
"Te sate ... bu ibu satteeee!! Woey istri-istri sekalian, satenya sudah matang."
Lihatlah, pekerjaan paling minim, tapi suaranya paling nyaring. Justin menghela napas panjang kala Keny berteriak bahkan bisa terdengar tetangga kiri kanan meski jarak mereka lumayan.
Tidak berselang lama, istri dan anak mereka keluar. Ah menyenangkan sekali, sama sekali tidak pernah mereka duga jika berandalan seperti mereka akan merasakan kehidupan sempurna.
Dalam sekejab, ketiga bidadari pemilik hati tiga pria tampan itu berlarian ke halaman belakang. Sengaja Justin mengadakannya di sana karena memang lebih nyaman saja. Anggap piknik sekeluarga, mereka belum pernah liburan bersama-sama, maka tidak salah jika kali ini mereka membangun kedekatan yang lebih mendalam lagi.
"Mama Via mau!!"
Renaga cepat-cepat mengambilkan setusuk sate untuk Zavia, pemandangan manis yang membuat kepala Keny berasap. Hal itu tentu saja terlihat jelas oleh Giska, sontak putri Keny yang luar biasa baperan itu menangis akibat diperlakukan berbeda.
"Maacih Kak Aga," ucap Zavia menampilkan gigi rapihnya, Khayla tersenyum simpul lantaran merasa putrinya centil sekali, entah menurun dari siapa sifatnya ini.
"Aga and his future ... Giska jangan cemburu ya, Om Evan punya adik kembar, dia cowok ganteng-ganteng lagi," ujar Keyvan membanggakan kedua adik iparnya yang sebentar lagi akan tumbuh sebagai pria tampan rupawan.
"Kau menjual putriku?"
"Ck, sejak kapan aku jadi mucikari gila ... ah menyebalkan sekali kau ini, sudah kita makan saja."
Justin tidak ingin ikut campur, dia memilih untuk fokus dengan sang istri. Pria itu tersenyum dengan menyiapkan segala sesuatu untuk istrinya. "Bagaimana? Enak, 'kan?" tanya Justin berharap sekali sang istri mengiyakan pertanyaannya.
Agny mengangguk, hausnya seakan benar-benar reda. Untuk kali ini dia tidak berbohong dan benar-benar menginginkan sate madura yang diperjuangkan oleh Justin sedari kambing-kambingnya. Kehadiran Seno sebagai penjual asli juga membuat suasana kian menghangat saja.
"Capek ya?" tanya Agny menatap wajah lelah Justin, entah bagaimana bisa wajahnya ikut hitam begitu, pikirnya.
"Tidak, aku senang melakukannya ... selagi kamu bahagia," bisik Justin pelan, ingin sekali dia mencuri kecupan di bibir basah sang istri. Sayangnya, saat ini mereka sedang duduk di luar dan tidak mungkin melakukan hal semacam itu secara terang-terangan.
"Terima kasih, kamu berjuang banyak hari ini," ucap Agny sama pelannya lantaran menjaga diri dari pendengaran Sonya.
"Tapi ini tidak gratis ya." Mata Justin berkedip nakal dengan senyum yang sudah tertebak apa maunya.
.
__ADS_1
.
"Ehm, ternyata kambing berzodiak Leo memang lebih empuk ... apa mungkin karena lahir pas bulan kemerdekaan ya, Pak?"
Jika ada yang membuat selera makan orang berhenti, itu adalah Keny. Bahkan, Seno yang sudah lama bergelut dengan dunia perkambingan dibuat melongo dengan pertanyaan Keny. Dia bingung hendak menjawab apa karena memang sedikit konyol dan baru kali ini dia mengetahui bulan kelahiran kambing menentukan kualitas dagingnya.
"Jangan dengarkan, Pak ... teman saya memang agak kurang, maklum sewaktu kecil tidak imunisasi."
"Justin!!" sentak Keny melemparkan pisang hingga mengenai wajahnya, melihat hal itu sontak Renaga bangkit dan mengangkat pisang satu sisir kemudian dia lemparkan ke pangkuan Keny.
