Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 80 - Anak Siapa?


__ADS_3

Jangan pukul Mommy


Siall, Justin justru terbayang teriakan Renaga yang sempat berusaha melindungi Vanya. Matanya terpejam dan melepaskan wanita itu kemudian, Vanya bahkan terbatuk-batuk dan mendongak menatap Justin. Mirisnya, pria itu masih menatapnya datar penuh kemarahan.


"Kau gila? Kau akan lebih gila lagi jika sampai membunuh orang yang tidak bersalah, Justin."


"Kau!!"


Justin merogoh ponselnya, mungkin Vanya lupa hingga bersikeras mengatakan jika dia tidak bersalah. "Baca, matamu tidak buta, 'kan? tanya Justin sekasar itu, mungkin dia tidak pakai hati nurani lagi hingga sama sekali tidak peduli sekalipun Vanya adalah wanita.


Mata Vanya membeliak, dia menggeleng pelan dan berusaha meyakinkan Justin pernyataan itu bukan keluar dari mulutnya. Dia menangis, fotonya bersama Renaga terlihat menyedihkan di sana. Pdahal, sama sekali Vanya tidak pernah menyebut Renaga sebagai anak terlantar.


"Puas? Sudah ingat? Berapa kau dibayar untuk menodai namaku, hm?" tanya Justin lembut, tapi tidak terdengar menyejukkan.


"Justin, kau boleh menganggapku pembohong ... tapi untuk yang kali ini, demi Tuhan aku tidak melakukannya, Renaga bukan anak terlantar dan aku masih mampu menghidupinya."


Tidak ada kebohongan di mata Vanya, Justin bisa membaca itu. Air mata meleleh di wajah Vanya, dia yakin itu adalah ulah suaminya. Hanya Arga yang kemungkinan memfoto mereka dalam keadaan menyedihkan begitu, selama beberapa bulan terakhir juga tidak ada orang lain yang datang, apalagi wartawan ataupun semacamnya.


"Aku tidak berbohong, Justin. Selama ini aku tidak mengusikmu, bahkan sekalipun aku bisa merengek untuk kembali, tapi hal itu tidak aku lakukan. Apalagi sekarang kau sudah punya istri, aku memang pendosa, tapi aku tidak seburuk yang kau tuduhkan."


Vanya sangat sadar, Justin mana mungkin percaya dengan pembohong seperti dirinya. Akan tetapi, malam ini dia tidak ingin mati konyol di tangan Justin jika tidak membela diri.

__ADS_1


Jika ditanya apa alasannya, jelas saja Renaga. Andai saja tidak ada putranya, maka Vanya mungkin akan mengakui tuduhan Justin agar dia mati lebih cepat. Ya, untuk saat ini memang rasanya lebih baik mati, dia bertahan hidup dengan penyakit yang dideritanya hanya karena Renaga.


"Apa kau bisa dipercaya, Vanya? Ketika aku menjadi suamimu saja kau bohongi, apalagi sekarang," ucap Justin tersenyum getir dan masih menatap wanita itu penuh kebencian.


"Ya, memang aku sesulit itu untuk dipercaya, tapi kali ini aku tegaskan bahwa yang tertulis di sana bukan pernyataanku, pasti Arga yang merekayasa semua itu,' jelas Vanya yakin seratus persen jika suaminya itu kembali membuat ulah.


Akhir-akhir ini, Arga memang terlihat bahagia. Dia juga memberikan uang belanja yang cukup banyak, hal teraneh dan itu tidak biasanya. Setelah kedatangan Justin, tampaknya dia mengerti darimana hasil uang itu, mungkin dari menjual informasi palsu yang dia rekayasa sedemikian rupa.


"Katakan, Arga dimana?"


"Beberapa jam lalu dia pergi, aku tidak tahu kemana tujuannya ... tapi kemungkinan besar dia berada di tempat perjudian atau club malam," jawab Vanya sama sekali tidak menutupi tempat pulang Arga di malam hari.


"Yakin di sana?"


"Yakin, tapi untuk alamatnya aku tidak tahu karena Arga tidak pernah bilang."


Justin menghela napas kasar, sebenarnya dia bisa menebak pusat perjudian yang Vanya maksudkan. Justin tidak secupu itu, tempat yang Justin dan Arga kunjungi kurang lebih sama walau bejjat mereka sedikit berbeda.


Setelah mendengar pengakuan Vanya, Justin memilih berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun, matanya justru menatap sekilas potret Renaga sewaktu masih bayi, Justin mencoba mengabaikannya namun siallnya langkah pria itu justru terhenti.


"Anak itu ... anak siapa?" tanya Justin tanpa menatap Vanya, logikanya hendak pergi tapi naluri Justin berontak.

__ADS_1


Vanya terdiam, seperti biasa dia tidak mampu menjawab Renaga anak siapa. Dia menggeleng kemudian menatap Justin dengan keberanian yang masih tersisa dalam benaknya.


"Anakku."


"Papanya? Bukan aku, 'kan?" tanya Justin kemudian menoleh hingga mata sendu Vanya sejenak tertangkap netranya.


"Hm, bukan."


"Kalau begitu ubah namanya, aku tidak suka namaku ada di belakang namanya."


Justin melangkah usai mengatakan keinginannya. Nama Renaga yang sempat dia baca di foto tersebut benar-benar mengganggu Justin. Bersamaan dengan kepergian Justin, air mata Vanya menetes begitu saja.


"Stop, Vanya ... kamu pantas menerimanya, lagipula kamu tidak izin menggunakan nama itu."


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2