Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 94 - Penyesalan


__ADS_3

Pulang dari kantor hari ini, Justin sedikit berbeda. Ada dua orang yang menunggunya di apartement. Hunian sementara yang akan mereka tinggalkan beberapa saat lagi lantaran rumah yang Keyvan janjikan sebentar lagi dapat dia tempati.


"Hai, kok pulangnya malem?"


Lelah yang Justin rasakan luntur begitu saja kala menatap wajah cantik sang istri. Bersyukur sekali dia memiliki Agny yang mau menerima Justin dengan segala keadaannya.


"Hm tadi mampir dulu ke supermarket ... nih apelnya."


"Woah tadi katanya males, makasih loh." Agny bersemu merah melihat apa yang dia mau, hanya karena video singkat yang dia tonton di ponselnya, wanita itu merengek bahkan membuat Justin mengelus dada di ruang rapat.


"Dia mana?" tanya Justin mengelilingkan pandagannya, sejak tadi dia mencari sosok Renaga. Biasanya putranya itu akan berdiam diri di sofa jam segini, kini tidak terlihat lagi.


"Sudah tidur, kecapekan kayaknya," ucap Agny dan sontak membuat Justin mengerutkan kening.


"Capek? Memang dia ngapain hari ini?" Aneh, karena sejak kemarin-kemarin Renaga selalu berdiam diri dan sekalinya berpindah itu hanya ke kamar.


"Hari ini dia aktif sekali, kami bahkan Zumba ... dan dia suka," ucap Agny semangat sekali, gigi rapihnya memperlihatkan betapa wanita itu menerima Renaga sebagai putranya.


"Zumba? Ck, dia kenapa pilih kasih begitu? Kenapa jika bersamaku diam saja."


"Dekati pelan-pelan, mungkin ketakutannya pada kak Arga membuat Renaga membenci laki-laki dewasa ... aku yakin dia anak yang penurut sebenarnya," ucap Agny menecoba memberikan pengertian pada Justin.


Walau, memang tidak bisa Agny pungkiri wajar saja Justin merasa Renaga pilih kasih. Hingga satu minggu berada di atap yang sama, Renaga masih begitu tertutup pada papanya. "Sana samperin, dia cakep banget kalau lagi tidur," puji Agny dan membuat Justin menatapnya datar.


"Dikasih pabriknya, malah kagum sama produknya," umpat Justin terang-terangan dan hal itu jelas saja membuat Agny terbahak seketika, bisa saja Justin melontarkan istilah semacam itu.


"Ih harusnya seneng dong anaknya dipuji," ungkap Agny mengikuti langkah sang suami di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu tidak pernah memujiku seperti itu."


Agny hanya menggeleng pelan mendengar ucapan suaminya. Wajar saja Justin lebih suka anak perempuan, dia selalu bercerita tentang Zavia dan Giska dengan harapan istrinya hamil anak perempuan nanti. Setelah melihat bagaimana Justin malam ini, akhirnya rasa penasaran Agny tuntas.


"Sayang, nanti dia marah-marah gimana?"


"Tidak, jangan dibentak makanya," ungkap Agny mengingatkan sang suami. Karena dari kemarin-kemarin, Justin dan Renaga memang tidak bisa saling bicara. Sekalinya bicara akan berteriak satu sama lain bak adik kakak yang berebut mainan.


"Hm, baiklah."


Agny tidak akan mengganggu suaminya, dia paham Justin perlu waktu berdua. Sesebal-sebalnya Justin pada sang putra, dari sorot matanya dapat Agny tangkap kasih sayang terpendam di sana.


Kini, Justin mengatur napasnya sebelum membuka pintu itu. Dada Justin selalu saja bergemuruh setiap hendak menemui Renaga. Meski kemarin Vanya selalu menjelaskan semua adalah kesalahannya tetap saja Justin merasa dia juga salah.


Salah sekali kenapa dia percaya pada pengakuan Vanya yang mengatakan keguguran beberapa minggu sebelum pengkhianatan itu Justin ketahui. Wajar wanita itu terlihat baik-baik saja ketika Justin temui di rumah sakit kala itu, sayangnya hal itu baru Justin sadari saat ini.


Justin menghela napas pelan kala menatap posisi tidur Renaga. Tidak ada keraguan anak itu memang darah dagingnya saat ini, bahkan posisi tidur saja persis. Tidak hanya itu, Renaga juga bertelanjang dada persis Justin.


"Apa dia tidak dingin?"


Gemas sekali, jika sedang tidur memang masih lucu. Tidak ada mata tajam dan tangan yang selalu terlatih hendak melayangkan pukulan. Justin duduk di tepian ranjang dan mengusap pelan tambutnya, ketampanan Renaga memang tidak bisa dibantah.


Kulit Vanya yang seputih susu menyatu dengan Wajah tegas Justin dalam diri Renaga. Kenangan mantan yang tidak akan pernah dibuang, Justin mengecupnya cukup lama hingga Renaga sedikit terganggu.


Tanpa berkedip Justin menatap putranya. Lagi dan lagi Justin mengelus dada, sangat disayangkan putranya harus lahir dari wanita bodoh seperti Vanya. Hanya karena rasa cinta pada Arga, membuat Vanya berbohong padanya.


Mengatakan dirinya keguguran dan memilih Arga, dia berbohong pada dua laki-laki dan mempertahankan kandungannya dalam penjara bersama Arga.

__ADS_1


.


.


Pikiran Justin melayang, kembali mengingat penjelasan Vanya beberapa waktu lalu. Penjelasan yang semakin membuat Justin yakin jika otak Vanya ada di selang-kangan.


Tiga hari lalu, di rumah sakit.


"Tujuh bulan setelah kita bercerai, aku melahirkan Renaga ... tapi, saat itu aku merasa akan lebih masuk akal jika kuanggap dia anak Arga saja. Aku tidak mungkin kembali padamu setelah apa yang kulakukan, andai dulu aku datang mungkin kau akan membunuh kami berdua."


Justin masih membisu, dia teriris mendengar penjelasan wanita bodoh di hadapannya ini. Hanya karena keegoisan dan otak yang kurang semili itu, Renaga menjadi korbannya.


"Sayangnya, sejak lahir wajahnya sudah begitu mirip denganmu sampai Arga menolak kehadirannya. Tapi, sekalipun Arga membenci putraku, setidaknya dia mencintaiku jadi tidak mungkin dia akan membunuh darah dagingku," ucap Vanya tertunduk lesu dan membuat Justin mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Terima kasih kejujuranmu, sekarang biarkan Renaga ikut aku ... jangan egois dan nekat menjaganya sementara keadaanmu saja sudah begini."


Vanya hendak menolak, namun sepertinya tidak bisa karena beberapa saat kemudian dia diminta tanda tangan di atas materai yang menyatakan jika Renaga benar-benar akan menjadi miliknya.


"Setelah ini, apa aku masih boleh bertemu dia, Justin?"


"Jika ingin bertemu dengannya, sembuh, Vanya ... umurmu harus panjang, itu saja," ucap Justin sebelum meninggalkan wanita bertubuh lemah dan pucat seakan tidak berdarah itu.


Bukan karena Justin peduli Vanya, hanya saja dia berpikir Renaga sangat menyayangi wanita itu sekalipun Justin membencinya sampai mati. Dia hanya berusaha untuk tidak menjadi pria egois yang membuat Renaga kian tersiksa dalam pelukannya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2