
Tekat Justin sudah bulat, kemarin-kemarin mungkin dia gagal karena memang niat untuk membuat Agny hamil itu tidak pernah ada. Malam ini, untuk kali pertama tujuannya menyentuh Agny benar-benar jelas. Dia melangkah gontai karena memang kepalanya masih terasa sakit, Justin mendorong pintu dengan cukup kuat karena jiwanya seakan memburu.
Justin melangkah panjang seraya melepas jaket kemudian melemparnya asal. Ya, itu sudah biasa Justin lakukan dan dia tidak merasa hal ini sebagai suatu yang salah. Padahal baru tadi sore Agny mempermasalahkan kebiasaan dia yang kerap melemparkan pakaiannya asal-asalan.
Pria itu mengira jika Agny berada di dalam kamar, akan tetapi nasibnya maju selangkah lebih baik karena kini Justin menyaksikan Agny begitu lelap di sofa dengan pakaian yang sedikit naik hingga pahanya sedikit terbuka.
Justin menatapnya penuh damba, memang ini yang dia cari. Tanpa pikir panjang Justin melepas pakaiannya kemudian membuat Agny terkesiap karena pria itu mengecupnya sedikit kasar walau tidak berniat menyakiti.
"Hhmmmp? Ma-mau apa?" tanya Agny takut karena ini adalah kali pertama Justin terlihat berbeda.
"Jangan menolakku ... kamu tahu?Tidak sembarang wanita bisa berada di posisimu," bisiknya kemudian seraya kembali mengecup leher Agny hingga wanita itu mendongak dan Justin kian bebas berkuasa atas tubuhnya.
Sadar jika Justin berada dalam pengaruh alkohol, Agny mencoba membuat Justin sadar dengan menepuk-nepuk wajahnya beberapa kali. Akan tetapi tampaknya pria itu sama sekali tidak peduli dan tetap memaksa hingga pada akhirnya Agny pasrah kala miliknya kembali dibuat sesak dalam satu hentakan kasar Justin.
"Sakit," desisnya kemudian menitikkan air mata karena memang Justin tidak memberikan pemanasan lebih dulu dan hanya peduli tentang dirinya saja.
"Hm? Bukannya suka?" tanya Justin tersenyum tipis dan sama sekali tidak ada yang lucu bagi Agny, ini adalah kali pertama Justin seakan tidak berhati dan melakukannya tanpa sedikitpun kasihan meski Agny sudah menangis.
Pria itu tidak seperti biasanya, Agny paham dan bisa membedakan sentuhan dengan penuh kasih sayang atau disertai kemarahan. Malam ini, Justin memang marah dan terbukti dia bahkan tidak peduli ketika Agny meminta ampun akan tetapi tetap melakukannya secara bertubi.
Tidak ada kenikmatan seperti yang sudah-sudah, yang ada hanya perih dan sakit karena memang Justin melakukannya dengan amarah. Agny meringis kala Justin mengerang pada akhirnya, kecupan di pundak Agny masih terasa hangat walau dia dipenuhi amarah.
Anehnya, meski Justin sekasar itu dia tidak marah dan justru menggenggam tangan Justin yang sebelumnya sempat membuat dua gundukkan sintalnya terasa sakit. Justin melepaskan tubuh Agny kemudian dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan lengan yang kini jadi penutup matanya.
Sementara Agny yang seakan habis manis sepah dibuang hanya bisa berdecak sebal kemudian meraih ikat rambut yang tadinya sempat Justin buka seenaknya. Secepat mungkin dia memunguti pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi meski miliknya Justin buat ngilu beberapa saat lalu.
Sepeninggal Agny membersihkan diri, Justin yang sadar jika tubuhnya sepolos itu merasakan dingin yang tiba-tiba menusuk kulitnya. Akan tetapi hendak bangun dia malas dan hanya mengandalkan kepedulian Agny yang tidak akan mungkin membuat dia tidur dengan keadaan polos persis anak tuyul begitu.
__ADS_1
"Ck, dia sengaja atau bagaimana?"
