
Setelah sempat menggoda Justin ketika di luar, begitu tiba di apartement dia sudah tertidur pulas . Bahkan Justin harus menggendongnya lantaran tidak tega mengganggu tidur sang istri. Tubuhnya sudah selemah itu kala Justin rebahkan di tempat tidur, dengkuran halus secepat itu terdengar hingga Justin menarik sudut bibirnya tipis.
"Tubuhnya kecil, tapi kenapa tanganku rasanya kaku ya?"
Justin menggerakkan tangannya, apa mungkin karena terlalu banyak yang Justin lakukan hari ini hingga dia bahkan tidak mampu mengangkat tubuh Agny yang seharusnya tidak begitu berat.
Baru beberapa menit Justin menidurkannya, Agny melenguh dan risih dengan sepatu yang dia gunakan. Dia berdecak sebal, tapi matanya enggan untuk terbuka. Terpaksa, Justin dengan kelembutannya membuka sepatu istri kecilnya. Ini adalah kali pertama dia melakukannya, tidak hanya sepatu tapi dia juga mengganti celana jeans yang sempat membuat Justin sebal beberapa jam lalu.
"Dasar tidak waras, celana rusak begini untuk apa masih dipakai?"
Jika sudah berada di tangan Justin, mungkin itu adalah hari terakhir Agny memilikinya. Setelah mengambilkan piyama untuk gantinya, Justin melepas baju Agny begitu pelan.
Sayangnya, Agny merasa terganggu dan membuka matanya perlahan. Dia mendongak seakan menolak, tapi hendak bicara tampaknya tidak mampu lagi. Saat ini, mata Agny sudah memerah dan kantuknya tidak dapat diajak kompromi sama sekali.
"Aku ngantuk."
Dia menahan tangan Justin, mungkin khawatir sang suami justru hendak membuka pakaiannya untuk melakukan hal yang iya-iya. Ya, dalam keadaan mengantuk sekalipun Agny sangat sadar semessum apa sang suami.
"Iya, tidurlah ... aku cuma ganti bajumu," ucap Justin tidak berbohong sama sekali, Agny mengangguk pelan dan percaya Justin tidak akan berulah malam ini.
Niat Justin hanya ingin mengganti bajunya, berharap sekali sesuatu dalam dirinya bisa kompromi malam ini. Justin tetap berusaha tenang meski paha mulus sang istri tampak jelas di depan mata, jika dia mau sangat mudah sekali menerobos benteng Agny yang sama sekali tidak dipertahankan itu.
Lakukan, Justin!! Tidak mungkin dia marah.
__ADS_1
Kau gila? Sama saja aku memperkossa istriku sendiri.
No, Brother ... bidadari ini memang milikmu!! Tidak masalah, lagipula sejak tadi dia menggodamu.
Bisikan ghaib datang bersamaan kala Justin menatap lekuk indah sang istri.
"Tahan, Justin ... dia sedang lelah, kasihan."
Bagi seorang Justin, pemandangan semacam ini adalah ujian. Sungguh, dia sesulit itu menahan diri kala tubuh indah sang istri tampak pasrah ketika dia memakaikan piyamanya. Dada Justin bergemuruh, rasanya memakaikan celana Agny tidak dapat dia lalui. Namun, lagi-lagi Justin berpikir untuk tidak bersikap egois mengingat Agny selelap itu.
Kali ini dia lolos tidak mengapa, besok-besok masih ada lagi kesempatanya. Untuk kali pertama Jutsin harus mengalah dan segera ke dapur untuk menghilangkan dahaganya. Aneh, padahal malam ini biasa saja, entah kenapa dia bisa sehaus itu.
Sementara Justin keluar, Agny yang ternyata menyadari pria itu tidak berada di sisinya segera beranjak bangun meski dengan kesadaran yang belum terkumpul sempurna. Otak agny tampaknya terkontaminasi oleh drama yang dia tonton hingga secebis kecurigaan jika suaminya tengah menghubungi wanita lain secara diam-diam muncul begitu saja, terlebih lagi kala dia menyadari ponsel Justin tidak ada di atas nakas.
Sebenarnya malas sekali, akan tetapi pasca sang suami mendapat senyuman maut dari pelayan kafe tersebut membuat Agny berpikir seburuk itu, terlebih jika dia mengingat latar belakang Justin sebelum menikah.
Tidak ada arah yang dia tuju, Agny hanya mengikuti kata hatinya. Hingga, matanya tertuju ke arah dapur dan yang tampak terang benderang, pertanda jika ada tanda kehidupan di sana.
Karena memang niat hatinya ingin menyelidiki sesuatu, pemilik mata indah itu memilih diam kala jarak mereka semakin dekat. Dada Agny mendadak panas dan rasa kantuknya menghilang begitu saja menyadari Justin terlihat senyum-seyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Dia ngapain?"
Agny mengerutkan dahinya, tangannya mendadak mengepal dengan gigi yang bergemelutuk. Ini adalah kali pertama dia merasakan kemarahan hingga ubun-ubunnya seakan mau meledak. Tidak hanya itu, matanya bahkan sedikit membasah padahal sama sekali belum jelas apa ynag Justin lihat hingga senyum-senyum begitu.
__ADS_1
"Hahaha ini lucu, tapi ini lebih menggemaskan."
Lihatlah, Justin sibuk dengan dunianya sendiri dan demi Tuhan, Agny ingin marah hingga menghampiri Justin dengan langkah cepat. Sudah sedekat itu, sementara sang suami masih saja fokus dengan ponselnya seraya menikmati cola dingin di tangan kirinya.
"Ehem."
Agny berdehem dan seketika Justin mengalihkan pandangan dan sedikit terkejut begitu melihat Agny bersedekap dada di hadapannya. Ketika dia tinggal wanita itu jelas-jelas terlampau lelap, lantas kenapa saat ini justru sadar sesadar-sadarnya, pikir Justin.
"Sayang, kenapa bangun?"
"Kamu sendiiri ngapain di sini?" tanya Agny semakin panas lagi kala Justin tampak mematikan ponselnya dan kembali memasukannya ke saku celana.
"Haus ... kamu juga?"
Wajahnya sama sekali tidak bersahabat, sementara Justin hanya bisa mendessah pelan karena belum apa-apa Agny sudah begini. "Kenapa? Mimpi buruk? Takut gelap atau dingin, hm?" tanya Justin selembut itu seraya mengacak rambutnya, Agny menggeleng cepat dan merogoh paksa ponsel Justin hingga mata pria itu membola.
"Kamu chat siapa? Senyum-senyum sendirian, selingkuh ya?"
"Selingkuh apanya? Bangun-bangun marah ... mimpi apa kamu, Agny?"
Tidak mimpi apa-apa, hanya saja firasat Agny sudah seburuk itu. Matanya benar-benar panas dan berusaha membuka ponsel Justin sedikit kasar. Dia menarik kasar jemari Justin untuk bisa mengakses ponsel pria itu, percayalah ini adalah kali pertama karena memang akhir-akhir ini Agny terampau takut jika suaminya berpaling.
- To Be Continue -
__ADS_1