
Ini adalah pagi pertama yang membuat Justin merasa berbeda. Dia masih mempertanyakan kejujuran hati wanita ini, apa mungkin memang ingin menjadi istri Justin atau hanya khilaf, pikirnya. Terlebih lagi, pagi ini sudah di awali dengan Agny yang bangun lebih dulu dan mempersiapkan segalanya untuk Justin, termasuk pakaian tanpa terkecuali lagi.
"Sayang."
"Iyaa, kenapa? Dasinya mau diganti?"
Agny mendongak, sejak tadi dia berusaha memakaikan dasi untuk Justin. Tidak sulit baginya, sewaktu SMA Agny pernah membantu sang papa sesekali, kali ini dia melakukannya untuk Justin yang dia sadari adalah calon suaminya. Tanpa paksaan Agny melakukannya, dia memang tulus dan ada perasaan bahagia ketika dia melakukan sesuatu untuk Justin.
"Bukan, kamu begini bukan karena ada maunya, 'kan?"
Justin patut curiga, kemarin-kemarin Agny hanya menjadi penonton dia ganti baju. Sementara hari ini, bahkan mulai dari Justin mengenakan kemeja, dia sudah ambil alih.
"Apa aku pernah melakukan sesuatu karena ada maunya?" tanya Agny menghentikan gerakannya sesaat, sejak kemarin semua yang dia lakukan bukan karena mencari perhatian ataupun karena minta tambahan dari Justin, pria itu saja tidak melihat betapa sulitnya Agny berlutut demi membuat mejanya tidak lagi berdebu.
"Ah iya, tidak pernah ya ... kalau begitu terima kasih," ucapnya seraya melingkarkan tangan ke pinggangnya, sejak tadi Agny memang tidak pernah protes sekalipun Justin menciuminya tanpa henti.
Agny kembali fokus dengan pekerjannya, wanita itu merapikan kerah kemeja Justin sebagai sentuhan terakhir. Tampaknya Justin menyukai hal semacam ini hingga ketika sudah selesai pria itu tidak beranjak ataupun meminta Agny menjauh.
"Kenapa aku berat sekali berangkat hari ini? Apa karena aku ingin bersama istriku saja ya?" Justin menelusuri wajah cantik Agny yang tampaknya kian berisi, memang semua uang Justin berikan akan menjadi makanan, bukan barang seperti wanita lain.
__ADS_1
"Jangan begitu, ada saatnya berdua ... bagi waktu antara pekerjaan dan kesenangan, aku juga tidak akan pergi dari sini."
Dia benar-benar tidak protes, sekalipun Justin menyebutnya sebagai istri. Agny benar-benar tampak menerima, dan Justin jelas bahagia bertubi pagi ini. "Kita akan segera menikah, aku akan mengatakan ini pada Evan dan juga Keny ... nanti malam aku akan menemui keluargamu."
"Jangan, tidak perlu." Agny menggeleng cepat ketika Justin mengatakan niat baiknya, wanita itu tidak protes apapun yang dilakukan Justin. Hanya saja, jika hendak melibatkan Sigit dan keluarganya, Agny secara tegas menolak.
"Kenapa? Setidaknya mereka perlu tahu."
"Jangan, ini bukan berita yang perlu dikabarkan pada mereka ... jangan membuat posisi kita sulit ke depannya."
Paham betapa liciknya Sigit, wanita itu menghalangi keinginan Justin untuk memberitahunya. Dia tidak ingin Justin dijadikan sebuah pohon untuk benalu macam Sigit dan juga Arga, cukup papanya yang dahulu dijadikan tempat bersandar namun tiba-tiba ditusuk dari belakang.
Mereka sama-sama berasal dari keluarga penuh luka. Kekurangan kasih sayang, dan memang benar kata Keyvan jika kehidupan Agny dan Khayla tidak dapat disamakan. Justin juga demikian, hanya ada satu adik mendiang papanya yang hingga saat ini sangat tulus menjaga seluruh harta peninggalan untuk Justin, perusahaan dan berbagai aset yang dimiliki orangtua Justin tetap terjaga tanpa adanya pengkhianatan hingga usia Justin kian dewasa.
"Ah iya, aku hari ini keluar boleh ya ... ada suatu tempat yang ingin aku datangi," ujar Agny baik-baik karena memang dia memiliki keinginan untuk pergi dan mengunjungi tempatnya mencari kebahagiaan pasca ditinggal kedua orang tuanya.
"Sendiri?"
"Iya sendiri, aku kangen sama anak-anak."
__ADS_1
"Anak-anak? Anak siapa?"
Ada banyak hal yang tidak Justin ketahui tentang Agny. Sempat dikira alergi anak kecil, faktanya Agny kerap menghabiskan waktunya di salah satu panti asuhan tempat dimana anak-anak yang kehilangan kasih sayang berkumpul di sana. Ya, dia sangat-sangat terbiasa, dan pemandangan itulah yang membuat Agny belum siap memiliki anak dari Justin kemarin-kemarin.
"Panti, minta uang ya ... jajannya mereka tidak cukup kalau sedikit, aku harus adil."
Justin mengangguk pelan, dia sempat ingin membawa Zavia untuk mengetes apa memang Agny anti dengan anak kecil. Kini, semua terbukti jelas jika kemampuan Agny berinteraksi dengan balita mungkin lebih baik dari Justin.
"Iya ... sebentar, kamu pegang kartuku saja. Aku tidak pegang uang tunai banyak hari ini, takutnya kurang."
Wajar saja Agny tampak bersiap dengan pakaian sopannya pagi ini, ternyata ada tujuan lain. Justin tidak banyak bertanya dan memilih pergi setelah selesai. Tujuan utama dia ke kantor hari ini bukan semata-mata untuk bekerja, melainkan mengabarkan rencana pernikahannya pada Keyvan dan juga Keny, dan tentu saja dia akan meminta biaya atas pernikahannya kelak pada mereka.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, Justin bukan kekurangan uang. Akan tetapi, memang tradisi mereka bertiga yang melakukan hal itu sejak lama, dia bahkan bertanggung jawab atas separugh biaya pernikahan Keyvan bersama istri pertama, belum lagi hunian mewah Keyvan yang harganya milyaran. Tidak hanya Keyvan, melainkan Keny juga demikian. Sejak pria itu menikah, Justin sudah merasakan beban sebagai suami sementara istrinya belum ada.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -