ada pengkhianatan mungkin ini adalah gambaran sesungguhnya pernikahan Justin.


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2