Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 45 - Salah Dugaan.


__ADS_3

Agny mengikuti langkah Justin dari belakang, belum juga berhasil keluar dari rumah itu sosok pria dengan mata tajam tiba-tiba saja berdiri di hadapan Justin. Jelas saja pria itu merasa sebal, sudah tahu barang-barang yang dia bawa luar biasa berat justru dihalau begitu saja. Sialnya lagi, Justin mengenali pria ini di masa lalu.


"Justin?"


Justin memalingkan wajahnya kala Arga menyapanya. Pria itu masih memeluk celengan babbi yang membuat pria garang itu terlihat lucu di mata Arga, jika sudah begini sama sekali tidak terlihat Justin yang ringan tangan dan berani asal pukul jika merasa tidak terima dengan perlakuan seseorang.


"Kau? Mau kau bawa kemana adikku?" tanya Arga memasukkan tangan ke saku celananya, dia juga melirik ke arah sepupunya yang terlihat menunduk di belakang Justin. Tepatnya, adik sepupu yang mampu membuat Arga tidak tahan dengan semua yang ada dalam diri Agny.


"Pulanglah, dia milikku ... kenapa memangnya?"


Justin menajamkan mata dan hal itu berhasil membuat Arga tertawa sumbang. Sepertinya Justin memang tidak berubah perkara wanita, setakut itu akan direbut padahal sejak dahulu memang wanitanya yang mudah tergoda akan pria lain.


"Yaya, milikmu memang ... jika sudah puas, berikan saja padaku."


Agny mendengar dengan jelas ucapan Arga yang seolah menginginkan dia juga. Tidak heran, memang sejak dahulu Arga terang-terangan mengutarakan jika dia mencintai Agny, sejak kehidupan mereka masih baik-baik saja dan orangtua Agny masih lengkap.


"Cih, kau tidak berubah ... memang selalu menginginkan bekasku ternyata," ucap Justin menatap nanar ke depan dan dia sangat membenci berada di posisi ini.


"Tidak juga, tapi wanitamu yang biasanya akan berpaling padaku ... Oh iya, setelah berpisah darimu Vanya semakin cantik, tubuhnya semakin seksi dan woah masih sangat sempit ... aku jadi penasaran milikmu pasti kecil," bisik Arga seolah sengaja memancing emosi Justin, andai saja celengab babbi ini bukan milik Agny, mungkin sudah dia lemparkan tepat di atas kepala Arga agar pria itu diam sesaat.


Tidak ingin memperbesar masalah, Justin mempercepat langkahnya diikuti Agny yang kini bingung dan benaknya penuh tanya. Pria itu terkekeh melihat sejoli beda usia yang kini berlalu melewati gerombolan papanya, sebagai pria yang pernah memperebutkan satu wanita, Arga merasa kalah untuk kali ini karena Justin berhasil mendapatkan kesucian adik sepupunya.

__ADS_1


Sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Arga, jika Justin yang kerap disebut sang papa adalah Justin yang sama dengan pria yang tidak lain adalah suami Vanyak, kekasih Arga beberapa tahun lalu. "Siall, kenapa harus Agny yang jadi penggantinya ... mana Vanya mulai sakit-sakitan, anjiing memang!!" umpat Arga secara tidak langsung mengakui jika dirinya memang sudah benar-benar kalah.


.


.


.


Tanpa pamit atau apapun, Justin masuk mobil setelah dipastikan Agny duduk dengan tenang. Wanita itu was-was dan dia memerhatikan Justin dengan ekor matanya, semenjak keluar dari rumah itu, tepatnya bertemu Arga di dekat tangga Justin benar-benar diam seribu bahasa dan hal itu membuatnya takut untuk bertanya.


Justin melajukan mobil dengan kecepatan rendah, tampaknya sangat berhati-hati lantaran takut Agny ketakutkan. Dia memang marah, akan tetapi bukan pada Agny tentu saja. Justin hanya butuh waktu untuk dirinya sendirian dan dalam diamnya, itu saja.


Tiba di tujuan, Justin belum memiliki niat untuk turun lebih dulu. Dia bersandar dan memejamkan mata dan itu Agny saksikan dengan begitu jelas, Justin mungkin frustasi, apalagi tadi Arga sempat membahas masa lalunya.


"Hm?"


"Masih lama ya? Aku turun duluan boleh tidak?" tanya Agny yang mulai merasa risih terus menunggu di mobil padahal tujuan mereka sudah tiba sejak tadi, Agny bingung sebenarnya apa yang salah dalam diri pria itu.


"Bentar."


"Bentar kap_" Mata Agny membola kala Justin mengikis jarak hingga keduanya nyaris ciumman, meski sudah sering kali dia rasakan tetap saja Agny berdegub tak karuan jika Justin sudah begini.

__ADS_1


"Agny, apa yang terjadi hari ini tidak perlu kamu ingat ... anggap tidak terjadi apa-apa, dan jangan tanya apapun padaku, paham?"


"Hm, paham."


Dengan sangat terpaksa Agny menjawab paham karena dia mengerti suasana hati Justin memang tidak akan baik-baik saja. Pelukan erat itu Agny terima sembari membalasnya perlahan, cukup lama mereka berdiam di mobil seakan pasangan yang hendak berpisah, padahal mereka tidur di atap yang sama.


"Om Justin."


"Apa?" tanya Justin kemudian melepas pelukannya, beralih mendekatkan wajah hingga jaraknya kian terkikis bahkan hampir bersentuhan.


"Kebelet," bisik Agny dan itu membuat senyum Justin meredup seketika, dia pikir Agny yang memegang pundaknya adalah pembukaan dari adegan manis mereka.


Justin persilahkan dia keluar, dan tanpa terduga Agny benar-benar berlari sendirian tanpa peduli dengan koper dan juga celengan babbi dengan berat tak main-main itu sebagai tanggung jawab Justin, sendirian dan itu cukup menyebalkan.


"Apa aku jatuhkan saja ya? Ck, tapi kalau pecah dia bisa menangis, bahaya ... kemana aku cari gantinya, kurasa celengan cukup mahal ," ucap Justin kembali memerhatikan celengan tersebut yang ternyata terlihat cukup mahal, mungkin saja mendiang papanya dahulu mampu membelikan benda semacam itu meskipun mahal, pikir Justin.


Siapa yang menduga jika di usia yang memasuki kepala empat, Justin justru memilih untuk hidup bersama wanita yang lebih peduli dengan benda semacam itu dibandingkan tas branded. Bahkan jika Justin ingat di kamar Agny tadi, sepatu yang memperlihatkan dia feminim bahkan tidak ada sama sekali.


.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2