
"Ya Tuhan, kenapa makhluk seperti dia dibiarkan hidup?"
Justin membatin dengan kalimat legendarisnya, itu adalah tingkat kemarahan paling tinggi dimana dia melibatkan Tuhan karena dadanya sudah terllau sesak untuk berpikir.
Setelah kepergian Keny, Justin menuju ke kamarnya. Tidak bisa menghajar Keny, tapi dia bisa memberikan sedikit pelajaran untuk istrinya. Pria itu mendorong pintu kamar perlahan, matanya tertuju pada pemilik mata teduh yang menatapnya duduk di tepian ranjang, seolah memang tahu Justin akan menghukumnya.
Tatapan Justin tidak sedetikpun berpaling darinya, agny sudah meremmas jemarinya dan menduga dia akan berakhir hari ini. Sepertinya Justin benar-benar tidak suka dia tersenyum pada Keny, padahal yang Agny lakukan sebagai etikanya kepada tamu, itu saja.
Jarak mereka sudah begitu dekat, Justin berdiri di hadapan Agny kemudian sedikit menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Agny gugup, sungguh ini adalah hal aneh karena jantungnya masih berdebar hebat setiap Justin tatap.
"Tahu salahmu apa?" tanya Justin menatap lekat manik indah Agny yang tampak berkedip pelan lantaran rasa takut pada sang suami.
"Maaf, aku hanya bersikap sopan pada tamu ... tidak lebih," jawab Agny sedikit bergetar namun memang dia merasa sama sekali tidak bersalah.
"Tapi tidak perlu semanis itu, kau tahu Keny itu imannya lemah ... Biasa saja, jangan sok imut di hadapan teman-temanku," ucap Justin dan hal itu membuat Agny yang semula takut kini sebal pada sang suami. Sama sekali tidak ada niat dia sok imut di depan Keny seperti yang Justin tuduhkan.
"Apa? Sok imut? Aku hanya tersenyum seperti yang Mama ajarkan, dimana letak sok imutnya? Kalaupun kelihatannya imut ya memang dari sananya!!"
Suaranya sedikit meninggi, dan hal itu membuat Justin gemas sendiri. Niat hati ingin membuat istrinya menangis kini justru berganti dan pria itutertawa sumbang dan mengecup keningnya singkat.
"Menyebalkan, kenapa aku tidak bisa marah padamu."
__ADS_1
Justin kian mendekat dan menarik istrinya dalam pelukan, meski sedikit terkejut Agny tetap berusaha bersikap manis dan membalas pelukan suaminya.
"Tunggu, kenapa tanganmu merah begini?" tanya Justin begitu sadar terdapat bekas kemerahan di punggung tangannya.
"Kena air panas tadi, tapi tidak apa-apa ... sudah aku oleskan garam," ucap Agny membuat kening Justin mengerut, dia bingung dari mana resep pengobatan semacam itu.
"Kena air panas? Tapi kenapa kamu tidak teriak?"
Ini sedikit aneh, karena seingat Justin, istri Keny kebiasaan sekali mengadu hanya karena hal kecil. Lantas, kenapa istrinya diam saja padahal ini cukup serius. "Aku bisa atasi sendiri, lagian malu tadi ada tamu mana mungkin aku teriak."
"Tidak bisa, yang namanya istri harus manja ... aku tidak suka kamu begini," ucap Justin membuat Agny tersenyum tipis, sekalipun dia ingin tapi Agny sedikit membatasi diri kecuali jika memang harus butuh bantuan Justin.
"Kamu dengar aku? Dengar tidak?" tanya Justin mencubit hidung sang istri hingga Agny menepis tangan Justin.
Situasi baru baik-baik saja, beberapa saat kemudian bel terdengar hingga mambuat Justin membuang napas kasar. Dia tidak sedang menerima tamu kali ini, dan demi apapun Justin kesal luar biasa.
"Ada tamu, coba cek dulu."
"Ck, biarkan saja aku tidak ingin diganggu hari ini," keluh Justin dan memilih mengeratkan pelukannya.
"Ayolah, siapa tahu penting," pinta Agny yang membuat Justin terpaksa melangkah semalas itu dan pikiran kacau ingin sekali menghajar tamu tak diundang itu.
__ADS_1
"Memang dasar tidak punya etika, siap_" Mata Justin berkerut kala melihat siapa yang sedang berada di depan pintunya.
"Kau mau apa lagi? Ketinggalan pukulanku atau apa?" tanya Justin masih dengan emosi diubun-ubun dan menatap Keny dengan gelas di tangan kanannya.
"Mau kembalikan ini sama ambil kontak mobil ... hehe lupa, Just aku bisa diamuk Evan kalau pulang naik taksi," ucap Keny menampilkan giginya dan demi appaun Jutsin ingin seali melempar Keny dari lantai 25, tidak hanya itu dia menerobos masuk tanpa izin dan meraih benda mungil itu. Tidak lupa dia meletakkan gelas yang sempat dia bawa lari hingga lantai dasar dengan perasaan was-was Justin hajar dari belakang.
"Dah aku pergi, gelasnya sud_"
"Hm, pergilah besok-besok tidak perlu datang lagi."
Mulai hari ini Justin tidak butuh Keny hadir sebagai supir ataupun penyelamatnya. Kehadiran pria itu hanya membuat dia jadi semakin pemarah, walau ada istrinya tetap saja emosi Justin naik seketika jika lawannya adalah Keny.
"Jangan suka marah-marah, nanti cepat tua." Suara halus penuh kedamaian itu terdengar hingga membuat Justin menoleh, emosinya memang sontak menurun ketika istrinya angkat bicara.
"Sesekali, dia memang pantas diamuk massa." Agny tidak tahu saja betapa sebalnya Justin menghadapi Keny saat ini, dia ingin marah dan berontak dalam satu waktu. Andai saja tidak ada Agny, mungkin bisa jadi Keny terkulai lemas Justin pukul menggunakan gelas beberapa saat lalu.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -
Yuhuu, maaf upnya telat ... besok senin siapin Vote buat Bang Justeeeeen.