Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 86 - Aku Belum Punya Anak!!


__ADS_3

"Lepaskan!!"


"Tidak mau, kita harus bicara ... masalah begini seharusnya dihadapi berdua, bukan dengan cara kamu memilih pergi begini."


"Berdua? Jika memang ingin berdua kenapa tidak sejak awal?! Kenapa setelah fitnah itu berjalan berhari-hari kamu memilih diam? Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa di sini."


Agny tidak habis pikir dengan cara Justin yang memilih pusing sendiri. Pria itu menatapnya lekat-lekat seraya menghela napas perlahan. Justin berusaha menahan diri meski hassrat untuk membungkam bibir sang istri besar sekali.


"Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti, Agny ... aku hanya ingin menjaga hatimu. Kamu pikir aku baik-baik saja dengan ribuan caci maki dan hinaan semacam itu? Sakit, aku bahkan hampir gila rasanya. Aku hanya tidak ingin kamu tertekan, hargai usahaku sedikit saja."


Menurut Justin caranya sudah sangat benar. Dia hanya ingin menjaga hati sang istri, apalagi sejak dahulu Agny memang kerap menganggap dirinya murrahan. Sementara komentar dan cacian yang melayang padanya tidak jauh dari kata-kata itu, jelas Justin tidak rela jika itu sampai Agny baca.


"Soal Arga, kamu memang benar ... aku membayarnya, aku yang merencanakan kematiannya."


Agny mendongak dengan mata yang kini membulat sempurna. Jujur, meski dia sudah menebak Justin sebagai pemeran utama kematian pria itu, tetap saja dia terkejut dengan pengakuan Justin.


"Lalu semua yang dia sampaikan adalah fakta yang sesungguhnya ... aku tidak memintanya membersihkan namaku dengan kebohongan, anak itu memang bukan anakku. Vanya sudah mengakui itu, atau jika kamu tidak percaya kita lakukan tes DNA."

__ADS_1


Agny membuang napasnya kasar, tidak ada kebohongan di mata Justin. Kalimatnya tegas dan sama sekali tidak terlihat gugup, sejak dahulu sebenarnya dia tidak gugup sekalipun menceritakan kematian seseorang.


Penjelasan Justin seharusnya berhasil membuatnya tenang. Akan tetapi, entah kenapa Agny sangat sulit menerimanya. Dia merasa ini sangat nyata, dan nalurinya saja bahkan tidak bisa membantah.


"Tapi wajahnya sangat mirip denganmu."


Agny berucap sebegitu pelannya, hampir berbisik. Justin masih bisa mendengarnya, dia juga terdiam sesaat setelah Agny mengutarakan hal itu. "Mirip? Anak sekecil itu belum bisa disimpulkan mirip siapa ... lagipula manusia mirip wajar, di dunia ada tujuh kembaran."


Di saat begini, Justin masih bisa mengatakan hal semacam itu. Jika biasanya Agny akan tertawa, kali ini dia berbeda dan kembali membisu pasca mendengar penjelasan Justin.


"Tidak, kali ini berbeda ... tidak mungkin mirip tanpa tanpa alasan. Apalagi, sebelumnya kalian pernah menikah ... mustahil Vanya melahirkan anak yang mirip mantan suaminya dari pria lain, 'kan?"


Akan tetapi, yang tidak bisa Agny terima dalam hal ini adalah sikap Justin sebagai papa. Penelantaran anak, itu saja intinya. Dia kecewa dan sangat membenci orangtua tak berhati semacam itu, terlebih lagi Agny memang terbiasa dengan anak-anak panti yang sengaja dibuang oleh orang tuanya.


"Kamu tidak mempercayai suamimu, Agny?"


"Percaya, tapi aku tidak bisa menerima jika suamiku adalah seorang papa yang tutup mata dan telinga dengan keadaan anaknya."

__ADS_1


Justin tertegun, sama sekali tidak menduga jika dia sampai berniat meninggalkan Justin hanya karena memikirkan nasib Renaga. Andai memang Renaga darah dagingnya, tampaknya Justin akan senang sekali. Akan tetapi, untuk kali ini Justin memilih percaya ucapan Vanya.


"Tapi dia memang bukan anakku ... sumpah, aku tidak pernah menelantarkan siapapun."


Mereka justru berdebat perkara Renaga. Justin membantah jika anak itu adalah darah dagingnya, sementara Agny seakan percaya jika Justin menelantarkan putranya. Bukan tanpa alasan Agny berpikir begitu, apalagi ketika dia mengetahui dari Keny bagaimana sosok Justin ketika sudah benar-benar marah pada seseorang. Tidak menutup kemungkinan sakit hatinya pada Vanya membuat Justin tutup mata akan kehadiran putranya, pikir Agny.


Untuk sejenak keduanya sama-sama terdiam, angin berhembus sejenak membuat Agny lebih tenang. Sejak awal dia mengetahui isu miring tentangnya, Agny biasa saja karena dia yakin Winarto tidak akan diam saja.


Perlahan isu itu akan berhenti, lagipula dia bukan seorang publik figure yang harus peduli dengan pemberitaan musiman begitu. Namun, yang membuat Agny seakan menggila adalah Renaga yang Justin terlantarkan sejak kelahirannya.


"Kamu bahkan tidak mengakuinya."


"Agny stop!! Aku belum punya anak, sekalipun punya nanti ... setelah kamu melahirkan, jadi berhenti membahas anak wanita itu!!" sentak Justin dengan giginya yang kini bergemelutuk. Mati-matian dia menjaga hati Agny, nyatanya sang istri justru mengkhawatirkan Renaga.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2