
Justin mengira istrinya menikmati, sama sekali belum sadar jika istrinya bear-benar kesakitan. Bahkan dia dengan bodohnya menutup mulut sang istri hingga dia tidak bisa berucap.
Tidak ingin mati konyol karena sakitnya kian menjadi, Agny mendorong Justin dan dia menggeleng cepat, berharap Justin mengerti penolakannya hingga Justin menghentikan aksinya.
"Kenapa? Apa aku terlalu kasar?" tanya Justin bingung melihat air mata Agny yang kini menangis persis malam pertama mereka melakukannya.
"Sak-sakit sumpah."
Bibir Agny kini kian pucat, tidak biasanya dia begini. Justin yang merasa ada yang tidak beres segera melepaskan dirinya. Apa yang tadinya ingin dia dapatkan seakan hilang begitu saja, tergantikan dengan panik dan khawatir kala dia menyadari darah keluar dari bagian inti istrinya.
"Sayang? Mens?" tanya Justin ragu, akan tetapi belum Agny menjawab Justin segera turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya.
Agny masih menangis sementara Justin sudah sepanik itu. Itu bukan menstruasi, dia paham sekalipun bukan wanita. Ada yang tidak beres dengan istrinya hingga tanpa pikir panjang Justin membopong sang istri yang sebelumnya sempat dia pakaikan baju.
"Ken, kesini cepat ... jaga Renaga."
Setelah memastikan Keny siap datang dan menjaga putranya, Justin segera beranjak ke rumah sakit. Kali pertama dia melaju dengan kecepatan tinggi bersama sang istri, pikiran Justin sudah kacau balau dan tidak mampu sabar sedikit saja.
"Bertahanlah, Agny ... sebentar lagi."
.
.
Justin merutuki kebodohannnya, secepat itu keadaan berubah. Agny yang tadinya terlihat baik-baik saja bahkan dengan sengaja menggodanya, kini terbaring lemah dengan infus di punggung tangannya.
Kali ini siapa yang bodoh, Justin benar-benar ingin marah. Akan tetapi tidak mungkin Agny yang jadi sasaran sementara sang istri kemungkinan tidak menyadari keadaannya.
Malam ini Justin hanya terdiam di sisi sang istri yang baru saja terbangun setelah terpejam cukup lama. Bibir pucat, wajah layu dan semua begitu buruk di mata Justin. Pria itu menatap datar ke arahnya sementara Agny butuh penjelasan kenapa sampai selang mengalirkan darah segar itu ada di punggung tangannya.
__ADS_1
"Sayang, kamu bangun? Masih ada yang sakit?' tanya Justin gelagapan kala pertama kali menatap manik indah sang istri.
"Aku kenapa?" Agny menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
"Pendarahan, karena ulahku," jawab Justin kemudian menunduk dalam-dalam. Dia merasa bersalah dan takut tentu saja, lagi dan lagi penyesalan itu hadir karena Justin terlalu mengabaikan Agny akhir-akhir ini.
Agny terdiam membisu, dadanya terhenyak kala Justin menjawab demikian. Sekelibat ingatan mulai berputar di otaknya, terakhir memang dirinya merasakan sakit yang luar biasa sebelum kemudian Justin bawa ke rumah sakit.
"Pendarahan?"
"Hm, maafkan aku ... seharusnya memang tidak sekasar tadi, aku keterlaluan dan naffsuku memang tidak bisa dibendung ketika bersamamu."
Justin menangis, setelah cukup lama menunduk dia menatp wajah Agny. Jelas saja sang istri bingung hendak berbuat apa karena jika Justin sudah menangis artinya keadaan memang tidak sedang baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu ... tadi juga tidak memaksa, aku yang mau. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri," tutur Agny lembut sekali hingga Jutsin kembali menangis dan semakin musnah harga dirinya sebagai pria sangar di luar sana.
"Tapi seharusnya aku peka dan sadar kalau kamu kesakitan."
"It's okay, tenanglah ... aku baik-baik saja sekarang," ucap Agny berusaha menghibur sang suami. Padahal, suaranya saja sudah selemah itu dan dia masih berpikir baik-baik saja.
"Iya, semoga kamu baik-baik saja ... tapi aku hampir membunuh anakku sendiri, bagaimana aku bisa tenang," ucap Justin yang kemudian membuat bola mata Agny membulat sempurna.
Apa tadi? Dia tidak salah dengar bukan? Apa maksud Justin? Sontak Agny justru mengingat Renaga. "Aga kenapa?" tanya Agny menatap Justin serius, air mata Justin jelas saja membuatnya tidak tenang.
"Bukan Aga, Sayang ... tapi dia, aku hampir membunuhnya beberapa jam lalu," ucap Justin seraya mengelus pelan perut datar Agny. Wanita itu berdesir dan menatap sang suami penuh tanya.
"Mak-maksudnya?"
"Yes, our baby ... kamu hamil, kenapa kita tidak ada yang sadar?"
__ADS_1
Agny merasa tubuhnya bergetar dengan sejuta perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan. Justin memeluknya sebelum Agny meminta, ini adalah hal yang dia tunggu sejak lama. Akan tetapi, kenapa harus diketahui dengan cara yang begini, sesal Agny menatap sendu suaminya.
"Maafkan aku, Sayang. Sumpah, tidak ada niat menyakiti kalian," sesal Justin begitu dalam seraya mengusap punggung Agny sangat lembut.
"Maaf juga, aku benar-benar tidak menyadari kalau dia sudah ada di sini." Sungguh, Agny tidak merasakan tanda-tanda kehamilan seperti kata Sonya dan juga Mikhaya, sekalipun tidak.
Dia tidak menyalahkan Justin, akan tetapi dia juga dicekam rasa bersalah. Bukan hanya Justin yang menyesali akibat hampir membunuhnya, akan tetapi dia juga. Agny menangis tersedu lantaran berita baik yang hampir saja berlalu sebagai luka terdalam dalam hidupnya.
"Andai benar-benar terjadi, sampai mati aku tidak akan memaafkan diri sendiri."
.
.
- To Be Continue -
Yang maren minta dia hamidin mana? Sudah ya🤣 Maaf kalau cara ngasih tahunya sedikit berbeda.
Oh iya, seperti biasa untuk hari ini aku mau bawain rekomendasi novel buat bacaan sambil makan bakwan. Mampir ya gengs ❤
Mendapati seluruh keluarganya mati dibantai membuat Cheryl sangat terpukul. Apalagi mengetahui mengetahui pelakunya adalah Janu, anak dari sahabat baik ayahnya.
“Kenapa kalian masih diam di sini? Cepat cari dokumen-dokumen berharga yang masih tersisa!” perintah Janu kepada para pengawalnya sembari menahan tangan Cheryl yang terus menyerangnya.
Para pengawal berpencar ke setiap sudut rumah untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.
“Kamu mau apa dari rumah ini? Kalau ingin merampok, kenapa harus membunuh mereka semua, hah!” ucap Cheryl.
__ADS_1
Janu terkesan tidak mau menanggapi semua ucapan Cheryl. Ia hanya berusaha bersabar agar tidak terpancing emosi dengan kelakuan Wanita itu.
“Dasar pembunuh! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang! Aku bersumpah akan membunuhmu, Janu!” teriak Cheryl.