Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
Bonus Chapter # Part 05


__ADS_3

Setelah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama, malam ini mereka berempat bercengkrama hingga tenggorokan Fabian kering akibat tertawa. Ada saja yang mereka bicarakan, rencana hanya makan nasi goreng berujung nongkrong tidak disengaja.


"Kak Aga nanti kalau sudah dewasa cita-citanya mau jadi apa?"


Saatnya pembicaraan sedikit serius, setelah tadi mereka membahas hal tidak berguna kini berganti topik dan Renaga yang mulai diwawancara.


"Hm, entahlah ... aku belum tahu, tapi sepertinya pengusaha," jawab Renaga realistis sekali, dia sadar tidak mungkin bisa melepaskan diri dari papanya.


"Wuih keren, kalau Giska apa?"


Sudah biasa, jika ditanya hal serius anak itu akan lola (loading lama). Tapi, jika ditanya hal lain biasanya dia akan asal menjawab, dan itu sudah tabiat yang melekat dalam diri seorang Giska.


"Apa, Giska? Jangan kelamaan, abang nasi gorengnya tutup nanti."


Fabian berlebihan, tapi memang Giska sangat lama memikirkan jawabannya. Hingga, dia melirik ke arah Renaga sekilas, pangeran yang selalu menyapanya lembut di dalam mimpi.


"Jawab, kenapa lihat aku?"


"Ahahah apa tadi pertanyaannya, Bian, aku lupa."


"Astaga, cita-citamu kalau sudah dewasa nanti jadi apa?"


"Istri Renaga Anderson."


Uhuk


Zavia tersedak, teh panas yang baru saja dia pesan barusan tumpah hingga Renaga mengambil alih gelasnya. Sementara Fabian segera meraih tisue dan hendak membantu Zavia mengeringkannya.


"Makasih, Bian ... aku bisa sendiri."


Dalam waktu sekejab, dua lelaki ini fokus pada Zavia. Bagaimana perasaan Giska? Jelas saja terhenyak.


"Are you okay, Zavia?"


"Hm, fine, Kak."


Itu adalah kali pertama Zavia menjawab pertanyaan Renaga sembari menatap matanya. Renaga sekhawatir itu, dia menatap celana Zavia yang terlihat basah, pasti panas dan dia tahu bagaimana rasanya.


"Lanjut lagi yuk, aku belum ditanya, 'kan?"


Sejak dia tersedak, mata Zavia selalu fokus pada Giska yang terlihat sangat bersalah. Dia hanya tidak ingin Giska menjadi sasaran kemarahan Renaga andai dia jujur jika saat ini pahanya panas luar biasa, bahkan mungkin terbakar lantaran hampir setengah gelas yang tumpah di celananya.

__ADS_1


"Via jangan bercanda," tutur Fabian menatapnya khawatir, sama seperti Renaga, lelaki itu paham bagaimana rasanya.


"Aku serius, ayo cepat ... tanya aku."


Susah payah dia berusaha baik-baik saja, yang dia pikirkan saat ini Giska. Yah memang betul, dia tersedak akibat jawaban spontan dari sahabatnya itu. Akan tetapi, tetap saja yang salah dirinya sendiri dan Zavia sangat sadar itu.


"Bener nih lanjut kita?"


"Iya lanjut, besok-besok aku belum tentu mau sama kamu, Bian."


Mendengar ucapan Zavia, sontak Fabian kembali duduk manis dan meneruskan permainan yang sempat tertunda. Sebagaimana peraturan permainan, tim mereka bergantian bertanya dan saat ini adalah waktunya Renaga yang bertanya.


"Kak Aga yang tanya."


"Okay ... Fabian Alexander, jawab jujur pertanyaanku. Tipe idamanmu di masa depan seperti apa?"


Renaga sangat paham, pertanyaan semacam itu seharusnya belum dilontarkan untuk mereka. Akan tetapi, dia hanya ingin mengetahui sesuatu dibalik pertanyaan itu.


"Seperti Zavia dong," jawabnya cepat sekali, sontak Zavia memukul lengannya pelan.


"Hahaha, lalu Zavia sendiri bagaimana?"


