
Tidak salah, dia adalah Devano. Sepupu sekaligus teman masa kecil Agny, tidak banyak yang berubah dari pria ini. Terakhir bertemu ketika orang tuanya meninggal, jadi Agny tidak butuh waktu lama untuk mengenalinya.
"Hai, Devan kenapa kamu di sini?"
"Ikut Papa."
"Ada kerjaan ya?" tanya Agny hati-hati, takut sekali dia menggores hati anak broken-home ini.
"Iya, seperti yang kamu tahu ... papaku doyan kawin, ck kepalaku sakit sekali."
Dulu, Devano begitu mendambakan kehidupan sempurna seperti Agny. Orangtua lengkap, harmonis dan juga termasuk kaya tentu saja. Sementara dirinya, harus menghadapi pahitnya realita dan menerima jika mamanya selalu berganti setiap tahunnya.
Hubungan mereka dapat dikatakan cukup erat. Papa mereka adalah saudara tiri, sama-sama bawaan dari kakek dan nenek masing-masing. Hanya saja, meski demikian mereka tetap memiliki hubungan yang cukup manis.
"Oh iya, aku dengar-dengar om Sigit masuk penjara ... apa yang terjadi sebenarnya?"
Karena jarak yang begitu jauh, Devano dan papanya tidak mengetahui banyak hal terkait keluarganya di Indonesia. Terakhir mereka mengetahui kabar kematian Arga, tapi tetap tidak bisa kembali karena sang Papa enggan jika hal itu berurusan dengan Sigit.
"Oh iya, kamu mau bubur, 'kan? Nih."
"Serius?"
"Hm, apapun untuk adikku ... makan sana, lagi hamil, 'kan?" Devano tetap manis, dia mengusap pelan puncak kepala Agny sebelum kemudian wanita itu tersenyum hangat.
"Kok tau?"
"Jarak boleh jauh, tapi aku usaha cari tahu tentang kamu ... kamu tahu bagaimana marahnya aku ketika membaca gosip itu? Huft, beruntung saja tidak benar."
Agny terdiam, selama ini dia merasa sendiri. Namun, faktanya tidak begitu. Benar kata Justin, dunia selalu peduli meski tidak terlihat jelas di pandangan matanya.
__ADS_1
"Kenapa bisa kamu berurusan dengan orang seperti mereka? Pergaulanmu jauh sekali sampai kenal pejabat dan mantan model segala," ucap Devano menggeleng pelan, dia bingung sendiri kenapa wanita ini seakan liar sekali.
"Panjang ceritanya."
Agny menarik napas panjang, sesaat dia berhenti menikmati bubur itu. Haruskah dia bercerita pada Devano? Akan tetapi untuk apa, toh semua juga sudah berlalu.
"Persingkat."
"Kamu tidak akan percaya, dan pasti mengira aku mengada-ngada," ungkap Agny mengelap bibirnya dengan tisue, bubur ini terlalu enak hingga dia tidak bisa berhenti lama-lama.
"Percaya."
Baiklah, mungkin pada Vano tidak masalah. Demi membenarkan prasangka yang tidak-tidak, apalagi berita terkait istri simpanan, orang ketiga dan lainnya pernah melekat dalam diri Agny.
Tanpa dia tutup-tutupi, Agny mengatakan dengan jujur apa yang dia alami. Rahang Devano sudah mengeras sejak tadi, sudah dia duga kehadiran Sigit yang mengatakan akan menjadi orangtua pengganti untuk Agny sama sekali tidak tulus. Pria itu membual dan hanya memanfaatkan Agny.
Tidak sedikitpun yang Devano lewatkan. Hingga ketika Agny mengakhiri ceritanya, barulah Devan menghela napas kasar. Dia gusar, kesal sendiri dan ingin marah pada dirinya sendiri. "Suamimu, apa dia baik?"
"Maksudmu? Dia belum tua, 'kan? Atau jangan-jangan foto yang tersebar di internet itu foto lama dia semua?" tanya Devano dengan mata yang kini membulat sempurna, dia kaget kala mendengar Agny mengatakan Justin adalah pria beranak satu dan dia di sini karena tengah menemani putranya sekolah.
"Ck, jangan seenaknya begitu ... suamiku belum tua, hanya saja dewasa."
"Katamu sudah punya anak, astaga Agny mau-maunya sama duda."
Vano berdecak pelan, dia bahkan minum satu gelas lagi demi bisa berpikir sedikit waras. Bagi seorang remaja seumuran mereka, pria berusia 30 tahun ke-atas sudah termasuk tua, sementara Justin 33 tahun ketika menikahi Agny.
"Apa masalahnya sama duda? Ih, Devan sewot banget."
"Bukan begitu, aku cuma kaget saja."
__ADS_1
Devano hanya terkejut, tidak bermaksud apa-apa. Pria itu bahagia jika faktanya Agny bahagia. Sempat khawatir meninggalkannya kala itu, tapi Devano tidak punya kuasa untuk menentukan nasib Agny.
Cukup lama mereka berbincang, hingga Agny tersadar waktu pulang Renaga tinggal beberapa menit lagi. Dia terlena, terlalu bahagia bertemu kakak sepupunya hingga lupa tujuannya hanya untuk makan bubur semata.
"Aku pergi, anakku sebentar lagi pulang."
"Hadeuh, bocil punya bocil ... kasihan banget sih," gumam Devano seraya menggeleng pelan, dia bingung sendiri apa dunia memang sudah tua atau dirinya yang telat menikah.
"Dah, salam buat om Ikram."
Dia hendak berlalu, meninggalkan Devano yang masih memandanginya di sana. Akan tetapi, melihat Agny yang tampak ragu hendak menyebrang segera menyusul dan merangkul pundak adik sepupunya itu tanpa izin.
"Devan?"
"Demi keselamatan bumil, di sini orang-orang bawa motor lupa pakai otak," ucap Devano mulai memastikan kapan dia akan melangkah, misi semacam ini kerap kali dia lakukan sejak dahulu.
Agny sebenarnya bisa sendiri, toh pergi tadi dia juga sendiri. Akan tetapi, entah kenapa dia tidak menolak ketika Devano menawarkan pertolongannya.
"Sudah, masuklah ... tuh mulai bubar, kasihan anak kamu nyariin emaknya."
"Iya, makasih."
Devano mengangguk sebelum kemudian berlari dan beberapa detik kemudian dia sudah tiba di seberang sana. Tampaknya penguasa jalan itu memang berilmu tinggi, pikir Agny.
Agny melangkah masuk, beberapa detik kemudian tubuhnya dibuat bergetar dengan kehadiran sosok pria yang kini berdiri di depan kelas Renaga. Matanya tajam, seperti hendak menguliti Agny hidup-hidup. Dia tengah di ruangan terbuka, tapi jantungnya seakan kehabisan oksigen ketika melihat sorot tajam yang sama sekali tidak bersahabat itu.
"Dia kenapa sih?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -