Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 37 - Jalan Pintas


__ADS_3

Selesai pembicaraan serius tadi sore, Justin kembali seperti sebelumnya dan dia memilih diam sekalipun Agny sudah mengajaknya bicara. Tampaknya yang kali ini serius dan Justin merasa tidak berharga lantaran niat baiknya seakan Agny tolak mentah-mentah.


Usai makan malam pria itu memilih pergi entah kemana, dia tidak pamit dan Agny tidak memiliki keberanian untuk bertanya. Beberapa jam Agny menunggu di ruang tamu, dan menatap notifikasi dari ponselnya berharap jika Justin akan menghubunginya kembali. Akan tetapi, hingga hampir jam sebelas malam tidak ada tanda-tanda Justin membutuhkannya seperti biasa.


"Edward kenapa tidak bilang kalau dia persis balita begitu? Padahal yang aku katakan benar, begitu saja marah ... aneh."


Agny mencebik dan dia tetap merasa jika dirinya sama sekali tidak bersalah. Lagipula kalimat yang Agny pilih juga sudah benar, lantas kenapa Justin masih marah. Wanita itu ingin mengabaikan kemarahan Justin, akan tetapi entah kenapa sulit sekali untuknya memilih tak peduli bahkan mencoba untuk masuk ke kamar tidur saja dia tidak bisa.


"Dia kemana sebenarnya? Di luar hujan padahal," ucap Agny bingung namun dia tidak punya cara untuk membuat Justin pulang lebih cepat, selain karena teleponnya yang berulang kali Justin tolak, Agny juga tidak mengetahui kemana perginya Justin malam-malam begini.


Terlalu lama menunggu, pada akhirnya Agny terlelap di sofa dengan ponsel yang masih dia genggam di sana. Masih sesetia itu menunggu dan berharap Justin pulang malam ini, entah mau tengah malam ataupun menjelang pagi yang jelas dia hanya ingin Justin pulang.


Sementara di tempat lain, Justin tengah berusaha menenangkan diri di tempat biasa dia mencari kesenangan. Ya, kemana lagi jika bukan club malam. Memilih sendiri dengan ditemani beberapa botol minuman yang kini sudah kosong akibat Justin memang tidak berhenti menegaknya sejak masuk.


"Aku kurang apa sebenarnya? Kenapa sesulit itu mengajaknya menikah?"


Justin menatap sendu ke depan dengan pandangan yang kian mengecil. Dia kembali merusak dirinya sendiri hanya karena kalimat Agny yang dia artikan sebagai penolakan. Beberapa panggilan dari Agny masuk dan dia memilih tidak peduli, saat ini memang hanya minuman dan manisnya zat nikotin yang menjadi penenangnya.


Justin sendirian, semenjak Keyvan dan Keny menikah memang dia tidak memiliki teman untuk menghibur diri di tempat yang begini. Pria itu merogoh ponselnya dan menghubungi Keny dengan harapan ada yang akan mendengar luapan isi hatinya.


"Ada apa? Kenapa selalu menghubungiku di saat yang tidak tepat, Justin?"


Suara Keny terdengar sedikit terengah-engah, pria itu seperti tengah melalukan olahraga berat dan Justin bisa simpulkan Keny tengah melakukan apa sebenarnya.

__ADS_1


"Aku menganggu? Kau sedang apa memang?"


"Masih saja bertanya, jelas saja buat anak ... kau dimana memang? Kenapa berisik sekali?"


"Buat anak?"


Justin terkekeh kemudian, ini sedikit lucu baginya. Ucapan asal Keny membuat otaknya berlari ke banyak arah hingga tiba-tiba pikirannya terfokus pada Agny yang kemungkinan besar sedang menunggunya.


"Hm, jawab dulu kau dimana?"


"Club ... kepalaku pusing, butuh hiburan sedikit."


"Kau sedang ada masalah, Justin? Agny datang bulan atau bagaimana?"


Sebagai teman yang sudah saling memahami, Keny sangat paham jika saat ini Justin pasti mendapat masalah. Karena tidak biasanya pria itu mengunjungi tempat gemerlap cahaya itu jika hatinya baik-baik saja.


"Menolakmu bagaiman_ aaaaakkh, sayang sebentar ... Justin butuh didengarkan, sebentar saja."


"Ck, kau bisa berhenti dulu tidak, Ken? Dengarkan aku sebentar saja."


Dia bahkan meneteskan air mata padahal memang salah dia yang mengusik pria beristri di jam-jam segini. Keny yang mengerti jika sepertinya Justin tengah berada di titik putus asa segera berusaha agar pria itu sedikit lebih tenang.


"Sabar!! Kau juga kenapa menghubungiku jam segini ... Ck, katakan, Agny menolak yang bagaimana? Kalian berdua ada masalah atau apa? Belum apa-apa sudah pisang ranjang, bagaimana seterusnya?"

__ADS_1


"Hm, aku membahas soal pernikahan seperti yang kalian sarankan ... tapi, Agny menolakku, dia bilang pikir-pikir dulu dan kau tahu maknanya kalau wanita sudah jawab begitu, Ken. Aku harus bagaimana? Apa mungkin aku kurang tampan sampai dia tolak begini?" tanya Justin mulai meracau dan merasa berada di titik paling rendah sebagai lelaki.


"Sepertinya kau hanya kurang waras, Just ... maka dari itu dia butuh waktu, tapi kalau kau mau pakai jalan pintas tidak masalah."


"Jalan pintas? Jalan pintas yang bagaimana?"


"Hamili saja, Agny tidak punya cara menolakmu jika sudah hamil ... percaya padaku," ucap Keny sesantai itu mengutarakan ide gilanya dan membagi pengalaman karena menurut yang dia ketahui wanita tidak akan bisa berkutik jika sudah dibuat berbadan dua.


"Sudah kulakukan, aku bahkan tidak pernah pakai pengaman tapi memang belum ada tanda-tanda dia hamil, Keny ... ays menyebalkan sekali, apa jangan-jangan aku tidak normal ya?"


"Normal gila, belum saatnya saja, lagipula kalian baru mengenal ... posisimu sudah benar belum? Makanannya juga, kau harus perhatikan hal-hal sekecil apapun agar pasanganmu cepat hamil, Just."


"Begitu?"


"Off course, aku mendukungmu seratus persen, Just ... hamili."


Tidak diterima lamarannya bukan berarti Justin kehilangan cara. Pria itu memejamkan mata kemudian memijat pangkal hidungnya, Justin mengerti ucapan Keny dan hingga dia beranjak pergi meski kepalanya terasa sedikit pening begini.


"Maaf, Agny ... aku harus egois kali ini," gumam Justin kala kendaraannya mulai melaju, pria itu menghela napas panjang dan dia yakin seratus persen saran Keny tidak akan salah karena dia berhasil menikahi Sonya adalah dengan cara seperti itu.


.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2