
Sebentar menurut Agny memang sesuai fakta. Tidak seperti mantan istrinya dahulu yang bahkan butuh waktu setengah abad untuk dandan, Agny muncul beberapa menit setelah Justin memintanya ganti baju.
"Ayo."
"Begitu penampilanmu? Ada yang lebih urakan lagi?" tanya Justin menatap sang istri dari ujung kepala hingga ujung kaki, penampilannya hampir seperti ketika pertama kali bertemu dan memang tidak membuat bentuk tubuhnya terlihat jelas.
"Tidak ada, ayo cepat ... jadi atau tidak? Kalau tidak aku lanjut makan ayam yang tadi," ucap Agny sebagai peringatan tegas jika dia menolak andai kata Justin memintanya ganti baju untuk yang kedua kali.
"Iya tapi celanamu aneh, kenapa masih dipakai kalau sudah rusak begitu?" tanya Justin ragu dan dia berharap sekali sang istri akan berubah pikiran setelah ini.
"Hellow, tolong buka matanya ya ... Ini tu fashion. Gaul sedikit kenapa sih? Udah cepetan, aku lapar loh."
"Iya-iya, kenapa dia suka bentak-bentak begitu," gumam Justin beranjak dari sofa dan sialnya Agny mendengar ucapan suaminya.
"Bukan bentak, cuma menegaskan."
Justin melaju dengan kecepatan sedang, semenjak menikah tampaknya dia menyadari jika jalanan bukan milik pribadi hingga bisa sedikit menghargai orang lain. Sepertinya ini adalah makan malam di luar pertama kali setelah mereka menikah, Agny yang memang kerap menghabiskan waktu di luar sewaktu masih sendiri jelas saja bahagia malam ini.
Tiba di sebuah restaurant keduanya duduk manis dan tidak malu mempertegas pada dunia jika mereka adalah pasangan penngantin. Cincin yang tersemat di jemari keduanya membuat beberapa pasang mata yang tadinya risih kini memahami kenapa pria itu terus menempel di bahu wanitanya.
"Muka kamu kenapa? Ayo makan, Sayang."
Agny pikir setelah makan di luar matanya akan terhibur dengan menu yang berbeda. Setelah semua tersaji di meja, Agny menatap datar sepiring tauge yang disajikan sedikit berbeda, tapi tetap saja di mata Agny itu adalah tauge yang rasanya persis rumput liar.
__ADS_1
"Kalau mau makan ginian kenapa harus ke sini? Mending di warung sekalian ... pasti mahal, 'kan?"
"Astaga, tujuan kita ke sini untuk makan bukan untuk membandingkan harganya ... makan saja, kamu tahu makanan ini sangat baik dikonsumsi untuk perempuan yang sedang dalam masa pertumbuhan seperti kamu."
Sedari dulu Agny tidak suka, namun ketika bersama Justin tampaknya dia harus suka. Sebenarnya sejak mereka belum menikah, Justin sudah mulai mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Agny. Entah dapat petunjuk dari mana, yang jelas Agny hanya bisa menerima dan tidak banyak tanya kenapa Justin mengatur makanannya.
"Aaaaaa."
Karena terlalu lama, Justin bergerak sendiri dan mengambil alih sendok di tangan istrinya. Wajah Agny tampak ragu dan berat sekali rasanya dia memasukkan sayuran itu ke dalam mulutnya.
"Tapi tadi belum dijawab jelas-jelas, kenapa makanan kita jadi berubah?"
"Usaha, kan sudah aku jelaskan," ungkap Justin kemudian tersenyum tipis lantaran sang istri mulai mengalah dan mengunyah makanannya meski tampak terpaksa.
"Usaha supaya kamu cepat hamil dong, apa lagi."
Agny tersedak, jawaban Justin seenteng itu. Jawabannya masuk akal, tapi Agny terkejut. Wanita itu menatap ke arah sang suami seakan meminta penjelasan lebih lagi.
"Kenapa harus begitu? Bukannya setiap malam kita sudah usaha?"
"Kata Keny makanannya juga perlu diperhatikan, tidak cukup dengan HB, Sayang."
"HB apaan?"
__ADS_1
"Hubungan badan, oon ... itu saja masih tanya, kamu sekolah dimana sebenarnya?" kesal Justin lantaran sang istri tiba-tiba menjelma menjadi sosok Keny yang sedikit menguji kesabarannya.
"Xaverius, sekolah terbaik di kota ini ... pasti tidak tahu ya? Iya sih, secara umurnya juga udah_" Agny sengaja menggantung kalimatnya dan menatap wajah datar Justin.
"Kenapa umurku? Tua maksudmu?"
"Ih bukan, siapa bilang tua ... hanya saja dewasa, begitu maksudku."
Sabar Justin, dia hanya sesekali seperti itu. Kesabaran setipis tisu seorang Justin tampaknya benar-benar diuji dengan kehadiran Keny sebagai sahabat dan Agny sebagai istri. Terbukti dengan malam ini, pernikahan mereka baru berjalan sebulan dan ada saja hal yang membuat Justin tertekan.
"Ih tapi kata Khayla kalau nikah lebih baik sama yang dewasa ...." Dia mulai mencari topik pembicaraan, padahal sejak ahulu kala Justin sangat sebal jika orang membahas perkara usia ataupun kedewasaan bersamanya.
"Kenapa memangnya?"
"Banyak pengalamannya," ucap Agny mengedipkan mata seraya bertopang dagu, dia tengah menggoda sang suami yang ada di sampingnya dan demi Tuhan iman Justin yang setipis kulit lumpia itu ingin berontak. Apalagi kala jemari lentik Agny mendarat di lutut Justin.
"Kamu menggodaku?" bisik Justin kemudian menatap makan malam Agny yang baru berkurang sesendok itu, kembali menyiapkan suapan kedua karena sang istri sudah persis balita yang malas makan hingga mencari cara agar Justin tidak menyuapinya lagi.
"Kamu tergoda? Padahal niatku tidak begitu," ucapnya sengaja mendekat hingga napasnya dapat Justin rasakan.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -