Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 108 - Best Brother


__ADS_3

Kehidupan Justin perlahan benar-benar sempurna. Bersama Agny sebagai pendamping, serta Renaga sebagai pengusiknya. Ya, katakanlah begitu karena akhir-akhir ini putranya kian menjadi. Memasuki tiga bulan usia kandungan Agny, Justin masih belum berani menyentuhnya sama sekali.


Dia takut, karena Justin jika sudah melakukan hal itu tidak bisa berhenti bahkan membuat Agny seakan kehabisan tenaga. Ditambah lagi, Renaga yang tiba-tiba bertindak sebagai pelindung Agny selalu menghalangi Justin tiap kali hendak bermanja dengan sang istri.


Sejak awal Justin selalu menginginkan anak perempuan bersama Agny lantaran khawatir akan terjadi perebutan tahta sebagaimana Zavia dan Khayla. Namun, takdir berkata lain dan putra yang Justin maksudkan sudah tubuh besar dan tiba-tiba berperan sebagai bodyguard Agny.


"Jangan dekat-dekat, Daddy ... dedeknya kasihan, ini punya Aga."


Lihatlah, dia berkuasa dan mengecup perut Agny yang belum terlalu besar itu. Renaga memeluknya pelan, khawatir sekali jika Agny merasakan sakit. Hal semacam ini kerap kali terjadi, Justin kesal sendiri.


"Punya Daddy juga lah," balas Justin menepis pelan tangan putranya, dia hanya bercanda meski sebenarnya memang tidak salah.


"Punya Aga sama Mommy ... jangan peluk-peluk, Dad. Nanti Mommy sakit," tutur Renaga benar-benar membuat kesabaran Justin diuji habis-habisan.


Semenjak Agny sakit dan Vanya meninggal dunia, Renaga meganggap Justin sebagai pembawa sial. Memang terdengar konyol, akan tetapi hal itu benar-benar terjadi. Demi menjaga Agny, Renaga selalu menjadi penengah selama matanya belum terpejam.


Dia tidak mengerti hubungan dewasa bagaimana. Akan tetapi, memori Renaga tetap mengingat dengan jelas bagaimana Justin sempat bertengkar dengan Vanya. Sebagai pria sejati, dia hanya ingin Agny terjaga dari Justin.


"Daddy yang buat, kenapa bisa jadi milikmu?" tanya Justin mengerutkan dahi dan merasa putranya sedikit menyebalkan kali ini.


"Daddy bandel dibilangin, Mommy bilang ini adeknya Aga ... bukan adeknya Daddy," celotehnya masih terus mempertahankan perut Agny dari sentuhan papanya.


"Ya memang adeknya Aga, tapi yang diperut Mommy itu anaknya Daddy ... jadi punya Daddy dong."


"No Daddy, ini punya Aga!!" tegasnya menatap mata Justin begitu tajam, dia tengah berusaha mengalahkan tajamnya mata ikan tersebut.


Masih di dalam perut, tapi mereka sudah berebut. Agny sama sekali tidak memihak salah-satunya, karena di mata wanita itu mereka benar-benar lucu. "Punya Aga!!"


Suaranya mulai meninggi, bahkan tidak ada takutnya sama sekali ketika duduk di antara Justin dan Agny. Pria itu terkekeh, tapi ada sesekali keinginan untuk menggigit jemari Renaga hingga putus.


"Kakak tutupin Adek ... jangan takut dilihat Daddy," bisik Aga tapi sengaja dia besarkan hingga terdengar jelas di telinga Justin.


Baiklah, tampaknya sedari begitu dini Renaga sudah mengajak adiknya untuk berada di pihaknya. Padahal, sama sekali memang tidak bisa dilihat. Seharusnya Renaga tidak perlu menutupi perut istrinya, pikir Justin.

__ADS_1


"Menyebalkan sekali, Daddy malas lihat kepala kamu, Renaga."


"Jangan lihat sini, Dad ... lihat sana saja, ada boneka," jawabnya enteng sekali, tampaknya memang marahnya Justin tidak akan pernah Renaga takuti lagi.


"Terserah Aga saja lah."


"Iya dong, suka-suka Aga ... ini adeknya Aga."


Baiklah, Justin mengalah siang ini. Dia sedikit menjauh dan menonton televisi sendirian. Agny kasihan, tapi tidak mungkin dia mematahkan hati anak kecil sesuci Renaga. Dia paham putra Justin begitu menyayanginya, bahkan setakut itu Renaga jika ibu sambungnya sampai terluka.


.


.


.


Hari kini berganti, panasnya terik matahari sudah pergi. Hanya ada malam kelam, tanpa bintang dan wajah suram Justin yang kini berdiam diri si balkon kamar. Dia menikmati coklat panas seraya menatap lingkungan sekitarnya. Tidak salah dia menguras saldo Keyvan jika memang senyaman ini.


Hampir jam sembilan, tapi Agny belum juga kembali lantaran menemani Renaga tidur. Faktanya, sekalipun punya pengasuh Agny tidak masih menginginkan waktu bersama putranya.


Justin menggigit bibirnya, dia menghitung usia kandungan Agny dengan jemarinya. Berpikir dengan jelas, berapa lama lagi dia bertahan. Hingga, di tengah dia merenungi hal itu sepasang tangan mungil melingkar di perutnya.


"Sa-sayang?"


Justin terkejut, dia seakan bermimpi jika yang memeluknya adalah Agny. Pria itu segera berbalik, sementara coklat panas itu sudah tidak berguna lagi hingga dia letakkan di atas meja.


"Kenapa di luar? Dingin padahal," ucap Agny menatap sang suami dengan senyum hangatnya.


"Tidak, sedang ingin saja ... Aga sudah tidur?" tanya Justin kini melingkarkan tangan dipinggangnya, tidak biasanya Agny bersikap manis lebih dulu begini.


"Sudah."


Agny mengalungkan tangannya di leher Justin. Mata itu tidak hentinya memandang sang suami, Agny berjinjit tanpa sadar hingga berhasil mengecup bibir Justin setelah pria itu sedikit menunduk.

__ADS_1


"Tumben, kenapa kamu begini?"


Meski dia bahagia, tapi tetap saja pertanyaan itu dia ungkapkan. Justin bingung kenapa sang istri mendadak begini. "Tidak suka ya? Aku hapus lagi kalau begitu," tutur Agny seraya mengusap pelan bibir Justin dengan jemarinya.


"Tidak bisa!! Kembalikan kecupanmu," titah Justin mendekatkan wajahnya, ini bukan perintah biasa melainkan mutlak harus dituruti.


Tanpa diduga, Agny melakukan hal lebih dan menggigit pelan bibir Justin. Sebagai pria yang merindukan sang istri, jelas saja dia bergelora hingga napas Agny dibuat terengah-engah. Mau bagaimanapun, Justin memang mampu dia imbangi secara sempurna.


"Do you miss me, Hubby?"


Pertanyaan konyol, jelas saja iya. Justin mengerti arah pembicaraan Agny hingga tanpa pikir panjang pria itu menuntun sang istri untuk masuk ke kamarnya.


Justin memang tidak meminta, tapi Agny paham kebutuhannya. Apalagi, tadi siang Justin terlihat menyedihkan. "Hentikan, aku tidak yakin bisa menahan diri," ujar Justin kala Agny kembali meraup bibirnya begitu rakus.


"Kenapa? Kata dokter kemarin boleh," ujar Agny tersenyum simpul seraya mengusap lembut wajah tampan Justin.


"Tapi nanti_"


"Kalau pelan tidak masalah, ayo lakukan semaumu ... aku tahu isi otakmu, ingin menyentuhku, 'kan?" Lihatlah, dia menggoda Justin hingga pria itu tidak mungkin bisa menolak.


Tanpa Renaga, dia bebas malam ini. Apalagi, Agny sendiri yang meminta dan jelas penantian cukup lama itu harus terbayarkan. Jangan ditanya sebesar apa rindunya, Justin tidak mampu mejawab karena memang sebesar itu kerinduannya.


Justin tidak ingin menyakiti, dia melakukannya dengan pelan tanpa menyakiti perut istrinya. Dia berhati-hati, ini adalah pertama kalinya Justin mengalah dan melakukannya luar biasa lembut, itupun sedikit ragu karena kejadian beberapa bulan lalu.


Keduanya sama-sama merindukan, bukan hanya Justin saja, melainkan Agny. Istrinya juga wanita dewasa, pengaruh hormon juga mulai meminta lebih hingga dia berinisiatif meminta lebih dulu walaupun Justin tidak membahasnya.


Jika dahulu Justin harus meminta dengan segala bujuk rayunya, kini pria itu berhasil mendapatkan izin lebih dulu dari pemilik tubuhnya.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Hai Guys, maafin telat ya. Aku up satu tapi panjang, kemarin up tiga tapi pembacanya aduh🙂


__ADS_2