Faktanya benar, Agny tidak membiarkannya tidur persis anak tuyul. Wanita itu keluar kamar dan mengambilkan piyama untuk Justin malam ini, tidak hanya itu meski dia sempat marah akan perlakuan Justin malam ini Agny masih sebaik itu menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Justin.
"Calmdown, Agny ... biasa saja, dan dari kemarin-kemarin kamu sudah terbiasa melihatnya," ucap Agny pada dirinya sendiri karena memang selalu bergetar setiap melihat senjata tempur Justin meski dalam keadaan tidur begitu.
Tidak ingin berlama-lama, Agny hanya mengelapnya sekilas dan dia berharap Justin tidak akan sadar dengan tindakannya. Itu adalah bagian terakhir yang dia bersihkan dan butuh mental luar biasa kuat untuk bisa melakukannya karena jujur saja melihatnya saja Agny malu sendiri.
Tubuh Justin yang tinggi jelas saja membuat Agny sulit ketika memakaikan pakaian dallamnya. Ini adalah fakta dan Justin bukan lagi balita melainkan lebih dari dewasa, pengalaman Agny mengasuh bayi tampaknya sedikit berguna meski resiko saat ini lebih gila.
Selesai dengan pakaiannya, Agny memberikan selimut untuknya karena bisa dipastikan Justin akan kedinginan nantinya. Baru saja hendak pamit, secepat itu Justin menarik pergelangan tangannya hingga terjerambab ke tubuh Justin.
"Mau kemana?" tanya Justin dengan suara serak dan bangunnya pria itu membuat Agny ketar-ketir, pikiran Agny sudah melayang jauh dan dia yakin jika Justin sebenarnya sudah bangun sejak tadi.
"Tidur."
"Sofanya kecil, tidak muat kalau kita berdua."
"Ck, muat ... awas dulu."
Secepat itu Justin kemudian berdiri dan merubah sofa yang tadinya memang hanya cukup untuk satu orang menjadi tempat tidur yang cukup nyaman. Melihat Justin yang terlihat baik-baik saja Agny semakin curiga jika Justin tidak tidur sejak tadi.
"Muat, 'kan? Ayo tidur, apa kamu tidak lelah?"
"Hm, iya tidur," ucap Agny kemudian menuruti kemauan Justin untuk diam dalam pelukannya, sesaat kemudian pria itu mengecup kening Agny cukup lama entah apa alasannya.
"Masih sakit?" tanya Justin tiba-tiba sementara Agny hanya menggeleng dan itu adalah jawaban paling khianat yang pernah ada, dia berbohong karena pada faktanya memang masih sakit.
__ADS_1
"Maaf, aku terbawa emosi tadi ... besok-besok tidak lagi," ungkapnya berbalik dan memang tidak terlihat kemarahan sama sekali dalam diri Justin saat ini.
Semakin kesini, dia semakin tidak bisa ditebak.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai-hai, sebelumnya aku minta maaf apabila up kerap sesuka hati. Ya, memang begitu kalau lagi mood sepuluh eps juga bisa sehari. Tapi, aku tu niatnya kadang mau up banyak, tapi ada beberapa hal yang buat niat untuk rajin itu hilang ceunnah.
Terkhusus yang suka komentar "Bisa nggak upnya jangan sekali, kalau bisa langsung banyak." Sebenarnya bisa saja, dan aku sedang berusaha untuk itu. Tapi, selama penulisnya belum bisa kalian saja yang mengalah. (Baca pas malem, karena bisa dipastikan kalau malem minimal dia dua chapter)
Atau yang komen babnya dikit, ga sampe segini segitu. Part yang dibaca ga sampe 5 menit itu, proses pembuatannya lebih dari satu jam😙 Boleh percaya atau enggak tapi memang begitu adanya.
Selagi nunggu eps Justin, mending mampir ke pendahulunya yang sudah tamat jadi nggak nunggu-nunggu lagi ya. Buat yang belom, aku yakin sebagian besar pembaca Bang Justin udah kenalan sama mereka-mereka yang dibawah ini kan ya❤ Dah Babay semua.
__ADS_1