
Tidak lama berselang, perjalanan diambang kematian itu berakhir. Justin segera turun dan berlari membawa Agny diikuti Sonya. Sementara Keny yang kini mendadak mual harus memuntahkan dulu isi perutnya karena Khayla mengemudi persis manusia kesurupan.
"Sayang baik-baik saja?" tanya Khayla berusaha mengatur napasnya, sejak tadi Keyvan memanggil namanya dan kini dia baru bisa memerhatikan yang terjadi pada sang suami.
"I'm okay ... ayo masuk."
Kasihan sebenarnya, di saat genting begini Mikhayla tetap mengutamakan sang suami. Mereka baru masuk ketika Keyvan sedikit rapi, bekas gigitan yang memprihatikan hanya membuat Mkhayla menghela napas pelan.
"Hueek ... aaarrggh istrimu memang sinting, Evan!! Bawa mobil atau bawa roket sebenarnya," kesal Keny memijat pelipisnya, lebih menyebalkan lagi kala dia menyadari jika saat ini Sonya sudah masuk lebih dulu tanpa menunggu dirinya.
Sudah disiksa dua wanita yang merupakan istri sahabatnya, kini ditinggal istrinya sendiri. Sungguh, menyebalkan sekali nasib Keny sebenarnya.
Pria itu melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit, persis orang penyakitan. Beberapa perawat merasa prihatin padanya, sepucat itu memang dia saat ini hingga orang-orang mengira Keny sakit keras.
Persetan dengan tanggapan mereka, yang jelas saat ini Keny harus segera bergabung bersama sahabatnya. Sekaligus menyadarkan otak sang istri yang seenak dengkul meninggalkannya.
Sementara di sisi lain, saat ini Justin tengah dibuat panik dan berusaha untuk tetap tenang. Rintihan Agny kian membuatnya teriris, belum lagi Keyvan dan Sonya yang sibuk sendiri seolah mereka adalah dokternya.
"Maaf, hanya suami yang boleh masuk."
Terlalu panik, Keyvan sampai lupa diri. Beruntung saja Mikhayla tidak marah dan hanya menariknya untuk duduk dan menunggu Agny berjuang. Keringat masih membasahi mereka, padahal melahirkan bukan hal asing dan kedua wanita ini sudah merasakannya.
Namun, baik Sonya maupun Khayla masih berdegub kencang seakan jiwanya dibuat porak-poranda saat ini. Mereka tidak ada ikatan darah, tapi ketakutan yang mereka rasakan begitu nyata.
Keyvan menarik istrinya dalam pelukan demi memberikan ketenangan, sementara Sonya yang hingga saat ini masih menunggu Keny turut bersandar di pundak sahabat suaminya itu.
"Ih Sonya apaan sih!!"
Secara sadar, Mikhayla mendorong Sonya yang seenaknya bersandar di punggung Keyvan. Sekalipun dia lelah, tetap saja hal itu tidak dapat dibenarkan. "Maaf, Khay ... aku capek, kupikir kasur," jawabnya santai dan hal itu berhasil membuat Mikhayla naik pitam.
"Mending cari suamimu sana, sepertinya tersesat," titah Keyvan yang baru teringat lantaran Keny belum juga tiba hingga saat ini.
.
.
Sebagaimana pria yang menemani istrinya melahirkan, Justin sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Dahulu dia sempat merasakannya, tangan mungil Khayla membuat rambutnya rontok, kini sang istri yang menjadi pelakunya.
__ADS_1
Air mata dan tangisan perjuangan terlihat jelas di mata Justin. Demi apapun dia berjanji, pada diri sendiri serta Tuhannya akan menjaga Agny tanpa menyakiti seumur hidupnya.
Justin yang sejak lama tidak memiliki rasa takut, kini memejamkan mata dan berharap dunianya tidak akan berhenti setelah ini. Agny mulai terlihat lemah, tapi sebisa mungkin Justin memberikan kekuatannya.
"Lihat aku ... jangan berhenti, Sayang ... kamu ingin kita lengkap, 'kan?"
Jiwanya sudah terasa lemah, ucapan Justin dapat dia dengar dengan jelas hingga mengangguk pelan sebelum kemudian kembali berjuang. Agny menggunakan seluruh tenaganya, demi Justin dan juga buah hatinya.
