
"Ini kamarmu?"
"Iya, dulunya di atas ... tapi sekarang jadi kamar kak Arga."
Sama sekali Justin tidak bertanya ke arah sana, akan tetapi memang sejak dulu Agny adalah wanita yang akan terbuka jika sudah merasa dekat. Justin menatap sekeliling dan menurut pria itu tidak seharusnya anak gadis seperti mendapatkan kamar yang berdekatan dengan pintu keluar bagian belakang, jelas sekali ini adalah kamar pembantu yang dialih fungsikan oleh Sigit menjadi kamar Agny, memang benar pria tak berhati.
"Banyak nyamuk, lampunya redup dan jendelanya tanpa pengaman sama sekali ... kamu tidak takut?"
Pertanyaan Justin seakan mempertegas keadaan betapa menyedihkannya hidup Agny. Hendak marah juga percuma karena semua itu memang fakta, dia masih diizinkan tidur tingal di rumah ini juga sudah beruntung, itupun atas usaha Maria, istri Sigit yang memberanikan diri menentang suaminya.
Sebenarnya sama saja, dimanapun Agny tinggal tetap buruk juga. Akan tetapi Agny merasa sedikit aman jika dia tidur di tempat ini dibandingkan harus tidur bersama para wanita penghibur lainnya dalam satu ruangan dengan aroma alkohol yang terkadang melakukan hal di luar nalar Agny.
"Mungkin karena aku tinggal, biasanya tidak begini."
"Mana mungkin, ventilasinya terbuka sementara di belakang persis hutan begini ... kenapa tidak pergi saja dari dulu?" tanya Justin bingung sendiri kenapa Agny bisa betah menjalani hidup di kamar sekumuh ini, sekalipun dia rapikan tetap saja nyamuk dan suasana menyeramkan di sini nyata jelas sekali.
"Mau kemana? Aku tidak mau tidur di tempat yang Bos Edward kasih, bau."
"Bau apa?"
"Keringet, rokok sama bau alkohol," jawab Agny jujur karena memang itu yang mengusik kehidupannya sekalipun kamar yang Edward siapkan lebih baik dari ini.
Justin hanya mengangguk kemudian duduk di tepian tempat tidur Agny, sangat jauh dari kata empuk bahkan terasa sedikit menyakitkan. Miris sekali, entah berapa hutang orang tuanya hingga Agny diperlakukan seburuk ini.
Beberapa menit menunggu nyamuk yang tadinya Justin takutkan kini semakin banyak hingga dia berkali-kali menepuk leher dan wajahnya. Ini memang ujian baginya, seorang pria seperti Justin harus menderita dan berusaha sabar sementara gigitan nyamuknya bertubi datang padanya.
PLAK
"Ck, awww Agny jangan lama ... nyamuknya makin banyak, gatal."
.
__ADS_1
.
.
Pintu kamar Agny sengaja tidak ditutup, hingga protes Justin terdengar begitu jelas dan membuat Maria yang sedang berada di dapur menghampiri kamar Agny.
Merasa kasihan melihat mereka yang bersiap di bawah lampu seredup itu, Maria meminta asisten rumah tangannya mencarikan lampu ganti agar Agny bisa merasa lebih baik. Tidak lupa dia memberikan obat nyamuk bakar lantaran Justin semakin lama semakin frustasi.
"Makasih, Tante ... maaf kalau ganggu tidurnya."
"Tidak, dia siapa, Na? Pacar?" tanya Maria berusaha melihat pemuda tampan yang kini tengah duduk di tepian ranjang keponakannya.
"I-iya, Tante," jawab Agny pelan karena khawatir jawaban itu akan menjadi masalah jika sampai Justin dengar.
"Ganti lampunya, dia bisa, 'kan? Mau bangunin Arga takut nanti marah, maaf ya Tante tidak bisa lama-lama di sini ... kamu tahu sendiri Om kamu seperti apa." Maria tidak boleh terlalu kentara jika peduli pada Agny. Sigit akan mempermasalahkan itu bahkan bisa jadi membuat Maria terluka nantinya.
"Iya ... aku paham, Tante."
"Eeeeum, aku tidak suka benda itu!!" ucapnya terang-terangan padahal Maria kemungkinan belum jauh, dia menutup hidungnya cepat-cepat dan menggeleng pelan sebagai penolakan karena baginya benda melingkar seperti ular dan di bakar pangkalnya itu sangatlah mengganggu.
"Bawel, gantiin lampunya ... Om ngomel kurang gede, Tante Maria jadi denger, 'kan?"
"Ya memang benar redup, kamar ini seperti penjara dan aku sangat-sangat tidak suka."
"Memang pernah masuk penjara?" tanya Agny terkekeh mendengar jawaban Justin, sama sekali dia tidak marah walau sebenarnya ucapan Justin jauh dari kata sopan.
"Pernah, tiga hari."
Agny pikir bercanda, tidak pernah dia duga jika Justin pernah merasakan dinginnya lantai di balik jeruji besi itu. Sementara pria itu hanya terkekeh melihat reaksi Agny yang begitu berlebihan hanya karena mendengar dia pernah masuk penjara.
"Biasa saja mulutnya, aku memang tidak sebaik yang kamu kira," ungkapnya mengedipkan mata dan mengambil alih bohlam yang mungkin akan membuat penerangan di kamar ini jauh lebih baik.
__ADS_1
Siapa juga mengiranya baik, pria baik mana yang melarikan diri ke club malam kemudian rela menghabiskan uang ratusan juta hanya untuk kenikmatan semata, pikir Agny seraya mendongak dan memegangi kursi tempat Justin berpijak untuk memperbaiki lampunya.
Selesai lampunya diganti, mata Justin sejenak merasakan kebahagiaan karena tidak seredup tadi. Dia meminta Agny untuk mempercepat persiapannya sementara dia membantu memasukkan beberapa benda kecil milik Agny.
"Baju kamu semua sudah di koper ini?"
"Sudah."
"Buku-bukunya bagaimana? Tinggal atau bawa juga?" tanya Jsutin melihat ke meja belajar Agny dan di situ terlihat jelas beberapa buku tersusun amat rapi dan mencerminkan betapa rajinnya seorang Agny.
"Aku tidak sekolah lagi, biarkan saja."
"Ya sudah, ayo kalau begit_"
"Bentar, celenganku," ucap Agny membuka lemari paling bawah dan tampaknya celengan berbentuk babbi berwarna merah muda dan itu adalah celengan yang sempat membuat dia trauma. Ya, persis seperti milik Zavia, namun dua kali lipat lebih besar.
"Celengan? Pecahkan saja, lagian tidak zaman lagi nabung di sana."
"Ini pemberian Mamaku, uangku sudah banyak di sini ... harus dibawa lah," ucapnya tak terbantahkan dan tidak mungkin Justin akan membantah jika sudah membawa nama mamanya begitu.
"Aku saja yang baw ... eeuugh_" Justin terdiam ketiak berhasil menerima celengan yang ternyata berat bahkan cukup membuatnya terkejut.
"Berat sekali, isinya batu atau bagaimana?"
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1