
Masih tentang kecemburuan Agny, wanita itu pada akhirnya kesal sendiri. Untuk apa juga dia bertanya, jelas saja jawabannya akan membuat kecewa. Fakta bahwa Justin adalah duda benar-benar sulit dibantah, belum lagi fakta lainnya terkait Justin yang merupakan seorang penjelajah wanita.
Pagi ini Agny bangun lebih dulu, dia memandangi wajah lelap Justin yang tertidur di sampingnya. Sang suami dapat setenang itu, sementara dirinya uring-uringan tidak jelas padahal sudah Justin jelaskan bahwa Agny adalah pemilik sesungguhnya.
"Tenang, Agny ... yang penting sekarang dia milikmu."
Dia bermonolog seraya memandangi wajah Justin, jika ditanya seberapa cinta dia pada Justin sepertinya dia akan menjawab sangat-sangat cinta. Mungkin karena Justin adalah pria pertama yang hadir dalam hidupnya, jadi wajar saja ketika sudah menyematkan perasaan Agny seakan porak-poranda oleh pemilik bibir seksi itu.
Perlahan dia melangkah, turun dari tempat tidur sangat hati-hati lantaran khawatir mengganggu tidur Justin. Dia terbiasa bangun pagi, jadi sekalipun tidur larut tetap saja mata Agny akan terbuka dengan sendirinya kala matahari mulai meninggi.
Tubuhnya yang polos berjalan perlahan untuk segera membersihkan diri. Semenjak satu atap bersama Justin, pakaian seakan tidak begitu berguna bagi Agny. Ya, suaminya seolah tidak membutuhkan sehelai benangpun, Justin lebih suka istrinya tidak mengenakan apa-apa.
"Aaaah leganya."
Sudah lama Agny tidak merasakan hidup tenang seperti ini. Air hangat di bathup dengan busa yang memanjakan setiap inci tubuhnya membuat tulang Agny seakan dimanjakan, bergelut bersama Justin semalam cukup membuat tubuh Agny kaku semua. Walau seharusnya sudah terbiasa, akan tetapi setelah menikah memang Justin semakin menggila.
Dia memejamkan mata sembari menikmati bagaimana rasanya menjadi ratu kerajaan yang sesungguhnya. Agny kembali teringat akan mimpi tidak masuk akal beberapa waktu lalu, kali ini semua seakan menjadi kenyataan dengan Justin sebagai rajanya.
Beberapa menit dia merasakan kenyamanan, hingga mata Agny sontak terbuka kala dia merasakan riak air yang disebabkan seseorang ikut bergabung ke dalam bathup tersebut.
"Su-sudah bangun?"
Agny was-was kala melihat sang suami turut bergabung di hadapannya. Pipi Agny bersemu merah dan dia berpura-pura terlihat santai padahal dia berdesir setiap melihat pemandangan semacam ini secara langsung.
"Hm, kenapa tidak membangunkanku?" tanya Justin kemudian menarik tubuh Agny agar lebih dekat, dalam keadaan seperti ini Agny kian was-was dan merasa tujuan Justin bukan hanya untuk mandi, melainkan yang lain.
"Tidak tega," jawab Agny seadanya, dia memang merasa Justin butuh istirahat hingga memilih membiarkan sang suami terlelap lebih lama.
__ADS_1
"Oh iya? Tidak tega atau takut mandinya diganggu?"
Justin menarik sudut bibir dia akan kembali menggoda sang istri karena memang Agny benar-benar semudah itu salah tingkah. Hanya diajak bicara sembari diperhatikan begitu lekat dia akan mengalihkan pandangan, entah kapan agar Agny tidak persis pasangan baru begitu di hadapan Justin.
Seakan paham apa yang ada dalam pikiran istrinya, Justin berhasil membuat Agny bingung hendak menjawab apa. "Bu-bukan begitu, aku tidak pernah merasa diganggu," jelas Agny tanpa diminta, padahal sebenarnya memang iya dia sangat khawatir diganggu karena biasanya mandi bersama Justin akan lebih lama dari waktu yang seharusnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Pijat pundakku kalau begitu, aku pegal-pegal, udara di sini tidak nyaman," ucapnya kemudian membelakangi Agny seakan benar-benar membutuhkan tenaga sang istri untuk memijatnya.
"Begini?"
"Terlalu pelan, tenagamu mana?"
"Eeum iya begitu, naik sedikit sampai leher," titah Justin yang kini juga betah dengan pijatan Agny, tidak dapat dipungkiri dia memang menginginkannya karena tubuh pria itu merasakan pegal-pegal sejak kemarin.
Semakin lama Justin semakin banyak mau, awalnya minta pijat biasa lama kelamaan justru berubah menjadi ke arah yang iya-iya. Apalagi, ketika pria itu bersandar hingga tubuhnya dan Agny menempel tak berjarak.
Agny menggigit bibir bawahnya kala merasakan bagian dadanya dihimpit Justin entah bagaimana nasibnya. Hendak protes dia bingung, namun jika tidak begitu tubuh Justin terlalu berat bahkan di merasa punggungnya sedikit sakit.
"Agny," panggil Justin di saat dirinya tengah bersandar di tubuh sang istri,
"Iyaa, kenapa?"
"Ukuranmu berapa? Kenapa tidak berasa?"
__ADS_1
"Ck, udah sana ... itu bertanya atau menghina sebenarnya?" kesal Agny mendorong tubuh pria itu namun sama sekali tidak bergerak, jelas saja karena suaminya terlalu gagah untuk Agny yang kurus begitu.
"Hahah aku cuma bertanya, padahal aku sudah usaha ... tapi kenapa masih kecil ya," ucap Justin sekenanya kemudian berbalik dan hendak memastikan ukurannya, sontak Agny menutupi bagian dadanya dengan kedua telapak tangan seraya mendelik tajam.
"Coba lihat, aku hanya memastikan."
Justin menyingkirkan kedua tangan Agny agar dia puas memandanginya. Selekat itu dia menatap sembari sesekali menatap wajah sang istri yang pasrah menuruti kehendaknya. "Sudah belum?"
Justin tampak berpikir keras sebelum menjawab, hingga dia menarik sudut bibir dan hal itu berhasil membuat Agny berdecak lantaran sebal menahan malu.
"Masih sama, padahal sudah satu bulan ... besok-besok minum susu ya."
Justin hanya bercanda, sebenarnya sama sekali tidak masalah. Akan tetapi, ekspresi Agny membuat Justin semakin suka hingga dia mencari sejuta cara untuk membuat sang istri kesal padanya.
"Ya sudah, operasi saja ... minta uangnya tapi, aku tidak mampu kalau harus bayar sendiri."
"Haha, bercanda, Sayang. Nanti juga membesar kalau sudah punya anak." Awalnya Agny ingin marah, akan tetapi mendengar ungkapan Justin terkait anak entah kenapa dia seakan luluh begitu saja.
.
.
.
- To Be Continue -
Sementara Up, mampir dulu ke novel ini ya guys.
__ADS_1