Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 104 - Pertanda Buruk


__ADS_3

Dua minggu pasca menjalani perawatan di rumah sakit, Agny mendadak diperlakukan seperti bayi. Setelah menimbang banyak hal, Justin mempekerjakan asisten rumah tangga yang bisa menggantikan Agny melakukan pekerjaan rumah.


Tidak hanya itu, Justin juga membayar seorang pengasuh untuk putranya. Setelah menjalani proses yang panjang dan tidak gampang, akhirnya dua orang wanita kisaran 40 tahun Justin pilih untuk tinggal bersama di rumah pemberian Keyvan.


Hanya demi pengasuh dan pembantu, Keny dibuat sakit kepala karena kriteria yang Justin berikan lebih sulit daripada syarat masuk ke perusahaan Keyvan. Hal ini bukan tanpa alasan, Justin tidak ingin membuat istrinya khawatir dengan kehadiran orang asing. Karena, seperti yang Justin ketahui, istrinya adalah makhluk pencemburu yang terkadang kerap berpikir macam-macam tentang suaminya.


"Tidak sekalian minta dicarikan security berdarah India, Justin?"


Kesal, murka bahkan rasanya Keny ingin melepaskan kepalanya karena terlalu pusing mengikuti keinginan Justin. Mencari pembantu memang tidak terlalu sulit, karena hanya dari penampilan dengan keuletannya saja.


Namun, titik putus asa Keny adalah disaat Justin memintanya mencarikan pengasuh dengan darah campuran yang mengerti banyak bahasa. Tidak hanya itu, usia harus sesuai keinginan dan penampilan juga demikian, tidak boleh terlalu cantik dan juga sebaliknya.


"Ck, kau menyindirku?" tanya Justin masih menolak sadar, padahal dari raut wajahnya jelas saja Keny tengah menyindir pria itu.


"Siapa tahu, lagipula kenapa harus begitu? Pengasuh Zavia saja orang biasa ... kenapa Renaga berbeda?"


Sederhana saja, Justin ingin putranya terbiasa dan bahasa asing yang sudah sempat Vanya ajarkan. Meski sedikit-sedikit harus berkembang seiring dengan usianya. Andai saja orang tuanya masih ada, Justin tidak akan membiarkan orang asing berada di dekat putranya.


"Aku ingin yang terbaik untuk putraku, Ken ... ketika dewasa, Renaga akan menjadi pewaris dan menggantikan posisi pamanku, tidak mungkin seorang pemimpin buta bahasa, 'kan?"


Rencana Justin tentang masa depan Renaga sudah sangat tertata. Meski bagaimanapun, Justin memiliki kehidupan sesungguhnya. Harta kekayaan yang dia miliki saat ini bukan semata-mata gaji dari bekerja di perusahan Keyvan, akan tetapi jelas saja semua peninggalan orang tuanya menjadi pemasukan yang fantastis setiap bulannya.


"Ah iya, aku lupa kau pria kaya."


Berlagak sok lupa, padahal dia mendekati Renaga sejak usia dini karena sadar dalam diri anak itu mengalir darah bangsawan. Heran saja kenapa hingga saat ini Justin masih terus mempercayakan perusahaannya di tangan sang paman.


"Anggap saja aku percaya."

__ADS_1


Seujung kuku Justin sama sekali tidak yakin sahabatnya lupa tentang siapa dia. Sejak awal mereka berteman, Justin sudah memperlihatkan siapa dirinya. Hanya saja, dia tidak ingin melepaskan Keyvan dan Keny hingga memilih menjalani hidup sebagai pria yang terlihat biasa saja.


.


.


"Ehm, maaf aku tanya soal ini ... jika semua kau berikan pada Renaga, lalu bagaimana dengan anak-anakmu yang lainnya? Apa Agny tidak akan cemburu, Justin?"


"Aku rasa kau tidak lupa berapa banyak usahaku, punya anak tujuh masih cukup untuk kuwarisi secara adil, Keny."


Pertanyaan Keny wajar saja sebenarnya, akan tetapi Justin sebal menengarnya alantaran Keny terlihat seperti meremehkan. Padahal, Justin tidak hanya memiliki satu sumber keuangan. Beberapa usaha di bidang kuliner dan juga pariwisata yang semakin tahun semakin berkembang rasanya sangat cukup untuk dia wariskan nantinya, terlebih lagi jika anak-anaknya tidak serakah.


"Dih pamer."


"Pamer apanya gila? Aku bicara fakta agar matamu terbuka ... ck, kenapa kau menyebalkan sekali, pulang sana."


"Ahahahah benar, aku percaya seoang Justin adil ... yang terpenting calon menantuku harus sejahtera, itu saja.'


"Menantu kepalamu, sekali lagi kau mengatakan itu kubocorkan rahasiamu pada Sonya," ancam Justin benar-benar sebal dan ingin menghantam keny dengan pukulan.


Dia bukan tidak suka pada Giska, hanya saja ayah dari anak tidak berdosa itu benar-benar menyebalkan. Setiap harinya hanya membahas hal yang itu-itu saja hingga Justin muak mendengarnya. Padahal, Keyvan saja sudah mulai diam dan tidak lagi tertarik berebut Renaga akhi-akhir ini.


"Jangan sekasar itu, aku bisa buktikan 20 tahun kemudian Renaga akan tergila-gila pada Giska ... hanya Giska yang ada di otaknya seperti kau memikirkan Agny sekarang."


Bersamaan dengan ucapan Keny, petir di luar tiba-tiba menggelegar dan itu membuat Justin sontak berdebar. Entah kenapa dia merasa tengah dipeluk bencana.


"Lihat, bahkan petir juga merestui hubungan mereka," ucap Keny berbangga diri dan merasa petir di luar sana adalah pertanda baik.

__ADS_1


"Dasar sarap, sejak kapan petir jadi pertanda baik ... yang ada petir itu pertanda buruk."


Beberapa saat setelah Justin mengucapkan hal itu, pihak rumah sakit menghubunginya. Justin mengerutkan dahi dan tiba-tiba bungkam setelah mendengar fakta jika Vanya telah berlalu.


"Lalu istri saya ada dimana, Dokter?"


Perasaan Justin bergemuruh bukan karena kematian Vanya. Akan tetapi, beberapa saat yang lalu Agny dan juga Renaga mengunjungi Vanya karena sang putra merindukan ibunya. Mereka tidak bersama Justin karena memang Khyala dan Sonya ikut dengan mmebawa serta putri mereka.


"Baik, saya ke sana sekarang."


Keny bisa membaca raut wajah Justin. Tanpa pikir panjang mereka berlalu keluar dan Keny ikut di belakangnya. Namun, bukan Keny namanya jika tidak drama. Pria itu terlalu buru-buru hingga kakinya terpeleset bahkan kini tulang ekornya mungkin saja retak.


"Aaarrggh Justin tolong aku."


"Astaga, Keny!! Matamu mana?!" bentak Justin lantaran dia tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk bercanda.


"Kenapa kau marah-marah? Salah siapa yang makan pisang kulitnya dibuang sembarangan begini."


"Kau sendiri tolol!!" teriak Justin sebal luar biasa lantaran keny tidak sadar diri jika itu adalah ulahnya sendiri.


.


.


- To Be Continue -


Hai cintaku, seperti biasa semetara up mampir dulu ke nobel teman aku yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2