Inti dari pertanyaannya, Renaga ingin mendengar jawaban dari bibir mungil itu. Gadis manis yang tidak banyak bicara, bahkan sangat tertutup semenjak satu tahun terakhir.


"Ih Via, jawab saja seperti Fabian begitu."


"Iya, jawab saja, Via ... bebas."


"Seperti Papa," jawab Zavia mantap, soal semacam ini sangat mudah baginya untuk dijawab.


"Ehm tampan dan mapan maksudnya?" tanya Renaga memastikan, dia tersenyum simpul jika syaratnya hanya itu.


"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah."


Raut wajah Renaga sontak berubah, dadanya semakin sempit saja. Dia masih 16 tahun, beberapa bulan lagi 17, tapi kenapa sudah berpikir sejauh ini.


"Masya Allah, Habibie," ucap Fabian dengan aksen arab yang membuat Zavia ingin mencolok matanya.


"Apasih, Bian?"


"Itu doa baik, ayo kita Aamiin-kan sama-sama impian Zavia ... aku siap masuk pesantren kalau cita-cita kamu punya suami ustadz, Via."

__ADS_1


Terdengar lucu bagi Fabian, tapi tidak bagi Renaga. Laki-laki itu membisu dan menatap sebal bagaimana Fabian dan Zavia saling jambak kecil-kecilan pada akhirnya.


.


.


Di sisi lain, ketiga pria yang kini semakin matang tengah mencari keberadaan putra-putri mereka. Keyvan sudah mengenakan piyama, bahkan Keny sudah mengenakan penutup mata di kepalanya.


Sebenarnya mereka sudah siap berlayar ke mimpi masing-masing. Akan tetapi, menyadari jika Giska dan Zavia belum pulang, mendadak Renaga yang disalahkan.


"Aku tidak mau tahu, Justin ... kalau sampai anakku kenapa-kenapa, Renaga harus bersedia menikahinya," ungkap Keny enteng dan membuat Justin menoyor kepalanya.


"Sinting!! Apa maksudmu?"


"Ya harus, dia laki-laki di antara mereka."


"Kau pikir hanya Renaga yang ada di sana? Fabian juga bersama mereka dongok!!" kesalnya bukan main, Justin ingin sekali mendorong Keny dari mobil saat ini juga.


"Sudah, Just jalan saja ... Putriku bilang mereka di pinggir jalan."


Hampir saja ingin berdebat, tapi tidak berapa lama kemudian mereka menemukan keberadaan Renaga dan lainnya. Keny dan Justin memang terlalu cepat tersulut emosi, padahal mereka tidak begitu jauh.


"Papa!!"


Di antara mereka hanya Zavia yang menghambur ke pelukan papanya. Sementara Renaga hanya berdiri dan siap telinganya ditarik lantaran belum pulang meski sudah larut.


"Woah, kalian di sini? Seru dong."


Tanpa diduga, Justin justru bergabung dan meja itu sontak ramai. Fabian tidak terlihat canggung meski Zayyan tidak turut serta, maklum saja sang mama baru saja melahirkan dan masih butuh pendamping.


"Kalian ini, masih kecil sudah nongkrong begini ... Kalau ada apa-apa gimana?"


"Sudahlah, Ken ... Lebih baik kita nikmati juga, sesekali nongkorng bawa anak."


Dua generasi, sama-sama bersahabat dan hubungan mereka terlampau erat. Beberapa orang yang melewati mereka tentu merasa iri dengan kebersamaan dibalik canda para ayah beserta buah hatinya itu.


"Kalian berempat, lihat kesini ... Suatu saat, kalian juga harus berkumpul di tempat ini bersama anak masing-masing, paham!!" Justin mengucapkannya penuh harap seraya menatap mata mereka satu persatu-satu.


Cita-cita yang sangat manis sekali, Fabian mengucapkan Aamin paling kencang bahkan gendang telinga Keyvan terasa sakit. Sementara Giska mengabadikan kebersamaan mereka sebagaimana kebiasaannya sejak lama.


Senyum tipis terbit di pipi Renaga kala Zavia menatap sekilas ke arahnya. Matanya mengatakan sampai jumpa di masa depan, begitupun dengan Giska yang melakukan hal sama seraya menatap Renaga.

__ADS_1


...- Happy Ending -...


__ADS_2