"Aaaarrrggghhh, Aga ... Papa mau mati rasanya." Keny memelas seakan meminta iba pada calon menantu di masa depannya ini.
"Jangan lempar-lempar Banana ke muka, Daddy!! Aga tonjok nih."
Renaga sudah mengangkat tangannya, menyiapkan pukulan untuk menghantam kepala Keny. Namun, secepat mungkin Justin mengalanginya. Yah, walau dia kesal pada Keny tetap saja tidak akan dia biarkan tangan Renaga seringan ini memukul siapapun yang dia hadapi.
"Jangan, Sayang ... nanti kualat, Uncle Ken sudah tua."
"Papa dong, Justin."
.
.
Setelah usai pesta kecil-kecilan itu, Justin dan Agny menghabiskan waktu berdua untuk menikmati senja di balkon kamarnya. Bahagia sekali Agny hari ini, hidupnya terasa ramai dengan kehadiran Khayla dan juga Sonya.
"Sayang, aku bau asap tidak?" tanya Justin kemudian lantaran masih trauma dianggap bau ikan asin kala itu.
"Tidak, kamu wangi," jawab Agny serius karena memang Justin selalu menjaga badannya, entah apa yang menjadi alasan pria itu melakukannya. Hingga saat ini, Agny sama sekali tidak mengerti.
Berdua, bersama saling memiliki seutuhnya begini adalah impian Justin. Dia memeluk sang istri erat-erat hingga pria itu melonggarkannya kala Agny mengutarakan satu hal.
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Tante Maria menghubungiku, katanya rumah disita, dan Om Sigit ditahan dan terancam hukuman mati," jelas Agny mengulangi kalimat yang tadinya tidak Justin dengar.
"Baguslah, cepat juga ternyata," ungkap Justin tersenyum dengan mata yang terlihat dia lebih tenang.
"Maksudnya?"
Agny heran, kenapa suaminya seakan bahagia dengan berita duka ini. Justin tidak pernah membahas apa-apa selama ini, akan tetapi ketika Agny mengatakannya pria itu seolah sudah menduganya.
"Haha aku bahagia."
"Bahagia kenapa? Bukankah tidak boleh bahagia di saat orang menderita?"
"Orang seperti dia pantas mendapatkannya. Kejahatannya sudah tidak pantas disebut manusia. Menjual keponakannya sendiri, merekayasa hutang saudaranya dan menjadi sebab utama kematian orang tuamu. Pantas dimaafkan?"
Mata Agny memanas seketika, jiwanya mendadak lemah dan memori masa lalu tiba-tiba berputar jelas di kepalanya. Justin paham reaksi sang istri akan begini, oleh karena itu dia memilih diam selama melakukan usaha agar bisa menyeret Sigit atas semua yang dia lakukan.
"Penyebab kematian Papa?"
Agny yang tadi bahagia sontak menangis sejadi-jadinya. Kenapa dia tidak mengetahui sejak awal, sungguh sakit bertubi Agny rasakan saat ini.
"Menangislah untuk saat ini, tapi tenang saja ... secepat mungkin dia akan mendapat balasannya, atau jika kamu mau ... aku sendiri yang akan menghabisinya di hadapanmu, Agny."
Berbulan-bulan, Justin tampak seakan tutup mata. Tanpa Agny ketahui, waktu istirahat dan kesendirian sang suami dia manfaatkan untuk mencari tahu banyak hal tentang Sigit.
Justin bukan pria bodoh, sejak awal dia merasakan kejanggalan dengan kejadian yang menimpa istrinya. Setega itu sosok bernama manusia, bahkan lebih hina dari iblis. Tanpa koar-koar, dia juga tidak mengatakan hal ini pada Keyvan maupun Keny. Dalam melumpuhkan Sigit, murni usahanya sendiri untuk membuat sang istri aman.
Setelah Arga, lalu Sigit yang Justin basmi. Meski dia sudah berjanji untuk menjaga kesucian jemarinya tetap saja sebuah dendam harus terbalaskan. Membunuh seseorang tidak perlu dengan jarak dekat, cukup otak yang berpikir.
Kau tidak boleh mati cepat, Sigit ... terlalu mudah nantinya.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -