Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 40 - Perseteruan Pagi


__ADS_3

"Lapar?"


Agny mengangguk cepat kemudian memberikan sendok untuk Justin. Dia tampaknya tidak peduli penampilannya kali ini, hanya karena semangkuk bubur suasana hati wanita itu berubah sebaik itu. Justin tersenyum tipis kala Agny merapikan rambutnya asal, sepertinya memang kelaparan dan tidak makan lebih dari tiga hari.


Melihat Agny pagi ini, Justin kembali terbayang dengan apa yang dia lakukan tadi malam. Sungguh itu adalah hal paling keji yang pernah Justin perbuat pada wanita, penyesalan itu kian membekas apalagi ketika melihat Agny terlihat santai dan biasa saja seakan tidak ada masalah sama sekali.


"Kenapa cuma dilihat? Kenyang atau mau makan yang lain?"


Justin tertawa sumbang seketika, dia benar-benar tidak kuasa menahan diri kala Agny melontarkan pertanyaan sederhana namun seakan menyerahkan diri pada Justin pagi ini. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Agny, hanya saja memang otak Justin yang tidak jernih sama sekali.


"Makan kamu boleh?"


Menyesal sekali dia bertanya, Agny terdiam dan kembali menikmati sarapannya dengan perasaan yang tiba-tiba gugup seakan baru sadar jika pria yang berada di hadapannya sejak beberapa menit yang lalu ini adalah Justin.


Berusaha secepat mungkin menghabiskan sarapannya hingga Justin justru berpikir Agny tidak akan kenyang pagi ini. Padahal, saat ini Agny tengah berusaha untuk cepat karena memang pandangan Justin hanya terpaku padanya.


Terlalu cepat dia makan, sendoknya bahkan terjatuh ke lantai dan hal itu berhasil membuat Justin terbahak. Seakan tidak ada habisnya cara untuk membuat Agny malu pagi-pagi begini, entah karena tadi malam selesai bermain dengan emosi atau memang dia menyukai Agny yang begini.


Agny menggigit bibir bawahnya, dengan tatapan mata setajam itu bisa disimpulkan jika Justin sudah merusak suasana hati Agny hingga ke akar-akarnya. Akan tetapi, bagi Agny ini bukan masalah besar, dia terbiasa dengan bullyan semacam ini ketika di bangku sekolah.


Memilih diam dan tidak peduli meski Justin tengah menjadikannya hiburan saat ini. Agny menunduk dan tengah berusaha menganggap Justin pajangan, tangannya hampir berhasil meraih sendok yang tergeletak di lantai namun tanpa Agny duga, Justin membuat sendok itu semakin jauh dengan satu kali tendangan.


"Ck, kakinya tidak pernah sekolah ya? Tidak ada sopan santunnya heran," gerutu Agny sekesal itu, andai saja dia tidak sedang lapar mungkin sudah memilih pergi saat ini juga. Akan tetapi, buburnya masih tersisa setengah dan perut Agny tidak bisa diajak kompromi.


"Kotor."


Benar juga, memang faktanya jelas kotor. Akan tetapi di mata Agny sebenarnya tidak sama sekali, akan tetapi dia berusaha untuk terlihat biasa saja walau sedikit malu. "Iya memang kotor, aku ambil sendoknya bukan buat dipakai lagi_"


"Lalu untuk apa?"

__ADS_1


"Ya diambil biar tidak kerja dua kali nanti." Agny mengelak padahal memang sejak awal dia mengambil sendok itu adalah untuk dia gunakan kembali.


"Oh iya? Alasan saja, padahal mau kamu pakai, 'kan?"


Terserah Justin saja, Agny tidak ingin memperpanjang masalah dan memilih diam kemudian menerima sendok baru yang Justin berikan. Posisi duduk Agny yang juga membungkuk masih menjadi alasan Justin tidak melepaskan Agny dari pandangannya.


.


.


.


Tidak hanya posisi, makanannya harus diperhatikan, Justin.


Mendadak Justin terpikir akan ucapan Keny tadi malam, niatnya ingin membuat Agny hamil tampaknya memang sudah benar-benar setulus itu. Secepat mungkin Justin memberikan bubur miliknya untuk Agny segera.


"Heh?"


"Tapi aku sudah kekenyangan," ucap Agny jelas-jelas menolak karena memang dia merasa perutnya sudah terasa padat dengan bubur ayam itu.


"Belum, Agny ... jangan khawatir berat badanmu bertambah karena aku semakin suka."


Tidak hanya sekadar berucap, Justin juga berkedip dan hal itu membuat Agny mengerjap seketika. Justin terlalu baik atau bagaimana, padahal dia saja belum makan sedikitpun dan rasanya tidak mungkin perut pria itu terasa kosong.


"Bukan masalah itu, tapi memang eeeuugghh ... tuh dengar sendiri, kenyang, Justin."


Untuk perkara ranjang mungkin saja bisa dipaksa, akan tetapi jika sudah perkara makanan bagaimana rasanya mulut Agny jika harus menerima semangkuk lagi tanpa Justin kurangi sedikit saja. Hingga sendawa itu tidak dapat dia tahan dan keluar begitu saja lantaran Justin terus memaksanya untuk menghabiskan bubur itu.


"Justin? Kamu panggil aku apa? Justin? Ck, jangan bercanda ... usia kamu terlalu jauh untuk menyebutku dengan panggilan seperti itu," tolak Justin sedikit risih jika Agny memanggilnya hanya dengan sepotong nama saja, pria itu lebih nyaman jika Agny memanggilnya seperti biasa karena dengan itu dia merasa berkuasa atas diri Agny.

__ADS_1


"Om tidak punya rencana ya hari ini? Kerja atau pergi kemana begitu? Ini sudah siang loh," ucap Agny berusaha menyadarkan siapa tahu Justin lupa.


"Ada tentu saja, aku masih butuh uang untuk menghidupi kamu ... setelah ini aku siap-siap, kamu tidak ada niat ikut kerja begitu?"


"Ngapain ikut kerja, aku bukan anak kecil."


"Ya bantu aku kerja, pijat punggung atau kepalaku ... cari nafkah itu melelahkan, Agny," ungkap Justin hiperbola padahal sama sekali tidak ada perjanjian bahwa dia harus menafkahi Agny sebagaimana dia maksudkan.


Modus-modus para pemain mulai tercium dan Agny paham seratus persen jika pijatan dipunggung akan berujung panjang dan hal itu tidak dapat Agny pungkiri, terlebih pria yang bersamanya ini adalah Justin Anderson.


"Sepertinya tidak bisa, Om ... aku juga ada urusan hari ini, jadi sepertinya aku juga akan keluar nanti siang."


"Hm? Kenapa baru bilang? Keluar kemana memangnya?"


"Aku mau ambil semua barang-barang di rumah Om-ku, aku tidak punya apa-apa di sini ... bra yang Om beli kemarin ukurannya tidak ada yang pas, kebesaran semua." Sejujur itu dia mengutarakan alasan keluar rumah karena memang apa yang Justin beli kemarin hanya menerka dan membayangkan dengan mata.


"Nanti ukurannya pas sendiri, percaya padaku ... firasatku tidak pernah salah, Agny."


"Oh iya? Om tahu dari mana?" tanya Agny belum sama sekali menyadari kemana arah pembicaraan Justin.


"Biasanya begitu ... Oh iya, aku tidak izinkan kamu pergi sendiri, akan kutemani tapi nanti malam saja ya," ucap Justin yang kini tampaknya mengalah dan mulai memasukkan sesuap demi sesuap bubur itu ke dalam mulutnya.


"Aku sendiri bis_"


"No, jangan membantah ... kamu harus bersamaku, kita pergi setelah makan malam, paham?" Ini adalah sebuah perintah, sifatnya mutlak dan tidak dapat digugat. Justin memahami bagaimana kegilaan paman Agny, jelas saja dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi sendirian entah apapun alasannya.


.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2