Hanya ini yang mampu Agny berikan untuk Justin, dia tidak ingin penantian suaminya sia-sia. Bayangan tangis bayi dan suka cita bersama Renaga terngiang jelas di otak Agny, hingga dia terseyum bersamaan degan jeritan individu baru yang terdengar amat nyata.
"Kita berhasil, usaha kita tidak sia-sia ... kamu hebat, Sayang."
Justin menghela napas penuh kelegaan kala mimpinya bertahun-tahun kini menjadi nyata. Menjadi sosok papa dan menyaksikan bagaimana dia lahir ke dunia, hati Justin menghangat bahkan kini pria itu menangis untuk kali kesekian.
.
.
Cukup melelahkan, tapi Justin bahagia luar biasa dengan apa yang dia terima hari ini. Pria itu mengecup kening sang istri berkali-kali, bayi yang kini sudah dibersihkan telah diperbolehkan untuk Justin peluk.
Sebagaimana cita-cita Justin, bayi perempuan berparas cantik dan sangat sehat tanpa kurang suatu apapun. Cukup untuk membuat dia melupakan teman-temannya untuk sesaat.
"Perempuan, kamu bahagia?"
"Sangat, terima kasih, istriku."
"Kan ini hasil sama-sama, kok makasih?"
"Kamu yang banyak berjuang di sini, kamu sudah menerimaku apa adanya, bahkan ketika hadir Renaga kamu tetap memilihku ... aku mencintaimu Agny Tabina."
"Aku juga mencintaimu, Justin Anderson."
Selang beberapa lama, kedua sahabatnya bersama istri kini masuk untuk mengucapkan selamat. Namun, keadaan Keny sesaat membuat Justin bingung apa yang terjadi sebenarnya.
"Tunggu, kepala Keny?"
"Mabuk dia, jadi terpaksa pakai koyo," jawab Sonya sedikit kasihan melihat kondisi sang suami.
__ADS_1
Yang melahirkan adalah Agny, tapi yang sepertinya butuh perawatan adalah Keny. Akibat Mikhayla yang membawa mobil dengan kekuatan petir, membuat pria itu benar-benar tersiksa bahkan Sony menemukannya duduk di dekat kotak sampah, sungguh miris.
"Hadeh, begitu saja sudah mabuk ... lihat putriku saja tidak mabuk, dia sangat sehat walau diajak Aunty Khayla balap liar," ucap Justin yang kemudian menjadi gelak tawa bagi mereka.
Kehadiran bidadari mungil di kehidupan Justin seakan menambah kebahagiaan mereka juga. Lengkap sudah formasi mereka. Jangan ditanya sebahagia apa, jelas saja luar biasa.
"Aw, semoga tidak brutal setelah dewasa ... namanya siapa?"
"Hm, sudah aku pikirkan semoga saja cocok."
"Siapa? Jangan bilang Durgandini," sahut Sonya yang kini mendekati Agny, melepaskan Keny sejenak karena pria itu masih mabuk juga.
"Durgandini kepalamu."
"Terus siapa?"
"Gracia Anderson," jawab Justin mantap dan hal itu sudah dia sepakati bersama Agny sejak lama.
"Bagus, nanti manggilnya Cia," ungkap Mikhayla setuju dengan pendapat Justin.
"Iya lucu lagi, biar jago silat. Cia ... Cia ... Cia," sahut Sonya seraya mempragakan gerakan bela diri di hadapan mereka.
"ITU CIAT!! Ken, tolong bawa pulang istrimu dari sini." Keyvan mulai dari darah, sementara Keny yang juga hidup segan mati tak mau hanya diam saja.
Kelakuan Sonya kali ini tampaknya Justin maafkan, pria itu terbahak dan menggeleng pelan seraya berharap putrinya tidak ketularan dua wanita ini.
Sungguh, di posisi sebagai anak yang kehilangan orangtua sejak lama, Justin tetap merasakan kehadiran keluarga dengan adanya Keyvan dan juga Keny.
Pertemanan mereka akan mengukir sejarah, hingga selalu terkenang di masa depan. Tidak akan ada akhir, mengalir sampai kepada anak cucu mereka nanti.
.
.
- Tamat -
Hai, kisah Justin sudah selesai sampai di sini ... terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti sampai akhir. Ayo ucapkan perpisahan untuk mereka bertiga🙂Terkhusus yang belum baca Zean di "Istri Rahasia Sang Presdir" Hayu samperin, udah banyak eps-nya.
__ADS_1